
Meski marah besar dan tidak terima, namun ayah tetap menikahkan aku dengan Juan. Tak ada pesta besar atau sekedar selamatan. Hanya akad nikah yang disaksikan penghulu dan dua orang saksi. Bahkan kedua saudara kandungku pun enggan menyaksikan pernikahan ini. Mereka memilih bersembunyi di kamar masing-masing. Mungkin karena terlalu kecewa padaku.
"Anggap ini tanggung jawab terakhir ayah. Setelah ini, kamu bukan lagi tanggung jawab ayah. Sesuai dengan apa yang kamu pilih, meski kami sudah berjuang mati-matian untuk kamu. Tapi ternyata laki-laki itulah yang menang." Kata ayah dengan suara gemetar menahan amarah.
Aku hanya bisa menunduk sambil menangis.
"Baiklah, ya Juan Prawira. Saya nikahkan dan kawinkan kamu dengan putri kandung saya Ayu Andara Nesa dengan mas kawin uang tunai sebesar lima puluh juta rupiah beserta seperangkat alat salat dibayar tunai." kata ayah.
"Saya terima nikah dan kawinnya Ayu Andara Nesa dengan mas kawin tersebut diatas. Tunai!" jawab Juan dengan suara lantang.
Sah. Sah. Dua orang saksi menyatakan sah. Kami berdua telah sah menjadi suami istri Dimata agama dan hukum. Air mataku tak berhenti mengalir. Harusnya aku bahagia karena akhirnya bisa menikah dengan laki-laki yang ku cintai. Dinikahkan langsung oleh ayah kandungku. Namun lebih banyak sedihnya karena aku telah kehilangan ayah dan dua saudaraku; mas Yuda dan mbak Tika.
"Sesuai dengan kesepakatan kita. Pergilah sekarang!" Kata ayah, tanpa memberikan kesempatan pada ku untuk merasakan kebahagiaan yang telah lama aku nantikan.
"Yah," aku menangis, berusaha memegang kaki ayah untuk mendapatkan maaf darinya, tapi dielakkan. "Maafkan Ayu, yah. Maafkan Ayu. Tolong beri Ayu kesempatan."
"Sudah tidak ada kesempatan lagi. Kamu bukan putriku lagi. Pantang bagiku menerima orang yang sudah membuat malu keluarga ini dengan keputusan egoisnya itu." Kata ayah.
"Yah, Ayu hanya ...." Aku terbata. "Ayu sayang ayah."
__ADS_1
"Pergilah! kau, bukannya sebelumnya sudah janji akan menjaganya dengan baik. Sekarang penuhi janjimu!" kata ayah pada Juan.
Juan langsung berdiri, ia menggandengku, aku berulang kali menggelengkan kepala untuk memberitahukan bahwa aku tak ingin kehilangan ayah dan saudaraku. Tapi ini adalah kesepakatan bersama. Aku akan dinikahkan namun setelah itu tak boleh lagi menginjakkan kaki di rumah ini. Aku sudah dianggap mati, bukan lagi jadi bagian keluarga ini.
"Kenapa, kenapa begitu? Ayah, kenapa ayah tega pada Ayu? Bukankah biasanya saat anak melakukan kesalahan, orang tua bisa memberikan maaf sebanyak dan seberat apapun salahnya. Dan, apakah jatuh cinta itu salah? Juan memang benar pernah melakukan kesalahan, tapi dia sudah bertaubat yah, dia sudah sangat berubah. Kami hanya ingin memperbaiki sebuah kesalahan di masa lalu dengan sesuatu hal yang baik dan diizinkan Allah. Kami menikah karena tidak mau melakukan dosa. Kenapa tidak boleh, yah? Kenapa harus diusir dari keluarga?* aku yang tak mampu menahan emosiku akhirnya lepas juga. Aku menangis sambil protes pada ayah.
"Kamu mau protes? Bukan hanya kamu yang punya perasaan, Yu. tapi juga ayah, mas dan mbak kamu. Perjuangan kami selama ini kamu anggap apa? Kami sudah hancur-hancuran Yu. Bahkan aku sampai begitu down karena perasaan bersalah tak bisa menjaga kamu dari penjahat ini. Sayangnya semua perjuangan kami kamu anggap angin lalu. Kamu tak menghargainya. Entah apa sebabnya kamu malah teguh pendirian memilihnya. Sekarang setelah semua mau kamu aku turuti, kamu masih ingin protes. Masih menggugat aku? Sama saja Kamu dengannya. egois." ungkap ayah.
