
"Ya Allah Ayu, tunggu!" Bianca mencekal lenganku. Berusaha menahan agar aku tak pergi.
"Kalau kamu enggak mau dibilang seperti itu, ya harusnya kamu enggak ngelakuin semua itu. Buktikan dong, Yu!" tantang Mita lagi.
"Aku nggak harus ngebuktiin apapun pada siapapun Mit. Ini adalah pilihan hidup yang sudah aku putuskan dan aku bertanggung jawab penuh atasnya. Sama seperti kamu yang memutuskan lebih percaya mas Bagas ketimbang aku!" kataku.
"Lho, kalau kamu enggak terima dengan apa yang dikatakan mas Bagas yo buktikan. Beri tahu kami kalau kamu emang nggak ada main sama Juan waktu SMA. Mudah tho, Yu. Bukannya marah, lalu pergi tanpa memberikan penjelasan apapun padahal semua yang ada di sini sudah berusaha keras untuk kamu. Jangan egois, Yu. Yang namanya keburukan sebaik apapun di simpan nanti juga bakal ketahuan juga belangnya!" Tegas Mita.
"Baiklah, kalau begitu kita tunggu saja nanti. Siapa yang salah dan siapa yang benar. Seperti yang sudah ku katakan sebelumnya, sebaiknya persahabatan ini berakhir saja sebab aku nggak mau sahabat-sahabat yang aku sayangi semakin rusak hatinya hanya karena prasangka yang salah. Maafin aku." aku melepaskan tangan Bianca, mengabaikan panggilan mereka, sambil berlari meninggalkan mereka bertiga dengan air mata berlinang.
Entah apa yang sudah dikatakan mas Bagas hingga akhirnya otak mereka tercuci. Menuduhku sedemikian rupa. Aku benar-benar kecewa namun tak bisa melakukan apapun selain pasrah. Seperti yang dikatakan Mita, seperti apapun keburukan disembunyikan kelak akan ketahuan juga.
***
Prak. Aku menutup pintu kamar hotel, baru beberapa langkah, Juan sudah berada di hadapanku. Rupanya ia sudah kembali. Wajahnya terlihat bingung melihatku pulang dalam keadaan menangis.
"Kenapa?" Tanyanya.
"Enggak apa. Tadi hanya kangen rumah, makanya memutuskan keluar, ternyata kangennya bukan terobati malah tambah-tambah." aku sengaja mengarang cerita sebab tak ingin terus mengungkit masa lalu pada Juan. Kami sudah sepakat mengubur masa lalu dan melangkah menyongsong masa depan yang lebih baik lagi. Makanya tak ingin terus membahas itu. Lagipula aku tahu, jika ku ceritakan semua hanya akan membuat Juan menjadi merasa semakin tidak enak hati. Ia akan jadi tidak nyaman padahal aku tahu ia sudah berusaha memperbaiki diri selama ini.
"Aku tahu Kamu ketemu twman-temanmu." Juan merangkulku. Berbisik di telingaku. "Maafkan aku ya sayang. Semua pasti karena masa lalu."
"Tidak usah minta maaf, kita sudah melupakan masa lalu." Kataku.
__ADS_1
"Sayang, aku benar-benar berhutang padamu."
"Kalau begitu ayo kita kembali ke Jakarta saja secepatnya."
"Baiklah. Kamu ingin pulang kapan?"
"Besok pagi saja!"
"Baiklah."
Malam ini, aku memutuskan merapikan pakaian. Rencana jalan-jalan besok kami batalkan. Aku tak ingin berlama-lama di tanah kelahiran ini. Aku tak ingin bertemu dengan orang-orang yang ku kenal di masa lalu dan kembali mengungkit apa yang sudah kukubur.
***
"Semoga kamu nyaman kerja di sini ya." Bisik Juan, saat mengantarku di depan halaman rumah sakit. Gedung tempat kami bekerja berdampingan, jadi kami bisa pulang pergi bersama, bahkan rencananya makan siang pun akan bersama-sama.
