Haruskah Kita Menikah?

Haruskah Kita Menikah?
Janji


__ADS_3

Kini, aku duduk di hadapan mas Bagas. Butuh waktu untukku mengumpulkan keberanian melakukannya. Aku hanya ingat nasihat ayah dan mbak Tika sebelum berangkat ke Jakarta. Mereka mengatakan kalau pernikahan itu adalah ibadah terlama. Menikah berarti menyempurnakan agama. Berarti harus siap ketika menghadapi berbagai macam ujiannya. Namanya juga separuh.


"Mas," panggilku. Aku tak tahu harus mengatakan apa, yang terpenting adalah ia harus tahu bahwa aku tak akan berpaling darinya. "Bisa kita bicara?"


"Apa?" ia tampak malas-malasan.


"Mas tahu, sama seperti mas. Orang yang menjadi cinta pertamaku dan yang menempati relung hatiku adalah mas. Aku sangat bersyukur sekali menjadi istri, mas. Aku sangat senang sekali. Aku tahu, sudah berutang budi pada mas dan sampai kapanpun aku akan mengingatnya, menjadikan kebaikan mas sebagai motivasi ku untuk terus berbakti pada mas kelak.


Mas tak perlu meragukan hatiku. Sekalipun di dalam rahimku kini tumbuh anaknya, tapi anak ini hanya memiliki hubungan biologis saja dengannya sebab ia seutuhnya milikku. Aku yang mengandung dan melahirkan anak ini. Aku juga yang berhak menjadi orang tuanya.


Sekalipun lelaki itu kini telah berubah menjadi lebih baik lagi dan ia berhasil menarik perhatian banyak orang, tapi percayalah, hal itu tak berlaku padaku. Aku sama sekali tak mencintainya. Jangankan untuk suka, yang ada hanyalah kebencian yang begitu besar." ku jelaskan pada mas Bagas bahwa sampai kapanpun, asalkan ia setia padaku, akupun akan bersikap yang sama padanya.


"Kamu janji, Yu?"


"Ya. Tentu saja aku janji."


Mas Bagas kembali mengingatkan aku bahwa ia sudah berkorban banyak untukku. Tak mudah baginya sebenarnya untuk berpisah dari orang tuanya, tetapi semua dipilihnya sebab ia mencintaiku. Ia tak ingin membiarkan aku menanggung semuanya sendiri.


***


Aku baru saja hendak masuk ke dalam rumah ketika tiba-tiba menyadari ada sesuatu yang memperhatikanku. Sebuah mobil yang lagi-lagi aku tak tahu mereknya berwarna hitam metalik berdiri di seberang rumah kami. Mobil itu ku sadari sudah berada di sana sejak aku keluar mengantarkan mas Bagas pergi. Mobil itu bukan mobil kosong yang sedang numpang parkir, tetapi di dalamnya ada seseorang. Ya, aku yakin ada seseorang di dalamnya menatap ke arahku, sepertinya sejak tadi. Tapi siapa?


Tak ingin panik, aku tetap berdiri di tempatku semula sembari memainkan daun bunga yang sudah kering, yang ku ambil saat ingin masuk ke ruang tadi.


"BI!" panggilku.


Tergopoh-gopoh bi Supi menghampiri.


"BI, tetap lihat saya." Kataku, tetap tenang sembari tersenyum.

__ADS_1


"Iya, kenapa mbak?"


"Nanti, lihat ke seberang, ada mobil warna hitam parkir. Saya ingin bibi memastikan bahwa mobil itu tidak kosong."


BI Supi sangat pintar mengikuti instruksi yang aku berikan. Sembari bercakap-cakap ia melihat ke arah mobil itu. Kemudian mengiyakan apa yang aku katakan bahwa di dalam mobil itu memang ada orang.


"Sedang apa orang itu di sana? Apa jangan-jangan ia mengintai kita, Bi?"


"Bisa jadi mbak."


Aku segera mengambil sapu lidi, berjalan cepat keluar dari halaman. BI Supi sempat memanggil dan melarang, tetapi tidak ku pedulikan. Aku ingin tahu apa yang dilakukan orang yang ada di dalam mobil tersebut. Untuk apa ia mengintai rumah ini.


