Haruskah Kita Menikah?

Haruskah Kita Menikah?
Pernikahan


__ADS_3

Dilema rasanya, apakah harus melanjutkan pernikahan atau tidak. Sebagai anak, aku tak tega melihat ayah dimaki-maki, apalagi oleh orang yang pernah menjadi temannya.


Sekarang semuanya bertambah kacau, selain mendapatkan hinaan, ayah juga harus kehilangan sahabatnya karena mereka memutuskan persahabatan itu Aku hanya berharap agar kelak orang tua mas Bagas bisa kembali berbaikan dengan ayah. Aku tahu betul bagaimana tidak nyamannya ayah, persahabatan mereka telah terjalin semenjak masih remaja, bahkan sering terdengar candaan untuk berbesanan, tapi takdir berkehendak lain.


Andai saja kejadian itu tak menimpaku, mungkin pernikahan kami akan menjadi hal yang menggembirakan untuk ayah dan orang tua mas Bagas sebab apa yang pernah mereka utarakan dahulu terwujud. Sayangnya keadaan sekarang berbeda dengan apa yang mereka harapkan sehingga kebahagiaan itu terasa mustahil.


Kini, suara orang tua mas Bagas sudah tak terdengar lagi. Hanya hening. Kata mbak Tika mereka sudah pulang setelah mendapatkan masukan dari pak RT dan pemuka agama.


Tak berapa lama terdengar suara ayah dan mas Bagas mengucap ijab kabul diikuti kata sah dari para saksi.


"Alhamdulillah, kamu sudah sah menjadi istrinya Bagas, Yu." kata mbak Tika dengan mata berkaca-kaca. "Mbak nggak nyangka akan secepat ini melepas adik bungsu mbak. Kamu yang menikah terlebih dahulu. MashaAllah, takdir Allah itu memang benar-benar tak bisa ditebak ya Yu."


kami berdua berpelukan dengan perasaan haru. Air mata membanjiri pipi kami. Harusnya sekarang adalah pernikahan mbak Tika, tapi karena aku telah hamil duluan malah aku yang mendahului mbak Tika.


"Ayu, Tika ... kalian kenapa?" Mbak Yuni masuk ke kamar. "Heii, ini hari bahagianya Ayu, jangan ada yang menangis lagi. Kesedihan itu sudah seharusnya diakhiri. Kita mulai lembaran baru." tambah mbak Yuni.


"Iya. Mbak Yuni benar. Jangan menangis lagi ya Yu." ujar mbak Tika.


"Ayu nggak akan menangis kalau mbak Tika Ndak nangis duluan." kataku.

__ADS_1


"Mbak sebenarnya bahagia sekali ketika akhirnya kamu menemukan imam yang InshaAllah akan menuntun kamu dalam kebaikan. Mbak berharap kamu bahagia Yu. Mbak menangis hanya karena merasa semuanya terlalu dadakan. Tiba-tiba mbak harus merelakan adik bungsu mbak yang manis. Setelah menikah kamu akan dibawa oleh Bagas ke Jakarta. Kita akan berpisah, tak akan tidur satu kamar lagi. Rasanya itu sedih." kata mbak Tika sambil mengusap air matanya.


"Mbak," aku kembali ikut menangis.


"Sudah sudah. Mbak tahu kalian pasti sama-sama sedih dengan perpisahan itu, tapi kan Ayu pindahnya ke Jakarta, masih bisa dikunjungi sering-sering. Jadi nggak perlu khawatir. Sekarang ayo hapus air mata kalian berdua, lalu kita keluar karena pengantin laki-laki dan seluruh tamu sudah tak sabar menunggu kedatangan pengantin perempuan kita yang cantik ini." mbak Yuni mengusap pipiku.


Kami berdua menghapus air mata. Benar kata mbak Yuni, jarak antara Jogja dan Jakarta tak terlalu jauh. Hanya sembilan jam kalau naik kereta. Toh sebenarnya kalau tak menikah pun kami akan tetap berpisah sebab rencananya aku akan melanjutkan kuliah di Jakarta.


