Haruskah Kita Menikah?

Haruskah Kita Menikah?
Penyelamat Kak Rani


__ADS_3

Sebelum azan Subuh berkumandang, aku sudah bangun. Membereskan rumah kak Rani, lalu mencuci pakaian yang menumpuk tinggi nyaris menyentuh platform yang memang tak terlalu tinggi. Sekarang aku tahu dari mana sumber bau tak sedap yang tercium saat pertama masuk ke rumah ini, ternyata dari tumpukan kain yang ku perkirakan sudah lama tidak dicuci, karena sebagian pakaian sudah menghitam ditumbuhi jamur bahkan sampai lapuk.


Butuh banyak tenaga untuk menghabiskan semua cucian ini. Kalau saja tak ingat bahwa aku menumpang di sini, mungkin aku tak akan sanggup menyelesaikan semuanya sebab rasanya badanku benar-benar lelah. Tetapi setidaknya aku bersyukur sebab kini tumpukan kain kotor itu telah berganti jadi tumpukan kain yang harus segera dijemur.


"Kamu sudah bangun?" tiba-tiba kak Rani sudah berdiri di hadapanku.


"Eh, iya kak. Alhamdulillah sudah semuanya selesai. Sekarang tinggal masak saja. Tapi dari tadi saya cari-cari, beras sama sayurnya ada dimana ya, kak?" tanyaku.


"Oh itu ... belum datang." Kak Rani nyengir. "Pagi ini makan roti itu dulu saja. Nanti biasanya agak siangan ada yang nganterin sembako sama nasi bungkus."


"Roti ini?" Aku menunjuk dua roti tawar kosong dengan label harga seribu rupiah. Tahun sekarang roti seharga itu pastilah rasanya tak terlalu enak, seperti penampakannya. Aku yakin sepertinya kak Rani sedang mengalami masalah keuangan. "Terus, untuk kakak apa?" tanyaku lagi.


"Udah, aku mah makan nggak makan nggak masalah. Yang penting kalian makan saja dulu. Nanti di luar pasti banyak yang ngajak makan."


"Kak ..."


"Apalagi? Udah deh jangan banyak cincong. Sekarang bangunin Cici, suruh mandi terus sarapan. Aku mau pergi dulu nyari duit. Ingat ya, kamu jangan kemana-mana, jangan membuat ulah juga. Kalau ada apa-apa, aku nggak akan izinin lagi kamu tinggal di sini. Bahkan aku akan anterin kamu ke kantor polisi!" Ancam kak Rani, lalu ia melenggang meninggalkan aku sendirian di salah satu ruangan rumah sederhana ini.


Untuk sesaat aku hanya memperhatikannya berlalu keluar rumah. Barulah setelah ia tak tampak lagi, aku bergegas menuju satu-satunya kamar di rumah ini untuk membangunkan Cici. Anak itu ternyata tak terlalu sulit untuk membangunkannya, begitu ku panggil, ia langsung menggeliat.


"Kakak masih di sini?" Tanyanya, sambil mengerjap-ngerjapkan mata.


"Iya dong. Kan semalam sudah kakak katakan kalau kakak akan tinggal di sini untuk sementara waktu." jawabku, sambil tersenyum padanya. "Cici nggak keberatan, kan, kalau Kakak numpang di rumah Cici?"


"Wahhh senangnya. Sekarang Cici nggak akan sendirian lagi di rumah. Tentu saja tidak keberatan, dengan senang hati kak!" Ia balas tersenyum sehingga gigi-giginya yang sudah keripis terlihat jelas.

__ADS_1


"Diiih, gigi Cici keripis semua. Pasti malas gosok gigi, ya?"


"Sama malas mandi juga!" celetuknya, dengan bangga.


"Astagfirullah, nggak boleh begitu. Anak cantik harus rajin bersih-bersih. Apalagi kebersihan diri sendiri."


"Tapi ibu nggak ngajarin. Yang penting nggak kelaparan." ia kembali nyengir.


"Ya sudah, nanti kakak yang ngajarin kamu." Aku menuntunnya ke kamar mandi, usai mengajarinya mandi, aku mulai menyiapkan pakaian gantinya dan lagi-lagi aku harus mengalami kesulitan karena mencari pakaian bersih di rumah ini seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Saking berantakannya.


