Haruskah Kita Menikah?

Haruskah Kita Menikah?
Memulai Hidup Baru


__ADS_3

Malam ini langit benar-benar gelap, tak ada satu bintang pun yang bersinar meski tak ada tanda-tanda akan turun hujan. Sementara itu udara dingin mulai menusuk-nusuk kulit. Membuat langkah ini kian terasa berat, tetapi aku belum berhenti juga sebab tak ada tempat yang menurutku bisa dijadikan sebagai lokasi istirahat. Sementara kaki ini semakin pegal.


Aku ingat betul pesan mbak Tika. Katanya, di Jakarta jangan pergi ke sembarang tempat, apalagi sendiri karena di ibu kota tingkat kejahatan jauh lebih tinggi dibandingkan daerah lain. Dari televisi akupun pernah mendengar hal yang sama.


Masih di jalanan, tiba-tiba aku merasa ada yang mengikuti langkahku. Entah siapa. Ketika aku mempercepat langkah, mereka melakukan hal yang sama. Saat aku melihat ke belakang, mereka pura-pura mengalihkan perhatian. Mereka baru kembali bergerak ketika aku sudah kembali melangkah.


"Ya Tuhan, siapa itu?" aku hanya bisa membatin, berusaha merapalkan doa-doa agar dijauhkan dari gangguan orang-orang yang ingin berbuat jahat kepadaku.


Ada tiga orang yang berada beberapa meter di belakangku. Aku tak terlalu melihat mereka secara jelas karena selain berjarak juga kondisi di sekitar yang lumayan gelap


Karena takut, aku yang semula berjalan cepat kini mulai berlari sembari menggeret koper berisi pakaian. Meski kesusahan, tapi aku terus berlari sambil berdoa, berharap mereka tidak menggangu.


"Ya Allah ... tolonglah hamba. Jangan biarkan mereka mengganggu apalagi menjahati hamba." Rasanya ingin menangis sebab kini aku benar-benar tersudut. Karena tak tahu arah, kini aku malah terjebak di ujung sungai. Aku salah pilih arah. Sudah tak ada jalan lain, semua sudah berakhir. Aku tak mau jadi sasaran kejahatan orang-orang itu, tapi juga tidak ingin melompat ke sungai, itu sama saja bunuh diri, neraka tempatnya. Bagaimanapun juga aku tak akan sanggup.


"Hei, sedang apa di sana? Mau bunuh diri ya?" tiba-tiba seseorang menarik bajuku dari belakang. Ia membawaku menjauh dari bibir sungai. Entah siapa itu, tapi karena suaranya perempuan membuatku sedikit lebih tenang.


Langit yang gelap ditambah penerangan sekitar yang sangat terbatas membuatku tak bisa melihat jelas orang yang berada di hadapanku. Aku hanya bisa mencium aroma menusuk dari dirinya. Sepertinya ia memakai parfum murahan cukup banyak.


"Mau mati ya? Kalau mau bunuh diri jangan di sini. Nyusahin kami saja, belum lagi kalau hantumu gentayangan, bisa angker tempat ini." Ia mendengus kesal. Sekarang kami sudah berada di bawah lampu jalanan, jadi aku bisa melihat wajah perempuan paruh baya dengan polesan menor di hadapanku.


"Ngg ... nggak kok mbak." kataku.


"Mbak .... mbak .... mbak. Jangan sembarang ngomong. Aku ini bukan mbakmu, apalagi pembantu." Ia malah mengomel.

__ADS_1


"Lalu saya harus panggil siapa?"


"Panggil aja aku Rani."


"Ya kak Rani."


"Terus kalau nggak mau bunuh diri, kamu mau ngapain di sini?"


"Itu ... tadi ada yang ngikutin saya. Ada empat orang laki-laki. Karena takut makanya saya lari ke arah sini."


"Ohhh, kamu dikuntit."


"Iya kak, aku tahu mereka ngikutin aku. Makanya aku lari menghindar."


"Iya kak."


"Ya ampun. Anak seperti kamu, kayak anak baik-baik, tapi ternyata banyak tingkah juga ya. Sekarang juga pokoknya kamu harus pulang atau aku akan laporkan kamu ke polisi!"


"Tolong kak jangan lakukan itu. Biarkan saya bebas, kak. Saya juga sudah tidak mungkin kembali ke keluarga saya."