"Ayo kita keluar." Ajak mbak Yuni. Dengan sigap ia menggandeng tangan kananku, sementara mbak Tika menggandeng tangan kiri.


Dengan kepala tertunduk, kami terus melangkah menuju meja sederhana yang dihias semaksimal mungkin oleh mbak Tika dan mas Yuda menjadi meja dimana akad nikah berlangsung. Di sana sudah menunggu mas Bagas, lelaki yang beberapa menit lalu sudah resmi menjadi suamiku.


"Aamiin aamiin ya Rabbal Alamin." aku mengaminkan dengan khusyuk. Ada banyak harapan yang kini aku gantungkan pada lelaki yang menjadi cinta pertamaku.


Pernikahan ini, meskipun dadakan dan terjadi setelah musibah yang menimpaku, tapi aku berharap ia sesuai dengan apa yang sudah kami harapkan bersama. Setelah bayi ibu lahir, aku ingin ia menjadi suami seperti yang selama ini aku dambakan.


Kami akan melangkah bersama dalam mahligai pernikahan ini.


"Nak, belum pernah ayah merasa begitu ahru seperti hari ini. Rasanya ayah bahagia sebab akhirnya kamu menikah namun ayah juga sedih sebab tanggung jawab ayah kini berpindah pada nak Bagas. Sebagai imammu, ayah selalu berharap agar kamu menaatinya. Selalu setia dalam suka dan duka. Hormati ia seperti kamu selalu menghormati ayah. Mulailah kehidupan baru ini dengan hati bahagia." Nasihat ayah sembari meneteskan air mata.

__ADS_1


Ayah yang ku kenal begitu tegar. Ayah yang kuat dan tak pernah menangis, namun akhirnya haru ini menitikkan air mata.


Perpisahan yang sebentar lagi akan terjadi antara kami yang jadi penyebabnya. Sama seperti mbak Tika, ternyata ayah pun belum siap.


"Yah, tolong doakan Ayu ya." Pintaku.


"Ya nak. Janji kamu akan menjaga pernikahan ini. Bagas sudah berbaik hati dengan ikhlas menikah dan menerima kamu apa adanya. Jadi kelak, apapun yang terjadi, tetap hormati dia. Kamu mengerti kan Nak?" pinta ayah.


"Ya ayah. Ayu mengerti." Aku berjanj akan menaati apa yang sudah ayah katakan. Mulai sekarang ialah imanku, ialah satu-satunya yang harus aku patuhi. kami berdua saling berpelukan sambil menangis.


***


Hanya menghitung jam, kurang dari dua puluh empat jam aku akan meninggalkan rumah ini untuk pertama kalinya ke tempat yang cukup jauh bagiku. Aku akan pergi mengikuti mas Bagas, kami sudah berencana untuk tinggal di Jakarta. Rencananya aku akan menunda kuliah satu taun hingga bayi ini lahir. Tahun depan barulah aku masuk kuliah untuk mengejar cita-citaku.


Rumah ini amat berharga bagiku. Masih teringat saat aku masih kecil, ketika rumah ini masih menjadi bangunan semi permanen. Ayah memang membangunnya berangsur-angsur dan dibangun sendiri sesuai waktu yang ayah miliki. Sebelumnya ayah berharap bisa membangunkan istana yang nyaman untuk ibu, tapi takdir berkata lain, usia ibu tak panjang sehingga tak bisa merasakan tinggal di rumah ini dalam keadaan sudah nyaman.


Di rumah ini ada banyak kenangan yang tak bisa aku lupakan. Kenangan itu akan terus menjadi memori yang manis. Saat ayah mengajari kami bertiga ngaji. Mas Yuda yang suka sekali memberiku hadiah coklat secara diam-diam sebab takut ketahuan ayah yang melarang ku suka makan coklat. Mbak Tika yang selalu berusaha menggantikan sosok ibu meski ia tak akan mungkin menyamai ibu.


Mbak Tika dahulunya tak suka memasaj, tetapi setelah aku mogok makan lantaran tak suka dengan makanan yang dibeli ayah akhirnya ia belajar memasak sehingga kini mbak Tika punya akun YouTube sendiri.

__ADS_1


__ADS_2