
Mobil yang dikendarai Juan memasuki lobi hotel bintang lima yang berada di kawasan Malioboro. Kami turun, berjalan bersisian menuju kamar VVIP yang sudah disiapkan Juan. Kami harus bersiap sebelum bertemu keluarganya.
"Kira-kira, luka seperti apa lagi yang akan kita terima?" Kataku, sambil memandang jendela kamar hotel tempat kami menginap. Ruang kamar yang begitu indah tak bisa membuat hatiku senang, aku masih sangat hancur dengan kenyataan diusir dari keluarga.
"Jangan bicara yang aneh-aneh sayang, InshaAllah semua akan baik-baik saja." kata Juan, sambil melempar senyum. Sebuah senyum yang tak lepas sebab ada beban di sana. Aku juga tahu bahwa keluarga Juan sama seperti keluargaku, tak menerima pernikahan ini. Mereka menentangku, bahkan sejak kejadian dahulu. "Kita pasti akan bahagia!" janji Juan. "Pengantinku, maafkan aku, kamu harus melewati semuanya. Tapi aku janji kita akan baik-baik saja. Kamu dan aku akan bahagia. Kita akan mendapatkan kembali Keluarga kita. Kamu yakin kan? Sekeras apapun batu, kalau terus ditetesi air akan berlubang juga. Demikian juga hati mereka. Apalagi kamu tak bersalah. Kamu juga berhak bahagia. Aku yang berdosa. Kalaupun ada ketidak bahagian, akulah yang harus merasakannya, sendiri."
"Stttt, jangan bicara begitu suamiku. Kamu sudah mentaubatinya. Kamu berhak mendapatkan kesempatan kedua." Kataku.
"Maafkan aku sayang." Ia memelukku pelan.
"Ya, aku sudah memaafkan kamu. Sekarang kita berangkat?" tanyaku, setelah melirik jam di dinding.
Ia mengangguk. Meski sama-sama belum siap menghadapi situasi yang kami yakini nantinya tidak akan baik-baik saja, namun kami berdua sama-sama tidak ingin mengundur pertemuan ini. Kami sudah mengabari sebelum akad akan mampir ketemu orang tua Juan, sebelum kembali ke ibu kota.
Kembali Kami berjalan bersisian menuju parkiran. Belum sampai, tiba-tiba seseorang memanggil namaku.
__ADS_1
Aku sampai memicingkan mata untuk mengenalinya, ternyata Mita. Salah seorang sahabatku. Aku hampir melonjak tak percaya, akhirnya bertemu setelah hampir delapan tahun kami tak pernah bertemu maupun berkomunikasi. Sebelum menemuinya, ku minta Juan untuk duluan ke mobil, aku akan menyusul. Rasanya sudah sangat rindu pada salah satu sahabatku yang terkenal ceriwis itu, kalau ada Juan kami mungkin tak akan nyaman melepas rindu.
"Apa kabar Mit?" Tanyaku, usai Kami melepas rindu.
"Alhamdulillah aku ya gini-gini saja, Yu. Kamu nggak tahu, kan. Aku batal kuliah Yu, orang tuaku nggak mampu. Ada masalah keluarga yang kalau diceritakan panjang sekali. Tapi sekarang aku sudah nikah Yu. Sudah punya dua anak juga. Laki-laki dan perempuan. Aku kerja di sini sudah lama, hampir tujuh tahunan. Meski pakai ijazah SMA, tapi gajinya lumayan lah. Jabatanku ya sekarang supervisor. Pemilik hotel ini masih saudara sama suamiku. Dia menyokong karirku karena sekitar delapan bulan lalu suamiku mengalami kecelakaan, makanya nggak bisa kerja. Lumpuh kakinya, Yu. Sebagai bentuk dukungan ya mereka membantu dengan menaikkan jabatanku yang otomatis naik juga gajiki." Mita menutup cerita singkatnya sambil tertawa cekikikan. Cerita yang sebenarnya sedih itu dikemas santai sehingga luka di hatinya bisa tertutup. "Kamu sendiri bagaimana? Dengan mas Bagas kata mbak Tika sudah pisah ya? Kamu kemana saja tho Yu, jujur kita semua khawatir, kasihan ayah sama mbakmu. Nangis terus kalau kita berkunjung terus mereka nyeritain kamu. Harusnya kamu pulang saja, Yu. Kamu itu kesayangan. Bagaimana pun sakitnya gagal menikah, yang namanya keluarga pasti siap untuk membantu menyembuhkan luka itu. Terus, itu tadi siapa? Kayaknya aku pernah lihat, tapi siapa Yo? Kok kayak nggak asing."
