
"Apakah semuanya akan baik-baik saja?" aku bertanya pada Juan yang duduk di kursi penumpang persis sebelahku.
"Berpikirlah positif Nan, semua akan baik-baik saja
Pesawat singa merah baru saja mendarat di Bandara YIA yang terletak di Kulonprogo. Usai mengambil koper di bagasi, aku dan Juan berpisah. Kami sepakat akan kembali bertemu sepekan lagi saat akan berangkat kembali ke Jakarta. Tapi kalau ada yang urgen maka ia akan menghubungi aku.
Aku memilih naik taksi ke rumah yang letaknya tak terlalu jauh dari Bandara. Hanya dua puluh menit dari bandara jika naik kendaraan. Sepanjang perjalanan aku tak berhenti mengucap asma Allah untuk menenangkan diri. Entah bagaimana reaksi ayah, mas Yuda dan mbak Tika nantinya. Apakah mereka akan terkejut, atau marah saat melihatku?
Tak terasa, akibat melamun, ternyata taksi sudah berhenti di depan rumahku yang sangat sederhana. Rumah itu terlihat berbeda, lebih lusuh, mungkin karena catnya belum diganti dan tanaman di pekarangan kecil itu sebagian besar sudah mati. Hanya tersisa dua pot besar bugenvil. Itupun meranggas.
Tidak seperti biasanya. Ayah dan mas Yuda biasanya selalu mengecat tembok rumah dua kali setahun. Mbak Tika sendiri paling rajin merapikan tanaman. Ia tak akan pernah lupa membersihkan rumput liar, merawat agar bunga-bunga tidak kering apalagi mati.
"Assalamualaikum," kataku, berdiri di depan pintu rumah. Menunggu seseorang menyongsong kedatanganku. "Assalamualaikum. Ayah, mas Yuda, mbak Tika!" Aku lebih mengeraskan suara, sembari melengok ke dalam.
"Ayu?" tiba-tiba ada suara ayah dari samping rumah. Rupanya ayah baru selesai merapikan bagian samping rumah yang rusak. "Ya Allah, sepertinya aku semakin tidak baik-baik saja. Sekarang malah melihat putriku pulang. Astagfirullah. Ini pasti halusinasi." Kata ayah, sambil mengusap wajahnya.
"Ayah ... ayah nggak berhalusinasi, ini Ayu yah!" Aku menghambur dalam pelukan ayah. Sesaat tak ada balasan dari ayah, tapi setelah ia memegang kepalaku, suara tangis ayah pecah. Ia menyebut-nyebut namaku berulang kali.
"Ayu. Benar ini Ayu? Ya Allah nak, Ayu!" Ayah menangis, tangisan pilu akibat menahan kerinduan pada putri bungsunya. Melihat ayah yang seperti ini membuatku sangat merasa bersalah. Tapi kala itu aku begitu pengecut, makanya memilih menghilang hingga aku kuat menghadapi semuanya.
Usai melepas rindu singkat, ayah memanggil mas Yuda, mbak Yuni, mbak Tika dan suaminya mas Hadis. Aku benar-benar bahagia dengan berita pernikahan mbak Tika meski sudah berlangsung sejak enam tahun lalu.
__ADS_1
"Kamu sih Yu, menghilang begitu saja. Mbak kan nggak tahu harus memberitahu siapa tentang kabar pernikahan, mbak." Kata mbak Tika sembari menahan air mata. Meski begitu tetap saja akhirnya ia menangis sebab tak kuat menahan haru. Untungnya suami mbak Tika langsung siaga mengusap punggung istrinya untuk menguatkan.
Kembali suasana haru terasa di ruang tamu keluarga kami. Mbak Tika bercerita bagaimana paniknya mereka saat mendengar kabar dari mas Bagas bahwa aku sudah menggugat cerai. Dan yang lebih mengagetkan lagi ia mengatakan bahwa aku menghilang.
'kami benar-benar kacau, Yu. Ayah dan mas Yuda sampai tiga kali ke Jakarta. Membuat laporan kehilangan kamu hingga mencari ke tempat-tempat yang menurut cerita Bagas pernah kamu datangi, tapi kamu tidak ada.
