Haruskah Kita Menikah?

Haruskah Kita Menikah?
Juan Atau Mas Bagas?


__ADS_3

Kini aku dan kak Rani duduk berhadap-hadapan. Juan sudah pergi sejak tadi, tentunya setelah ia menitipkan aku pada kak Rani. Sementara Cici sedang asik dengan mainannya yang tadi dibawakan Juan bersama makanan.


"Hmm, kini aku mengerti semuanya." kata kak Rani, sembari menarik nafas, usai mendengarkan ceritaku. "Sebelum aku menceritakan hal lain, mungkin kamu bertanya-tanya, kenapa Juan mengenal kami. Tapi kamu percaya tidak, Yu. Apa yang terjadi di dunia ini atas skenario Tuhan. Termasuk pertemuan kamu dan aku. Sejak awal kenal Juan, aku yang pendosa ini selalu berdoa semoga suatu hari bisa membalas kebaikannya, meski itu hanya sebuah kebaikan kecil." ia memperbaiki duduknya. "Juan adalah seperti malaikat dalam hidupku dan Cici, juga dalam hidup orang-orang yang ada di sini. Aku mengenal Juan secara tidak sengaja saat aku hendak menghabisi hidupku. Ia menolong, memberiku motivasi untuk bertahan dan memperbaiki hidup. Juan juga berjanji, meski kehidupan yang akan kami lalui keras, ia akan berusaha untuk menolong kami, apapun caranya, terutama menolong Cici.


Putriku, berbeda dengan anak-anak yang lainnya. Cici harus merasakan dampak dari dosa yang aku buat. Ia tertular virus HIV saat dalam kandungan.


Mengetahui itu, duniaku rasanya mau kiamat, Yu. Aku tak memiliki harapan lagi sebab Cici adalah satu-satunya impian terbesarku dalam hidup ini, tapi sayang ia harus terkena getah dari berbuatan ayah dan ibunya.


Tapi Juan memberikan semangat hidup baru. Selain memberikan kami bantuan uang dan makanan, ia juga membantu agar aku dan Cici mendapatkan obat untuk bertahan hidup. Aku tak berani mengakui pada dunia tentang sakit yang aku rasa. Itulah kenapa Juan pasang badan. Ia benar-benar baik.


Lalu hubungannya denganmu. Sebenarnya, beberapa bulan lalu ia mengatakan padaku akan kembali ke kampung halamannya. Ia ingin bertemu dengan perempuan yang aman dicintainya. Juan ingin mengutarakan isi hatinya. Namun masalah di keluarganya lagi-lagi membuat Juan terpuruk hingga ia mabuk dan terjadilah semua itu.


Aku tahu kamu pasti membenci Juan sebab itulah yang ia ceritakan padaku, tetapi aku juga sangat yakin Juan menyesali semuanya. Ia ingin melakukan apapun agar kamu mau memaafkan dirinya, Yu."


"Sudahlah, kak," aku memotong pembicaraan kak Rani. Seperti yang ia katakan, aku memang tak akan peduli dengan alasan apapun yang Juan katakan. Yang jelas ia sudah menghancurkan hidupku. Itulah kenyataannya sekarang. Kalaupun ia sedang banyak masalah, apakah pantas aku dijadikan samsak untuk meredam kegundahannya? "Kita tak perlu bicarakan ini." sambungku.


"Bukankah kamu hamil anaknya Juan? Lalu kenapa kamu malah menikah dengan laki-laki tadi? Pikirkan juga bagaimana anakmu nantinya,"


"Karena dia yang mau membantuku. Ia yang mau menjaga kehormatanku, kak. Ini gak mudah untuk aku, tapi mas Bagas membantuku menghadapi rasa malu itu."

__ADS_1


"Tapi dia menikahi kamu karena uang, kan?"


Aku tersenyum sinis. "Lalu apa yang kakak dan orang-orang harapkan dariku? Aku mau menikah deyJuan? Menikah dengan lelaki yang sudah menghancurkan hidupku? Menghabiskan sisa hidupku dengan orang yang sudah menorehkan luka teramat dalam?"


"Yu ... tapi menikah dengan lelaki itu juga bukan solusi yang baik. Kamu sama saja menutupi masalah dengan masalah yang baru."