Ini hari pertama aku bekerja di rumah sakit ini..sebuah rumah sakit pemerintah yang sebenarnya kwalitasnya di bawah rumah sakit tempat aku dinas sebelumnya. Tapi karena alasan jarak, makanya kami sepakat bahwa akulah yang pindah.
"Dokter Ayu Andara Nesa?" tanya seseorang perempuan paruh baya, menyambut ku di depan.
"Iya. Saya Ayu. Dengan Bu Utami?" Tanyaku. Ialah orang yang membantuku mengurus bagian administrasi. Sambil memperlihatkan rumah sakit, memperlihatkan ruanganku dan menjelaskan pekerjaanku, kami berbincang santai.
"Kalau ada apa-apa, jangan sungkan hubungi saya ya Bu!" Kata Bu Utami, setelah selesai menjelaskan semuanya. Lalu ia meninggalkan aku sendiri di ruangan dokter.
__ADS_1
Aku menatap kertas putih berisi catatan pekerjaan yang akan menjadi tanggung jawabku sambil berdoa semoga beruntung di tempat ini karena di sinilah aku akan memulai kehidupan baru sebagai istri Juan.
"Ayu?" kata seseorang. "Maksud saya dokter Ayu, kan? Saya Sita, temannya Juan dan Bagas. Kebetulan waktu di kampus kami pernah satu organisasi. Waktu tahu kamu akan pindah ke sini, saya benar-benar senang, akhirnya bisa kenalan dengan istri Bagas, eh maksud saya Juan." Ia tersenyum. Sebuah senyum yang membuatku tidak nyaman.
Tuhan, aku baru mau memulainya. Bisakah tak usah mengenal orang-orang julid yang hanya akan membuat hidupku tidak nyaman. Tapi aku lupa satu hal. Di sini, meski mas Bagas dan Juan bukan orang kesehatan, tapi ini adalah rumah sakit dimana almamaternya berkeliaran. Aku harusnya bersiap menghadapi orang-orang yang pastinya mengenal Juan maupun mas Bagas.
Aku tak terlalu merespon basa-basi dokter Sita. Memilih berlalu menuju ruang pemeriksaan tempatku praktek pertama kali.
***
Lelah fisik bisa istirahat. Tapi tidak dengan lelah hati. Baru hari pertama rasanya ingin berlari menjauh, berteriak untuk menghilangkan beban di pundak ini. Aku merasa sangat tidak nyaman sebab selalu saja ada sindiran halus yang membuatku ingin menghilang saja.
Rupanya Juan cukup terkenal waktu masih menjadi mahasiswa. Ditambah saat ini karirnya yang bisa dikatakan sangat cemerlang. Ia menjadi idola banyak perempuan, salah satunya adalah mahasiswi kedokteran yang kini sudah menjadi dokter muda. Namun hati Juan sudah berlabuh padaku makanya mereka kecewa, apalagi setelah tahu bahwa sebelumnya aku pernah menikah dengan mas Bagas. Entah siapa yang menyebar informasi itu. Tapi banyak yang tahu dan banyak juga yang ingin tahu bagaimana cerita yang sebenarnya. Mereka mencoba memancing-mancing, tapi aku tak menanggapi sedikitpun. Membiarkan cerita itu tergantung begitu saja.
"Sayang!" tiba-tiba Juan sudah berada di sampingku. Ia tersenyum. Senyum yang beberapa tahun lalu bisa membuat hatiku tenang tapi tidak sekarang. "Sudah lama menunggu? Bagaimana harimu?" tanyanya lagi.
"Biasa saja," jawabku, asal. "Aku ingin pulang." Kataku, sebab tak sengaja melihat dengan ujung mata kumpulan dokter muda yang tadi sempat tertangkap basah olehku tengah menjadikan aku dan Juan sebagai bahan gosip mereka.
"Sepertinya hari pertama kerjanya tidak menyenangkan ya?" tanya Juan hati-hati.
"Aku tak ingin membahas." Kataku. Segera berjalan menuju parkiran.
Sepanjang jalan aku memilih mengunci mulut. Meski Juan sudah berusaha mengajak bicara. Ia juga sudah menawarkan aku untuk makan malam di luar, tapi aku menolak karena suasana hatiku sedang tidak baik-baik saja.
__ADS_1