"Keluar!" Kataku, sambil memukul jendela mobilnya dengan sapu lidi. Kalau ia macam-macam, aku sudah bersiap akan memukulnya dengan sapu ini.


Klik. Pintu mobil terbuka. Aku terbelalak menyaksikan orang yang ada di hadapku. Juan, ia ada di sini. Secara reflek aku langsung memarahinya.


Sementara itu Bi Supi yang khawatir terjadi apa-apa denganku datang menyusul, tetapi karena sudah melihat isyarat dariku bahwa aku baik-baik saja akhirnya ia memilih kembali melihat dari halaman rumah.


"Maaf Yu kalau kamu ...." kalimat Juan ku potong.


"Apa? Kamu masih belum puas juga menyakiti kami? Apa lagi yang kamu inginkan dari kami? Ada banyak manusia di muka bumi ini, kenapa harus kami?" ingin sekali aku memakinya lebih banyak lagi, tapi sayangnya tubuhku terasa lemas, perutku langsung mual, seperti ingin muntah dan benar saja, dalam hitungan detik, aku langsung muntah.


Dengan sigap Juan membantuku. Meski aku sudah mencoba menepis tangannya, tetapi tak berpengaruh apapun karena tenaga Juan jauh lebih kuat dibandingkan aku.


Rutukan dan makian terus kuucapkan. Aku juga menyesali kenapa setiap bertemu dia perut ini langsung menunjukkan reaksi. Padahal biasanya tak ada rasa mual, tapi kalau sudah ada hubungannya dengan Juan, perasaan mual itu akan muncul. Mungkin karena perasaan benciku sudah teramat besar padanya.


"Maaf Yu kalau keberadaan ku membuat kamu tidak nyaman." katanya.


"Sudah tahu begitu kenapa masih di sini?" tanyaku sambil melotot, namun aku tak bisa lebih marah lagi sebab takut tiba-tiba kembali mual.

__ADS_1


"Aku hanya ingin memastikan kalau kamu baik-baik saja. Jujur aku sangat kepikiran. Sejak kamu menikah dengan Bagas ...."


"Apa urusanmu? Kamu bukan siapa-siapa ku, jadi jangan ganggu aku. Lagipula aku baik-baik saja. Sekarang aku sudah menikah dengan laki-laki baik yang bertanggung jawab!"


"Yu, kamu sudah membaca suratku?"


"Nggak. Sudah aku buang. Jadi sekarang pergilah!"


"Ayu ... Kalau kamu tidak mau bicara denganku, bicaralah dengan Arum. Ia akan menceritakan semuanya."


"Pergi Juan, pergi! Jangan menggangguku. Kamu itu adalah penjahat. Jangan melibatkan Arum juga atas semua kejahatan kamu. Kecuali kamu memang ingin menghancurkan keluarga besarku."


"Nggak Yu, aku nggak bermaksud menghancurkan keluargamu. Aku hanya ingin ...."


"Pergilah!"


"Yu, Bagas tak seperti yang kamu kira. Tolong dengarkan aku. Batalkan pernikahan kamu dengannya."


"Apa? Kamu gila ya?"


"Terserah kamu mau bilang apa. Aku mengerti kamu marah dan benci padaku. Aku menerima itu, Yu. Aku juga akan menunggu sampai kemarahan kamu reda. Aku hanya tidak ingin hidup kamu berantakan sebab Bagas tak sebaik itu."


"Oh jadi sekarang ini cara kamu untuk menghancurkan hidupku dan mas Bagas? Kamu ingin membuat kami berdua pisah dan saling membenci juga? Jangan mimpi Juan, aku tak sebodoh itu."


"Yu, dengar ini baik-baik. Bagas menikahi kamu bukan karena ia mencintai kamu."


"Oh ya? Hahaha, aku tahu mas Bagas. Kami sudah saling mencintai sejak dulu. Jadi berhentilah bersikap sok tahu Juan. Kamu bukan siapa-siapa kami dan kamu tak tahu seberapa besar cinta kami. Apalagi sekarang kami sudah menikah."


"Baiklah. Dengar ini Ayu Andara Nessa. Ayahku sudah membayar mahal agar Bagas mau menikah denganmu. Mereka tahu bahwa Bagas adalah lelaki yang kamu cinta makanya mereka menawarkan nya pada Bagas. Sekarang kamu mengerti!"

__ADS_1


__ADS_2