
Aku dan eyang berjalan beriringan menuju pasar. Tak ada yang berubah. Semua masih sama seperti saat aku kecil dulu. Tak terasa sudah hampir lima tahun aku tak menginjakkan kaki di pasar ini. Rasanya sudah tak sabar ingin menikmati lupis dengan gula Jawa dan getuk lindri kesukaanku.
Memasuki area pasar, seperti biasa, banyak yang mengenali eyang karena di kampung ini keluarga eyang memang cukup terkenal. Dahulu, sebelum meninggal, eyang Kakung merupakan seorang kepala desa yang terpandang. Keluarga eyang juga sangat berkecukupan, namun begitu eyang Kakung meninggal, harta itu habis perlahan dipakai oleh Pak De untuk kebutuhan keluarganya.
Saat itu, ayah yang juga memiliki hak sama atas kekayaan orang tuanya tak menuntut banyak. Hanya meminta agar pak De tidak mengusik rumah yang ditempati eyang putri dan beberapa petak sawah untuk biaya hidup eyang.
"Eh eyang, mau belanja ya." ibu-ibu penjual sayur matang memanggil eyang. "Ini cucunya eyang, kan? Namanya Ayu, kan?"
"Iya. Ini Ayu. Yang dulu sering eyang bawa ke pasar waktu dua kecil." Jawab eyang.
"Yang sedang viral itu kan eyang?" sambungnya lagi.
Senyum di wajah eyang langsung hilang. Begitu juga denganku. Rasanya duniaku langsung gelap. Rupanya ia tahu kejadian yang menimpaku sehingga membuatku jadi malu. Aku merasa sangat tidak nyaman.
"Bagaimana jadinya? Benar cucu eyang di ...., Maaf eyang, apa itu benar, Ayu dilecehkan?" tanyanya dengan wajah penasaran.
"Kami mau Belanja dulu ya. Permisi." jawab eyang dengan tenang. Lalu eyang membimbing tanganku agar menjauh. "Tidak usah diambil hati, Yu. Orang-orang seperti itu cuma mau tahu saja. Tanpa peduli perasaan kita. Nggak etis sekali bertanya seperti itu." Eyang mengomel.
Kami berjalan cepat menuju penjual ayam, membeli sayuran dan bumbu-bumbu yang dibutuhkan eyang. Lalu berlalu cepat tanpa mampir lagi ke penjual makanan kecil yang sebelumnya ingin aku jual.
Rasanya sudah tak punya selera lagi untuk makan cemilan apapun. Aku begitu malu. Rasanya ingin lari saja, bersembunyi agar tak ada seorangpun yang bisa melihatku.
Tadi, waktu berjalan dari satu penjual ke penjual lainnya, aku merasa seperti sedang diinterogasi. Semua menatapku dengan tatapan tidak enak. Mereka seperti mempertanyakan apa yang terjadi padaku.
Harusnya aku tidak ikut saja! Aku membatin. Bertemu orang-orang saat ini bukanlah pilihan yang baik untukku. Air mataku langsung tumpah. Kalau tak ingat bertambah malu, mungkin aku sudah jatuh terjerembab di sana. Kaki benar-benar lemas dilihat dengan tatapan seperti itu.
"Yu, jangan dimasukkan hati ya nduk. Ini salah eyang, harusnya eyang tidak mengajak kamu ke pasar." Eyang memelukku erat saat kami sudah berada di kamar. Tidak apa-apa. Nanti keadilan itu akan kita dapatkan. Semua akan kembali seperti semula."
Entahlah. Bahkan, untuk berharap semua akan kembali seperti semula saja bagiku terasa mustahil. Aku takut itu hanya akan jadi harapan kosong karena rasanya tak mungkin. Aku sudah tidak suci lagi, aku sudah ternoda, kotor.
"Eyang, Ayu mau mandi dulu ya." Kataku, sambil berlalu meninggalkan eyang.
Satu, dua, tiga gayung air membasahi kepalaku. Dingin sekali. Tak berhenti di situ, aku kembali membasahi seluruh tubuh berkali-kali, berharap agar noda itu bisa hilang, tapi tetap saja melekat kuat.
"Kotor ... kotor ... kotor!" aku berteriak sembari memukuli seluruh tubuhku hingga lelah, lalu kembali jatuh ke lantai kamar mandi.
