Haruskah Kita Menikah?

Haruskah Kita Menikah?
Gara-gara Cantik


__ADS_3

Entah setan apa yang tengah merasuki hatiku. Usai Eyang keluar dari kamar, aku segera beranjak menuju meja rias sederhana yang berada di samping jendela. Tanganku meraih sebuah gunting yang tersimpan di lacinya. Kini, gunting itu berada persis di depan wajahku, dengan posisi menganga, siap untuk merobek.


Cantik. Gara-gara cantik aku mendapat ujian seberat ini. Sebelumnya semua masih baik-baik saja, meski gara-gara punya wajah cantik, aku sering dibuat risih oleh teman laki-laki yang berkirim salam, bahkan tak jarang memandang dengan tatapan yang tak ku suka.


Gara-gara wajah cantik ini juga, pernah, seorang kakak kelas nyaris melabrak karena aku dianggap menggoda pacarnya hingga mereka putus. Padahal, kala itu, siapa pacarnya saja aku tak tahu.


Cantik ini benar-benar membuatku menderita. Aku benci wajah di hadapanku. Gara-garanya juga, aku harus kehilangan mahkota yang amat berharga untuk setiap perempuan.


Cepat, tangan ini bergerak ingin melukai wajah cantik yang memantul lewat kaca. Tapi tiba-tiba terlintas seloroh mas Yuda saat kami ziarah ke makam ibu. Saat itu usiaku sembilan tahun.


Mbak Tika mengeluh, rindu pada ibu. Berziarah tak terlalu mengobati kerinduan itu sebab ia ingin memeluk ibu.


"Siapa bilang ibu sudah benar-benar meninggalkan kita. Ibu masih meninggalkan sesuatu yang bisa mengobati kerinduan kita pada ibu." ucap mas Yuda, sembari melirikku. "Lihat Ayu, sibungsu kita. Wajahnya benar-benar persis ibu. Ia adalah duplikat ibu. Seratus persen mirip, tak ada bedanya. Hanya saja, Ayu versi mudanya ibu. Iya kan, yah?" Mas Yuda meminta pendapat ayah dan diaminkan dengan anggukan.


"Oh iya, benar. Walaupun ibu tiada, tapi ibu meninggalkan bungsu yang benar-benar mirip ibu." celetuk mbak Tika.


Dua saudaraku itu langsung memelukku. Sementara aku masih bengong, memikirkan, benarkah aku duplikat ibu? Jadi, wajahku benar-benar mirip ibu?

__ADS_1


Sebenarnya di rumah ada beberapa foto ibu, namun aku hanya sekali melihatnya. Ditinggalin ibu semenjak kecil membuatku tidak dekat dengan ibu. Ayah, mas Yuda dan mbak Tika selalu bisa menggantikan sosok ibu untukku. Kasih sayang mereka, meski tentu tak sama dengan ibu, tapi cukup berlimpah untuk menjadi labuhan rinduku.


"Ibu," aku menangis sembari mengusap wajah ini. Teringat lagi kata-kata mbak Tika agar aku selalu menjaga wajah ini, sebab jika ia rindu ibu, ia bisa memelukku.


Tangan yang memegang gunting itu langsung gemetar. Aku tak bisa membayangkan jika wajah ini ku rusak dengan gunting, pastinya mbak Tika dan mas Yuda akan sedih karena tak bisa lagi melihat wajah ibu di wajahku.


"Astagfirullah Ayu!" tiba-tiba terdengar suara jeritan eyang yang berlari kecil mendekati aku. Tangannya tak kalah gemetar, segera meraih gunting di tanganku, lalu menjauhkannya dari jangkauan, setelah itu barulah eyang membawaku dalam pelukannya. "Jangan lakukan. Jangan lakukan itu nduk. Eyang tahu bagaimana sedihnya kamu saat ini, kami juga merasakan hal yang sama, hati eyang, ayahmu, kakak-kakakmu, semuanya juga hancur nduk. Tapi kalau kamu melakukannya, kami akan semakin hancur. Mungkin, eyang akan mati ...."


"Astagfirullah eyang," aku yang masih berada dalam pelukan eyang langsung meraung. Luka ini teramat dalam, tapi aku tak bisa egois, membuat luka baru di hati orang-orang yang amat ju cintai untuk melarikan diri dari semua ini.


