
Usai sarapan, aku mengurung diri di kamar. Sebenarnya tadi mau membereskan rumah, tapi dilarang oleh mas Bagas. Ia tak mau aku kelelahan, apalagi sekarang sudah ada bi Supi. Meskipun khadimat baru kami tersebut usianya menurutku sudah cukup tua, namun ia tak kalah gesit.
Di usia lima puluhan tahun Bi Supi masih kuat bekerja, bahkan ia juga gesit beberes, menyelesaikan dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain. Karena bingung mau mengerjakan apa, makanya ku putuskan untuk kembali ke kamar.
Baru mau istirahat, aku teringat dengan dua amplop yang aku dapatkan. Amplop pertama dari ayah. Waktu ku buka, ternyata isinya uang yang entah jumlahnya berapa. Di sana ada tulisan kecil dari ayah agar aku menggunakan uang itu untuk membantu keperluan sehari-hari kami. Ayah tak ingin terlalu membebankan semuanya pada mas Bagas. Ayah juga berjanji akan berusaha mengirim tiap bulan untuk kontrol kehamilanku dan juga biaya persalinan nantinya.
Meski mas Bagas mengatakan akan bertanggung jawab, tapi tetap saja keluargaku tak lepas tangan begitu saja. Bagaimana pun juga ia bukan ayah dari anak ini, ia adalah seorang yang membantuku. Kami sudah berhutang Budi padanya, jangan sampai kebaikan orang malah dimanfaatkan hingga menjadi manusia yang tak tahu diri.
Sebenarnya aku sendiri merasa sangat bersalah pada keluargaku dan mas Bagas. Aku sudah menyusahkan mereka.
Usai membuka amplop dari ayah, kini tanganku memegang amplop yang diberikan oleh Arum. Tumben-tumbenan ia mengirimi aku surat. Padahal ia punya nomor Hpku, yang dihadiahi oleh mbak Yuni.
Meski sempat kesal pada Arum, tapi kini perasaan itu sudah membaik. Arum adalah saudaraku, ia satu-satunya sepupu perempuan yang aku punya. Usiaku sama dengan Arum, hanya selisih beberapa bulan, makanya kami cukup akrab. Ia meski kadang menyebalkan dengan sikap ceplas-ceplos nya, tapi Arum sebenarnya baik, buktinya ia kemarin membantuku bertemu dengan mas Tio.
Senyumku terkembang saat ingat kenangan masa kecil kami. Arum kecil sering dimarahi ibunya karena bermain denganku. Ibunya kurang suka pada keluargaku, makanya tak heran jika pak De pun jadi ikut-ikutan berbuat sesukanya pada ayah. Sementara aku sering diingatkan oleh Eyang karena tak pernah mau memanggil Arum dengan panggilan mbak, aku lebih suka memanggil namanya karena sejak taman kanak-kanak kami sudah satu sekolah.
Senyum itu tiba-tiba memudar saat membaca tulisan tangan disepucuk surat itu.
Untuk Ayu Andara Nessa
Sebelumnya saya memohon maaf karena sudah lancang mengirim kamu surat, tapi saya melakukannya karena tak tahu lagi bagaimana cara menghubungi kamu.
__ADS_1
Ayu, saya tahu, pasti hingga saat ini kamu masih membenci saya dan saya menerima seluruh kebencian kamu itu karena saya memang pantas mendapatkannya. Saya adalah lelaki yang tidak baik, saya sudah menghancurkan masa depan kamu meski sebenarnya saya tak berniat melakukannya.
Belum selesai surat itu ku baca, kertasnya langsung ku remuk dan lempar ke tong sampah. Wajahku langsung memerah menahan amarah. Ternyata Juan masih berani mengirimi aku surat, padahal ia sudah berjanji akan menghilang selamanya dari hidupku, tapi janji itu tak ditepatinya.
Pada Arum juga aku kesal. Anak itu Ternyata tak kapok juga. Meski sudah disidang habis-habisan, bahkan kata mbak Tika, ia juga dimarahi eyang habis-habisan, tapi ternyata masih juga berhubungan dengan Juan. Entah apa yang didapatkan Arum hingga ia rela menjadi perantara lelaki itu.