"Juan," kataku.
"Ju ... Juan? Itu Juan, Yu. Ahhh yang benar. Kok bisa ketemu? Kamu nggak diapa-apain, kan? Pantas saja aku rasa-rasanya kenal, ternyata feelingku benar kalau itu mas Juan, kakak kelas kita. Si bajing** itu. Iya, kan? Duh aku kesal sekali sama dia karena sudah menghancurkan hidup sahabatku. Ujian hidup yang kamu jalani gara-gara dia. Sekarang aku akan bantu kamu untuk memberinya pelajaran. Kamu enggak usah khawatir Yu. Kamu butuh bantuanku?"
"Hah, maksudnya bagaimana tho? Kok suami? Dia kan demit yang sudah menjahati kamu. Bagaimana ceritanya tho, Yu?
"Aku dan Juan baru saja menikah tadi pagi."
"Astagfirullah, kenapa Yu?"
__ADS_1
"Aku dan Juan saling mencintai. Makanya kami memutuskan untuk menikah." Kataku.
"Astagfirullah, ngawur kamu Yu. Ini becanda, kan? Eling Yu. Eling! Istighfar kamu itu. Bagaimana tho ceritanya? Jangan buat aku bingung. Kasih tahu aku. Apa yang sebenarnya terjadi? Apa keluargamu menerimanya? Maksudnya, pak de, mas Yuda dan mbak Tika? Apa mereka membenarkan itu?"
"Ceritanya panjang. Yang jelas aku dan Juan sudah sah sebagai suami istri. Aku sangat ingin menceritakannya padamu Mit, tapi tidak sekarang "
"Yu, kamu itu kenapa sih?"
"Mit, maaf, tapi aku nggak bisa jelasin. Waktu aku sangat terbatas. Sekarang aku harus pergi ke rumah mertuaku. Lain kali semoga ada kesempatan kita cerita-cerita ya. Aku sungguh ingin kalian tahu apa yang sebenarnya terjadi sekarang. Tapi bukan sekarang untuk memberitahunya. Tolong jangan berpikir macam-macam dulu tentang Juan ya."
"Ya Allah Yu ...." Mita terdiam. Beberapa detik setelah aku pamit, ia kembali menyusul. "Yu, kamu enggak lupa kan apa yang sudah dilakukan Juan? Aku enggak ngerti apa yang sudah dilakukan Juan sama kamu hingga akhirnya kalian menikah. Tapi aku hanya ingin mengingatkan kalau kamu pernah dibuat sangat menderita olehnya. Dia itu penjahat, Yu. Bagaimana pun juga yang namanya korban dan pelaku tidak mungkin bisa bersama. Kalau ada yang memberi solusi menikah maka itu adalah solusi paling buruk. Apalagi setelah delapan tahun berlalu..sudah sangat basi. Jangan mau diperdaya, Yu. Kamu perempuan yang baik, kamu berhak untuk bahagia!" tegas Mira. Sebelum pamit ia memastikan padaku bahwa ia akan selalu ada untukku kapanpun aku mau sebab ia merasa yang namanya.korban dan pelaku tidak boleh disatukan dalam ikatan pernikahan. Itu sama saja menyakiti korban.
Aku masih diam berdiri mematung, mencerna kata-katanya. Meski sahabatku itu telah pergi. Ada banyak hal yang pada akhirnya membuatku tak bisa berkata-kata.
Korban dan pelaku, tak akan mungkin bisa bersatu. Tidak boleh. Kapanpun itu! Kata-kata itu terus terngiang di kepalaku hingga aku pun mulai memikirkan apa jangan-jangan langkah yang ku ambil ini salah?
__ADS_1
Aku kembali menyelami isi hatiku. Mencoba mencari, sebenarnya bagaimana perasaanku pada Juan. Ada cinta di hati ini untuknya. Cinta yang tumbuh karena kami bersama, setelah melewati peristiwa buruk. Setelah aku benar-benar membencinya. Lalu, salahkah jika akhirnya korban pun jatuh cinta pada pelaku? Tak bolehkah itu semua terjadi? Lalu kenapa harus tumbuh benih-benih itu?