
Aku mengintip dari balik tirai kamar, tampak ayah tengah duduk sendiri di meja makan sambil melamun. Tak ada siapa-siapa yang menemani Ayah karena mas Yuda tengah pergi bersama mbak Yuni. Ayah yang menyuruh agar mereka bisa berdamai. Sementara mbak Tika harus ke pasar untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari kami.
Pelan aku melangkah mendekati ayah. Benar saja, ayah tengah melamun karena sudah dua kali ku panggil, tetapi ayah tak juga menyahut, padahal kami hanya berjarak beberapa meter.
"Yah," ketiga kalinya, aku mengguncang pelan lengan ayah.
"Eh, Yu. Ada apa, nak?" tanya ayah.
"Ayah sedang ngelamunin apa?"
"Ayah nggak ngelamun."
"Yah, Ayu tahu. Ayah pasti pusing mikirin Ayu, kan?"
"Kata siapa? Ayah hanya ..."
Ayah menggantung ucapannya. Wajahnya masih menunjukkan kegusaran. Aku jadi menyesal sudah menjadi penyebab semuanya.
"Maafin Ayu, Yah." Aku menunduk. Menyesal tak bisa melakukan apapun karena untuk bertemu orang lain saja saat ini rasanya masih sangat takut.
"Maaf untuk apa? Ayu kan nggak salah apa-apa, nak. Oh ya, bagaimana dengan rencana kuliah kamu, nak?" Ayah mengalihkan pembicaraan.
"Yah ...." kini aku yang tak sanggup berkata-kata. Setelah semua ini terjadi, apakah masih ada kesempatan untuk aku melanjutkan kehidupan ini menggapai apa yang jadi cita-cita ku? Rasanya semuanya sudah hancur, masa depanku sudah hilang. Kini yang ada hanyalah aib yang harus aku tanggung seumur hidup.
"Nak, apapun yang terjadi, Ayah mau kamu tidak mudah menyerah. Kita hadapi semuanya bersama-sama ya. Ingat, ada ayah, mas Yuda, mbak Tika yang akan selalu mendukung kamu, juga Allah, nak. Dia tak akan meninggalkan kita walau hanya sekejap mata."
__ADS_1
Aku tak sanggup menahan air mata ini setelah sesak usai berbincang dengan ayah. Benarkah masih ada kesempatan untukku? Keluar rumah saja rasanya aku tak sanggup, aku tak punya muka untuk menghadapi siapapun. Aku selalu merasa semua orang tengah membicarakanku di belakang. Mereka mungkin memikirkan yang bukan-bukan tentangku.
Andai saja ibu masih hidup, mungkin saat ini aku bisa menangis di pelukan ibu agar aku bisa merasakan ketenangan sedikit saja.
***
Sudah diputuskan oleh ayah dan mas Yuda kalau untuk sementara waktu aku akan diungsikan di rumah eyang, ibunya ayah, yang tinggal di kampung sebelah. Sebenarnya aku tak ingin meninggalkan keluarga ini, tetapi saat ini akupun belum siap bertemu dengan siapapun.
Beberapa kali guru dan teman-teman sekolah datang membesuk, semuanya tidak ada yang ku temui, termasuk tiga sahabatku. Aku teramat malu, sudah merasakan begitu kotor dan tak pantas untuk berbicara dengan mereka lagi.
Setelah kasus yang menimpaku di viralkan oleh mbak Tika, setiap harinya, ada banyak media yang datang ke rumah untuk mencari informasi. Begitu juga dengan masyarakat umum yang juga ingin tahu perkembangan kasus ini. Sayangnya, aku tak nyaman menjadi pusat perhatian,.
Pagi ini, dibantu mbak Tika, aku membereskan pakaian. Memasukkan ke dalam tas berukuran menengah. Yang akan mengantar aku ke tempat eyang adalah mas Yuda. Sementara ayah hari ini akan kembali ke kantor polisi untuk mengurus semua berkas yang dibutuhkan agar laporan ini segera naik.
"Yu," tiba-tiba Mbak Yuni masuk ke kamar. "Ini untuk kamu." ia menyerahkan sebuah bungkusan kecil. Rupanya isinya Hp. Meski hanya Hp biasa, tapi cukup berarti untukku karena dengan adanya Hp ini aku bisa tetap berkomunikasi dengan orang-orang di rumah.