"Jangan ya nduk. Eyang minta tolong, jangan lakukan ini. Kami semua akan mendampingi kamu, nduk. Apapun yang terjadi, kami akan berusaha melindungi kamu. Ayu itu cucu kesayangan eyang, eyang nggak mau terjadi hal yang tidak-tidak sama kamu. Masa depan kamu masih panjang, nduk. Katanya kamu pengen jadi dokter. Semangat ya nduk, eyang temani." Eyang memelukku erat, kami berdua sama-sama menangis.


Maafkan atas kebodohanku. Maafkan karena aku sudah mengizinkan setan untuk mempengaruhiku hingga kejadian itu nyaris terjadi.


Eyang sudah menceritakan semuanya pada ayah. Pagi-pagi sekali; ayah, mbak Tika dan mas Yuda menelepon. Dari suaranya aku sangat yakin mereka cemas, takut terjadi sesuatu padaku. Sebenarnya mbak Tika ingin menyusul ke rumah eyang, tapi tertunda karena ia harus fitting pakaian untuk persiapan pernikahannya yang tinggal menghitung hari. Kurang sebulan lagi, mbak Tika akan menikah dengan pujaan hatinya. Kakak Perempuanku itu sudah menentukan pilihan, ia akan menikah muda. Aku tahu, mbak Tika sengaja menikah lebih cepat sebab ingin meringankan beban ayah. Mbak Tika ingin ayah fokus pada pembiayaan kuliahku saja.


"Ayu nggak apa-apa. InshaAllah kejadian itu tak akan terulang lagi." Aku berjanji pada mereka. Sebuah janji yang ku ucapkan dengan sungguh-sungguh karena tak ingin menambah beban pikiran mereka lagi. Setelah apa yang terjadi padaku, mereka pasti sudah teramat pusing, apalagi harus ditambah dengan ujian ini lagi.

__ADS_1


"Yu, temani eyang belanja ke pasar, yuk." eyang berdiri di depan pintu kamarku. Perempuan yang sudah melahirkan ayah itu sudah rapi dengan kerudungnya. Eyang terlihat begitu cantik meski usianya sudah sepuh.


"Ke pasar?" aku mengerutkan kening. Ingat kenangan saat masih kecil. Hal yang paling aku sukai adalah diajak ke pasar oleh eyang.


Dulu, saat masih kecil, aku bisa berebut dengan mbak Tika dan Arum sepupuku hanya supaya dipilih menemani eyang ke pasar. Sebenarnya pasarnya sangat dekat dengan rumah eyang, bisa ditempuh jalan kaki, hanya saja, eyang hanya akan membawa satu cucunya saja agar tidak repot saat membawa belanjaan.


Eyang yang cukup dikenal di kampung ini selalu khawatir, setiap mengajak cucunya ke pasar, pasti akan dipanggil-panggil oleh tetangga yang kebetulan juga berjualan di pasar. Kadang juga mereka mencandai hingga kami menangis. Eyang akan merasa kerepotan bila kami sampai tantru . Makanya, eyang memutuskan hanya membawa satu orang saja dan yang sering terpilih adalah aku sebab aku cucu eyang paling kecil.


"Yu, ikut eyang ke pasar yuk. Kamu sudah lama, kan, tidak makan kue lupis dan getuk lindri? Hayuk kita beli, mumpung masih pagi. Sekalian belanja sayur untuk persiapan makan siang nanti. Pak De mu mau datang." kata eyang.


"Pak De Ikang?" tanyaku.


"Iya. Memang kamu punya Pak De yang mana lagi? Kan anak eyang cuma dua. Pak De dan ayahmu."


"Oh, iya eyang." aku memaksakan senyum. Pak De dan keluarganya akan datang. Entah mereka semua atau hanya Pak De dan Bu De. Tapi aku merasa tidak nyaman, teringat kejadian saat Pak De datang ke rumah tempi hari dan berdebat dengan ayah. Aku menebak, eyang sepertinya belum tahu tentang kejadian itu, makanya eyang enteng saja akan dikunjungi putra sulungnya.


"Yu, buruan, pakai kerudung kamu, nduk. Enggak usah ganti baju. Nanti keburu habis ayam kampungnya. Pak De kamu suka sekali makan gulai ayam kampung, sudah lama ia tak pulang, makanya eyang pengen masakin yang enak untuk mereka." kata eyang dengan penuh semangat.

__ADS_1


Eyang, Ayu harus bagaimana kalau nanti bertemu Pak De. Sejujurnya Ayu masih merasa kecewa dengan sikap Pak De saat itu. Ia ingin kami berdamai dengan orang yang sudah menghancurkan hidup Ayu!


__ADS_2