"Pergilah, pergi dari sini sebelum sabarku habis. Atau kau ingin melihatku mati menahan sakit di jantungku?" ancam ayah.
"Ya Allah ayah!" aku menangis, berusaha menahan diri.
"Ayah!" aku memekik.
"Ayo kita pergi." ajak Juan.
"Enggak Juan, enggak. Aku nggak mau kehilangan ayah, mas Yuda dan mbak Tika. Aku masih ingin di sini. Aku ini anak ayah, aku adiknya mereka." Kataku.
Juan menggelengkan kepala. Menyadarkan aku bahwa sekarang aku telah diusir dari rumah ini. Keadaan sudah tak sama seperti dulu. Tentu saja kenyataan itu sudah ku pahami namun aku masih tetap bersikeras mendapatkan keringanan. Aku tak ingin kehilangan semuanya.
__ADS_1
"Yu, apa yang dikatakan Juan benar. Pergilah. Apalagi yang kamu harapkan di sini, kamu sudah tidak diterima." Arum yang sejak tadi menunggu di depan pintu rumah ikut menarik tanganku agar pergi. Ia membantu Juan menaikkan aku ke dalam mobil. Duniaku benar-benar hancur saat ini.
Aku benar-benar sedih. Dengan hari terluka aku dan Juan meninggalkan rumah itu. Rumah dimana aku tumbuh besar, menjadi kesayangan, namun kini diusir karena pilihanku sendiri. Harapanku agar hati mereka luluh pun tak terkabul, hingga mobil yang aku tumpangi bersama Juan meleset meninggalkan rumah, tak ada seorangpun yang keluar sekedar untuk menahan langkahku. Rasanya benar-benar hancur.
"Ini adalah pilihan yang aku pilih sendiri. Ayah, mas Yuda dan mbak Tika nggak salah. Mereka berhak merasakan kekecewaan." kataku, sambil menangis menatap jalanan lewat jendela mobil.
"Kita akan ke rumahku." Kata Juan. "Kamu sudah siap, kan?"
Aku tak bicara sepatah katapun. Hanya diam memandang keluar jendela. Aku tahu, setelah ini juga akan ada momen yang tidak mengenakkan. Bayangan tidak akan diterima sudah terbayang di benakku. Namun hatiku tak sesesak saat diusir oleh keluarga sendiri.
"Maafkan aku sayang, harusnya aku tak berbuat dosa itu sehingga kamu tak perlu menanggung akibatnya juga. Dosaku semakin banyak, entah bagaimana cara menebusnya. Ku harap, setelah ini aku bisa membahagiakan kamu." ungkap Juan.
"Apakah sebaiknya kita akhiri saja pernikahan ini?" Tanyaku, tanpa melihat kearahnya.
"Kamu bicara apa?" Juan sampai menghentikan mobilnya. Ia sangat terkejut dengan apa yang ku katakan. "Yu, kita sudah berjuang sejauh ini hingga akhirnya Allah halalkan kita. Setelah semuanya berjalan sesuai aturan Allah, kenapa mau menyerah begitu saja? Aku tahu kamu lelah, tapi ayo kita jalani bersama-sama. Kini ada aku yang akan selalu ada untuk kamu. Jadi tolong bersabar ya." kata Juan, sambil menggenggam tanganku dengan erat.
"Entahlah Juan, aku merasa tak punya harapan, aku ...." air mata yang sudah kering kembali mengalir.
"Tenanglah sayang, aku tahu kamu sedih dan kecewa sebab kehilangan Keluarga. Tapi percayalah, kamu tak akan pernah kehilangan mereka sebab bagaimanapun hubungan darah tak akan pernah bisa putus. Mereka hanya butuh waktu untuk menerima keputusan kita. Jadi biarkan semua sama-sama tenang dulu sembari kita terus berusaha dan berdoa." Kata Juan.
__ADS_1