Selain itu, ayah juga jatuh sakit. Ayah drop, nggak mau makan, kehilangan semangat hidup. Hari-hari hanya melamun sambil menangis memikirkan nasib putri yang paling disayanginya." Kata mbak Tika. "Lagipula kenapa kamu enggak pulang saja, Yu? Mbak tahu saat itu beban pikiran kamu pasti sangat banyak hingga akhirnya memutuskan bercerai dengan Bagas. Tapi yang mbak sedih kamu nggak mau berbagi cerita dengan keluarga yang jelas-jelas sangat menyayangi kamu, Yu"
"Maaf mbak, maaf ...." aku menangis dalam pelukan mbak Tika. "andai mbak tahu, kalau saja aku punya keberanian, aku juga ingin segera pulang, mbak. Tapi aku takut kembali menjadi beban keluarga. Makanya aku memutuskan untuk pergi. Aku nggak mau jadi beban ayah, mas dan mbak lagi. Aku ingin buktikan bahwa aku bukan orang yang lemah, aku juga bisa bertahan dan kembali melanjutkan hidupku dengan baik. Makanya aku butuh waktu untuk memberanikan diri pulang ke rumah ini."
"Lalu kemana saja kamu selama ini, Yu?" Tanya mas Yuda. "Apa semuanya baik-baik saja? Pasti tak akan mudah menjalani hidup sendiri."
"Ya mas. Tapi Alhamdulillah, baiknya Allah pada Ayu. Allah mempermudah jalannya Ayu. Selama delapan tahun ini Ayu bekerja keras agar bisa membuktikan pada semuanya kalau Ayu serius ingin menjadi dokter dan Alhamdulillah akhirnya ayu bisa mewujudkan cita-cita ini." Kataku
'
"Yah, Ayu sudah lulus kuliah di bidang kedokteran. Ayu sekarang sudah jadi dokter ayah!" Kataku. "Besok-besok kalau Ayah sakit, izinkan Ayu untuk merawat Fatimah ya." pintaku.
Giliran aku untuk bercerita pada keluarga tentang bagaimana akhirnya aku pergi dari kehidupan Bagas. aku juga menutup akses agar ia tak bisa mencari.
Sementara itu aku tetap melanjutkan kuliah sesuai dengan cita-cita. hingga akhirnya kini aku berhasil menjadi dokter. "Alhamdulillah sekarang Ayu sudah praktek di rumah sakit daerah yang ada di Depok."
__ADS_1
"Ya Allah Yu, Alhamdulillah, bersyukur sekali. tapi kamu pasti bekerja begitu keras untuk mewujudkan itu semua. kami benar-benar bangga, nak!" Lagi, ayah mas Yuda dan mbak Tika mengapresiasi prestasi yang sudah aku toreh.
"Lalu bagaimana kamu membiayai kuliahmu, Yu? mengingat uang biaya kuliah dan bukan anak yang jelek
Aku diam. Tak berani mengatakan bahwa Juan lah yang membayari semuanya. Entah bagaimana reaksi mereka nantinya. Jujur saja untuk terus terang, aku belum punya nyali. takut membuat suasana ini jadi jelek karena entah bagaimana perasaan ayah dan keluargaku di sini jika tahu.apa yang sebenarnya terjadi.
"Ya pastinya ayu bekerja keras. Atau mungkin dapat bea siswa, yang jelas Ayu sudah bekerja cukup keras jadi tolong nggak usah dibahas lagi hal-hal tidak penting." mbak Yuni mengingatkan.
"Enggak apa-apa kok mas. Yang jelas uangnya InshaAllah aman." kataku.
"Alhamdulillah," jawab Ayah, diikuti oleh saudara-saudara.
***
Sudah dua hari aku di rumah, tapi belum juga berani mengatakan semuanya. Aku takut ayah kembali sakit kalau tahu semuanya Untuk mengisi waktu luang aku rajin memasak, ngajak ayah ngobrol.
Banyak hal sebenarnya yang ingin aku lakukan, tapi semuanya butuh waktu.
"Mbak, seberapa fatal kesalahan orang yang tak bisa kita maafkan." aku memancing.
"hmmm apa ya? mbak juga bingung." Kata mbak Tika.
__ADS_1
"Kalau orang itu pernah menghancurkan hidup kita, tapi ternyata ia tak begitu. Lalu kita jatuh cinta padanya, Bagaimana" kataku yang pura-pura ada Kiba belas menit.