"Halah, ga usah drama. Kamu tahu ga sih, saat ini pasti kedua orang tua kamu sedang kebingungan karena kamu kabur. Jangan nyusahin merekam lagi. Udah, sekarang balik deh, mumpung aku lagi Baek. Kalau aku sudah bosan ngadepin kamu, bisa bisa ...."


"Kak, saya sudah tidak tinggal dengan orang tua saya, kak. Mereka di Jogja. Kalau mereka tahu kehidupan saya yang sekarang tidak bahagia, mereka pasti akan kecewa. Selama ini saya sudah membebani mereka, jadi tolong biarkan saya bebas kak. Saya janji ga akan bunuh diri. Saya akan berusaha memperbaiki kehidupan saya. Lagipula saya tahu kalau bunuh diri itu adalah perbuatan yang paling dibenci Allah. Saya nggak akan melakukannya, kak."

__ADS_1


"Kamu minta aku melepaskan kamu? Ehh nggak nggak nggak. Pokoknya nggak bisa. Kalau ternyata kamu melakukan sesuatu hal yang terlarang dan sudah ada yang melihat kamu bersama aku, pasti aku bisa kena imbasnya juga. Jadi sekarang lebih baik aku bawa kamu ke kantor polisi. Kamu mau pulang atau nggak silahkan. Yang penting aku nggak dapat masalah nantinya. Hidupku sudah sangat susah, aku nggak mau dibuat semakin susah!"


"Kak ... Saya mohon, biarkan saya sendiri kak. Toh nggak akan ada yang mencari saya."


"Lha?"


"Apakah yang bisa diharapkan oleh seorang perempuan yang sudah dinikahi karena uang? Mau kembali ke keluarga, mereka sudah terlanjur mengira saya hidup bahagian. Kembali kepada suami yang tak menginginkan istrinya sama saja membiarkan diri sendiri terpenjara."


"Kamu nikah karena uang? Duh, ini bagaimana sih ceritanya." perempuan itu menggaruk kepalanya. "Udah deh, begini saja, kamu ikut aku saja dulu. Setidaknya untuk malam ini. Kamu tinggal sama aku, kalau salam beberapa hari suami kamu nggak menjemput dan cerita kamu benar, maka aku nggak akan nahan kamu lagi. Tapi kalau kamu bohong, habis ya kamu sama aku!"


"Iya kak. Saya nggak bohong kok."


Malam itu, akhirnya kak Rani membawaku ke rumahnya. Sebuah rumah petak di pinggiran kota Jakarta. Di daerah kumuh yang benar-benar berbeda dengan kondisi rumah mas Bagas. Di sinilah aku memulai kembali hidupku.


Di rumah itu ternyata tak hanya kak Rani yang tinggal, tapi ada seorang balita berusia sekitar lima tahunan. Anak cantik yang meski kondisinya seperti tak terurus namun mampu memikat hatiku. Namanya Cici. Anak itu anak kak Rani, jangan ditanya siapa ayahnya sebab perempuan itu tak pernah tahu atau memang tak ingin tahu.


Pekerjaannya sebagai perempuan malam, yang sempat membuatku kaget, yang menyebabkannya bisa memiliki anak tanpa ayah. Meski begitu kak Rani terlihat sangat menyayangi putrinya. Jiwa keibuannya langsung keluar, meski sebelumnya ia bersikap begitu kasar dan tegas padaku dan beberapa orang yang kami temui tadi.


Aku sendiri tak terlalu takut meski kak Rani bukan perempuan baik-baik. Hatiku mengatakan bahwa ia tak akan melakukan hal-hal jahat padaku. Buktinya dengan ia yang tak mau aku bunuh diri meski prasangkanya tidak lah benar.


"Kamu boleh tinggal di sini untuk sementara waktu. Tapi ingat, tinggal di sini nggak gratis. Ini ibu kota, bukan panti sosial yang menampung orang-orang yang kabur dari rumah. Kalau kamu mau di sini, kamu harus bantu aku mengerjakan pekerjaan rumah dan ngurus Cici. Ingat itu!" kata kak Rani.


"Ya kak, nggak masalah.* aku mengangguk. Meski kenyataannya semua pekerjaan itu diserahkan padaku.

__ADS_1


__ADS_2