Mbak Yuni rupanya menyadari kalau aku tidak enak hati. "Tidak apa, Yu. Ambillah. Hanya itu yang bisa mbak berikan untuk kamu. Anggap saja ini permohonan maaf mbak atas sikap mbak yang kurang baik kepada kamu beberapa hari terakhir. Sebenarnya bukan mbak nggak peduli, Yu. Justru mbak juga sangat kasihan dengan kamu, tapi mbak hanya mencoba berfikir rasional agar kita sekeluarga tak semakin mendapat banyak masalah.
Tapi sudahlah, yang lalu biarlah berlalu. Mulai hari ini sampai kapanpun mbak akan selalu mensupport kamu. Yang penting kamu kuat ya Yu. Ada kamu semua yang selalu mendukung kamu. Kami sayang kamu." Mbak Yuni memelukku erat.
"Terimakasih banyak, mbak. Maafin aku juga." kataku, sembari membalas pelukan mbak Yuni.
***
Biasanya, tiap mau ke rumah eyang, aku selalu senang karena meski jarak rumah kami hanya satu jam-an, tapi kami terhitung jarang mengunjungi ibunya ayah sebab keterbatasan kami. Biasanya yang sering datang adalah ayah atau mas Yuda secara bergantian.
__ADS_1
Tapi kali ini, perjalanan menuju rumah eyang terasa berat karena aku tidak sedang untuk berkunjung melainkan bersembunyi sembari menenangkan diri.
Motor Supra yang dikendarai mas Yuda memasuki kawasan rumah eyang. Aku sudah bisa melihat rumah bangunan lama dengan halaman yang asri dan cukup luas dibandingkan rumah kamu.
Begitu motor berhenti, tak lama keluar seorang perempuan tua yang sudah melahirkan ayah dan pak De Ikang. Ia menyambut kedatangan kami bukan dengan senyuman seperti biasanya, tapi dengan wajah sendu. Begitu aku menghampiri, eyang terlihat gemetaran, memelukku erat tanpa kata-kata.
"Eyang," panggilku.
"Yu, sehat?" tanya eyang. "Ayok masuk. Eyang sudah siapkan singkong rebus dan teh hangat." kata eyang.
Ayah memang sudah mengkomunikasikan semuanya pada eyang sebelum aku datang ke sini. Entah bagaimana tanggapan eyang saat pertama kali tahu, tapi yang jelas saat ini eyang masih terlihat sedih.
"Eyang, Yuda harus kembali sekarang ya karena masih ada kerjaan. Lagipula motornya harus dipakai ayah. Yuda titip Ayu, ya eyang." kata mas Yuda. "Kamu Yu, baik-baik ya dik. Kalau ada apa-apa hubungi kami pakai Hp yang diberikan Yuni. Kami semua sayang sama kamu. Sekarang tenangkan diri di sini dulu ya." mas Yuda menepuk pelan pundak ku.
Sesaat kami saling tatap. Dari kedua matanya bisa kurasakan duka yang sama besarnya. Maafkan aku sudah membuat semuanya bersedih.
***
Sudah larut malam. Tetapi kedua mata ini belum bisa terpejam. Aku masih memikirkan bagaimana hidupku nanti ke depannya. Tak bisa ku bayangkan akhir dari ini semua.
"Lho, belum tidur, Yu?" Eyang masuk ke kamarku.
"Belum ngantuk, Yang." jawabku.
"Jangan dipikirkan. Semua akan baik-baik saja. Ayu, cucu eyang yang baik, pintar, saliha dan cantik. Allah pasti bantu kita. Ayu harus tenang, banyak-banyak berdoa saja."
__ADS_1
"Iya eyang."
Cantik? Tiba-tiba aku merasa risih dengan wajah yang sering dipuji orang-orang cantik. Ini penyebabnya, mas Juan melecehkan aku. Kalau aku tidak cantik, mungkin ia tak akan melakukan itu semua padaku. Harusnya, aku tidak usah cantik saja. Hatiku tiba-tiba berteriak, menyesali kecantikan ini, mengutuknya keras-keras!