[Tega kamu, Rum!] aku mengirim pesan pada Arum
Pondelku langsung berdering, Arum menelepon, tetapi tidak ku angkat.
[Apa mau kamu? Kenapa tega memberikan surat dari Juan? Kamu tahu kan aku sudah menikah? Aku sedang berusaha menata hidupku yang sudah hancur, Rum. Kenapa kamu malah memberikan jalan untuk penjahat itu? Kamu ingat kan kalau kita itu saudara? Tapi kamu malah berpihak padanya.]
[Tidak. Tak akan pernah. Surat itu sudah aku robek dan buang ke tong sampah. Kamu kira aku punya waktu membaca tulisan lelaki sejahat dia? Kamu salah, Rum. Aku sudah melangkah maju Sekarang, aku tak akan pernah lagi mengingatnya. Secepatnya aku akan bangkit dari penderitaanku yang sudah dibuat oleh Juan.]
[Tolong baca dulu, Yu. Nanti kamu akan mengerti.]
[Tak perlu!]
[Yu, dia memang salah, tapi tak punyakah kamu rasa belas kasihan? Hidupnya sudah kacau, Yu.]
Hp ku matikan. Lalu aku berbaring di atas tempat tidur dengan hati penuh amarah. Sayangnya bayangan wajah Juan malah muncul di pandanganku.
__ADS_1
Dia itu .... Kenapa harus aku?
Aghhh, aku memukul bantal keras-keras untuk menumpahkan emosiku. Rasanya terlalu sakit. Kenapa ada orang sejahat dia. Sudah begitu malah memaksaku untuk memaafkan. Harusnya ia sadar bahwa ia sudah membuat trauma yang begitu besar di hidupku. Jangankan untuk bertemu dengannya, mengingatnya saja sudah membuatku naik pitam.
***
Dua hari tinggal di Jakarta, aku sudah benar-benar bosan di rumah. Mas Bagas selalu berangkat pagi pulang malam, ia sangat sibuk dengan urusan kampusnya. Katanya ia harus belajar giat agar segera lulus. Sebenarnya ada bi Supi yang setia menemaniku di rumah, tapi tetap saja aku sangat ingin punya waktu lebih bersama mas Bagas. Meski kami sudah saling kenal dan bahkan dalam diam punya kesepakatan menikah setelah berhasil nanti, tapi tetap saja rasanya sekarang aku seperti tak mengenal lelaki itu. Ia berbeda dengan mas Bagas yang dahulu aku kenal.
Mas Bagas yang sekarang selalu sibuk, tak pernah punya waktu untuk bicara. Ia bahkan selalu bersikap dingin di meja makan. Padahal saat momen itulah aku berharap ada banyak cerita yang kami uraikan agar kedekatan kami semakin terjalin. Tetapi aku hanya bisa berpikir positif, mungkin mas Bagas begitu karena ia sedang disibukkan dengan urusan sekolahnya.
Ia tak bisa berleha-leha karena sudah punya aku yang harus dibiayainya. Rumah tangga ini pasti butuh uang yang tidak sedikit tiap bulannya, belum lagi kuliah mas Bagas. Kalau ingat itu aku harus lebih banyak bersabar lagi. Semua karena aku dan tak seharusnya aku banyak menuntut.
Baru saja hendak berbaring, tiba-tiba pintu kamarku di ketuk bi Supi, ia mengatakan ada tamu yang datang mengantar mobil.
"Mobil siapa, Bi?" aku mengerutkan kening. Kami berdua berjalan menuju halaman, benar saja, di sana ada mobil besar yang menurunkan mobil baru yang entah apa mereknya karena aku tak terlalu hafal. "Ini punya siapa, pak?" Tanyaku dengan tanah pada salah seorang yang mengantar.
"Pesanan pak Bahwa, Bu." Jawabnya.
Aku langsung melongo. Tak percaya kalau ini punya mas Bagas. Dan yang lebih membuatku melongo lagi saat melihat surat-surat pembayarannya yang menyatakan bahwa mobil ini sudah lunas.
Ini bercanda, kan? Duit dari mana? Aku tahu mas Bagas seperti apa,".
__ADS_1