"Pakai baju yang ini lagi aja, kak " Ujar Cici sembari mengambil kembali pakaian sebelumnya.


"Ya udah." kataku. Sembari membantunya berpakaian. "Memang ibu nggak ngajarin Cici mandi sendiri?" tanyaku.


Cici menggeleng. "Ibu itu jarang di rumah. Perginya pagi, pulangnya malam banget. Kadang pulangnya subuh. Sesekali di rumah kalau ada razia."


"Iya. Itu lho kak yang ada mobil ninu ninunya. Tapi ibu nggak bakal ditangkap karena ibu pintar."


"Lho, Cici nggak takut tinggal sendiri?"


"Kemarin kemarin kan ada temannya. Namanya Tante Rina. Tapi sudah sepekan nggak ke sini lagi.. terakhir ke sini berantem sama ibu."


"Oh begitu."


Aku menatap iba Cici. Gadis sekecil ini harus merasakan hidup yang tidak nyaman. Ia terlahir dari perempuan malam, semnetara ayanya dirahasiakan oleh ibunya. Cici harus ikut tinggal di perkampungan kumuh ini karena ketidak mampuan ibunya.

__ADS_1


"Cici nggak sekolah?" tanyaku.


Ia menggelengkan kepalanya.


"Mau sekolah?"


"Mau, tapi kata ibu di sekolah banyak orang jahat, jadinya Cici nggak mau sekolah saja. Cici mau di rumah saja nungguin ibu pulang."


"Siapa bilang di sekolah banyak orang jahat? Justru kalau Cici nggak sekolah, nanti Cici nggak pintar, dengan mudahnya bisa dijahati orang lain."


Entah mengerti atau tidak, anak itu hanya mengangguk-angguk. Aku semakin iba padanya. Usianya masih sangat muda, tetapi terlalu banyak ujian yang didapatnya. Meski begitu, anak ini berusaha untuk menerima semuanya. Salah satunya dengan tetap tenang menanti di rumah gubuk mereka sendiri saat ibunya melanglang buana mencari rezeki.


***


Sudah pukul sepuluh pagi. Beberapa kali aku menekan perut yang keroncongan karena menahan lapar. Sepotong roti kosong yang aku dan Cici makan tadi pagi tak cukup untuk menahan rasa lapar. Apalagi dalam kondisi hamil seperti saat ini. Tetapi aku tak enak hati menanyakan makanan pada kak Rani yang ku tahu belum memakan apapun dari pagi. Ia memang sudah kembali, tetapi tidak membawa apa-apa. Kini kak Rani terlihat gelisah, sesekali ia mengintip dari jendela yang terbuat dari triplek.


Usai mengintip, ia hendak berlalu. Tetapi pintu rumah diketuk. Wajah kak Rani yang semula kusut berubah berseri. Ia segera berlari kecil menuju pintu, begitu juga dengan Cici, ia tak kalah semangat dari ibunya. Sepertinya orang yang datang ini amat berarti untuknya.


Entah siapa orang yang kini berada di depan pintu yang sedikit terbuka itu. Tapi aku bisa mendengar percakapan mereka. Suara laki-laki, sepertinya ia menyerahkan bingkisan. Anehnya, aku merasa tak asing dengan suara itu. Tetapi ku abaikan sebab tak mungkin aku mengenalnya karena ini Jakarta. Tak banyak lelaki yang ku tahu berada di ibu kota ini, hanya mas Bagas dan si bre***** Juan.


"Masuklah sebentar, sudah lama kan tidak bermain dengan Cici!" Ajak kak Rani.


Tetapi lelaki itu melakukan penolakan. Ia mengatakan buru-buru karena harus membagikan beberapa bingkisan pada yang lain.


Sama seperti ibunya, Cici pun mengajak lelaki itu masuk. Ia bahkan memanggilku untuk bertemu dengan tamunya. Terapi aku masih berdiri mematung, antara mau maju atau tetap di tempat.

__ADS_1


"Lain kali kita main, sekarang saya pergi dulu ya." janji lelaki itu. "Ingat, Cici harus makan yang banyak dan jangan lupa minum obatnya."


"Yahhh, padahal Cici mau mengenalkan kakak sama kakak Cici yang baru." Cici masih menahannya. "Kak ... kak Ayu, sini deh!" Cici memanggilku.


__ADS_2