Senyum sinis di wajah itu memudar. Ya, tak ada pilihan terbaik yang bisa aku pilih. Semua seperti buah simalakama saat ini.


"Dan ... meratapi nasib juga bukanlah suatu keputusan bijak. Aku tahu, aku nggak berhak bicara banyak karena ini hidupmu. Kamu yang merasakan penderitaan itu, tapi bolehkah aku meminta sedikit saja kepadamu, berilah sekali saja Juan kesempatan, aku yakin ia tak akan mengecewakan kamu." tambah kak Rani.


Aku menggeleng cepat. Nggak, nggak akan pernah ada kesempatan untuk seorang pelaku pemer-----. Ia adalah penjahat. Aku akan semakin menderita jika hidup bersamanya.


Pagi ini, kembali mas Bagas mendatangi gubuk kak Rani. Ia ingin mengajakku pulang, tentunya dengan disertai ancaman jika aku tak mau maka ia akan mengadukanku pada Ayah. Ia seolah tahu kartu matiku. Bagaimana mungkin aku bisa kembali membuat masalah, menambah beban pikiran ayah.


"Tidak bisakah mas biarkan aku sendiri di sini? Biarkan aku menjalani kehidupan yang aku pilih ini." Pintaku, sembari memelas karena aku takut dengan ancamannya.


"Tidak Yu, kamu harus ikut pulang denganku. Bagaimanapun kita sudah berstatus suami istri. Aku tak akan membiarkan kamu di sini sebab ...."


"Sebab mas takut orang tua Juan tahu kalau aku sudah meninggalkan mas dan mereka akan mengambil kembali apa yang sudah mereka berikan pada, mas. Iya, kan?"

__ADS_1


Mas Bagas agak terkejut sebab aku sudah mengetahui semuanya. Juan yang mengatakan. "Oh, jadi kamu sudah tahu semuanya. Ya, baiklah, Yu." ia tersenyum sinis. "Rupanya sekarang kamu sudah berteman dengannya. Apalagi yang kamu tahu, hah?" kini sepasang matanya menatapku tajam. Terlihat jelas ia begitu marah. Aku seperti akan ditelan hidup-hidup.


"Saya tak ingin mendebat sesuatu hal yang tidak penting,"


"Tidak penting kata kamu? Ayu Andara Nesa, aku sudah mempertahankan masa depanku dengan menikahi kamu yang sudah dipakai oleh Juan, jadi jangan main-main denganku sebab bisa saja aku melakukan hal yang keras kepada kamu. Jadi sebelum itu terjadi, sekarang ikutlah denganku!"


Baru saja Mas Bagas hendak menarik tanganku, seseorang sudah muncul di antara kami berdua, siapa lagi kalau bukan Juan. Seperti pahlawan kesiangan, ia kembali mengusir bahkan mengancam mas Bagas agar tak lagi menemui ku.


"Urusan kamu dengan orang tua saya, biarlah saya yang menyelesaikan, sekarang pergilah Bagas. Kamu tak perlu takut karena kamu tak akan kehilangan apapun. Saya menjamin itu!" Juan menegaskan.


"Ini bukan hanya sekedar rupiah, Juan. Tapi juga harga diri. Kamu kira saya akan mengalah begitu saja? Tidak. Lagipula bukankah Ayu juga tak menginginkan kamu di sisinya. Lalu untuk apa kamu tetap kekeh di sini? Pergilah dan jangan ganggu dia juga. Atau aku bisa saja melaporkan kamu pada orang tuamu. Kalau mau hancur, biar sama-sama hancur sekalian!" Mas Bagas tersenyum seolah penuh kemenangan.


"Siapa bilang saya tak menginginkan Juan di sini. Saya yang memintanya di sini, bukan mas," kataku.


Mas Bagas terbelalak. Sementara Juan hanya menatapku sebentar.


"Dengarkan? Sekarang silakan cabut atau saya panggilkan warga untuk mengusir kamu!" Tegas Juan.


"Kamu jangan sembarang bicara, Yu. Pikirkan baik-baik apa yang sudah kamu pilih. Kamu tak akan bahagia karena dia lelaki yang sudah menghancurkan masa depan kamu!" Kata mas Bagas.

__ADS_1


"Cinta bisa datang kapan saja. Jadi pergilah karena sekarang saya memilih Juan!" Aku kembali menegaskan.


__ADS_2