***
__ADS_1
Pak De, Bu De dan Arum baru saja datang, mereka hanya bertiga tanpa mas Tio. Aku belum berniat menemui mereka. Pintu kamar masih ku kunci rapat-rapat. Masih belum siap untuk bersikap pura-pura biasa setelah apa yang terjadi.
"Yu ... Ayu. Keluar nduk, ini lho; Pak De, Bu De dan Arum sudah datang." Kata eyang dari luar. Karena belum keluar juga, akhirnya eyang mengetuk pintu kamar.
Tak ada pilihan lain, terpaksa aku menemui mereka. Tanpa basa-basi, hanya salaman, lalu kembali masuk ke kamar.
"Hai Yu, apa kabar? Sehat tho kamu. Jadinya diterima dimana?" Arum rupanya mengikuti aku. Sebenarnya aku sedang malas berbincang, tapi tak enak juga nyuekin sepupuku itu, apalagi ia sudah terlanjur masuk kamar. Katanya kamu diterima di kedokteran UI, tho?" ia belum menyerah.
"Gak kok." jawabku, singkat.
"Moso? Di sekolahku saja beritanya sudah kemana-mana, kok."
"Oh,"
"Yu, kamu nggak balik?"
"Nggak. Aku nginap sini."
"Nggak ngasih semangat ke mbak Tika?"
"Semangat apa?"
"Hah, masa?" aku langsung bangkit dari tempat tidur.
"Hooh. Hoalah, berarti kamu belum tahu, ya?"
"Da ... dari mana kamu tahu? Apa yang terjadi? Ceritakan sama aku, Rum!"
"Keluarga mas Tio membatalkan rencana pernikahan karena ...."
"Karena apa?"
"Tapi kamu jangan tersinggung ya."
"Iya. Cepat cerita karena apa?"
"Itu ... Keluarga mas Tio keberatan sama kejadian yang menimpa kamu."
__ADS_1
"Maksudnya?"
"Ya mereka keberatan menikah dengan perempuan yang adiknya diperko**"
"Astaghfirullah," aku mendadak lemas, untung saja badanku jatuh ke tempat tidur.
"Lho Yu, kamu kenapa? Jangan pingsan tho. Nanti kalau eyang tahu aku yang ngasih tahu, eyang bisa marah Yu sama aku. Padahal kan kamu yang maksa aku untuk cerita."
"Ya Allah mbak Tika," aku langsung menangis, membayangkan bagaimana perasaan mbak Tika saat ini. Ia yang begitu ceria saat dilamar mas Tio, temannya yang sama-sama bekerja di pabrik. Tapi ternyata pernikahan itu harus gagal dan yang membuatku terpukul, akulah penyebab kegagalan itu. Berdosanya aku sudah menjadi penyebab kegagalan kakakku menikah. Selama ini mbak Tika sudah banyak berkorban untukku, rasanya aku tak tega jika ia harus berkorban lagi.
"Yu, jangan nangis dong. Nanti kalau eyang dengar, aku bisa dimarahi."
"Aku harus bagaimana?"
"Duh, aku nggak tahu Yu."
"Rum, kamu bisa naik motor tho? Tolong antarkan aku ya."
"Kemana Yu?"
"Ke rumahnya mas Tio."
"Hah, ngapain Yu?"
"Aku harus bicara pada mereka semua, terutama pada mas Tio dan keluarganya. Mbak Tika nggak salah apa-apa, ia tak pantas mendapatkan semua ini. Mbak Tika harus mendapatkan kebahagiaannya."
"Duh, jangan nekat deh Yu. Rencana pernikahan sudah dibatalkan, bahkan cincin lamaran dan hadiah juga sudah diminta kembali. Nggak mungkin rasanya semua akan kembali seperti semula."
"Aku nggak peduli. Yang penting aku harus ketemu mereka. Tolong Rum, bantu aku, pertemukan aku dengan mereka."
"Duh, kamu itu ya." Arum tampak berpikir. Akhirnya ia mengiyakan permintaanku. Kami sudah sama-sama sepakat tidak akan memberitahu siapapun tentang rencana ku tersebut.
***
"Boleh ya Eyang. Ayu benar-benar pengen jalan-jalan keluar sebentar untuk mencari udara segar." Kataku.
"Mau kemana lagi, Yu? Sudahlah. Diam di rumah saja. Nanti kalau ada yang ngomong aneh-aneh kamu sakit hati." cetus Pak De.
__ADS_1
"InshaAllah nggak akan apa-apa, Pak De. Toh Ayu perginya dengan Arum." Pintaku lagi.