Haruskah Kita Menikah?

Haruskah Kita Menikah?
Isi Hatinya


__ADS_3

Kami masih sama-sama diam di dalam mobil. Usai memberikan tisu dan sebotol air mineral, mas Bagas kembali diam. Tetapi aku sudah agak tenang karena ia sudah memberikan perhatian padaku. Berarti ia masih peduli meski tadi ia sempat marah.


"Kamu mau tahu kenapa aku menikahimu?" tanyanya.


Aku hanya melirik sekilas dengan perasaan campur aduk. apalagi ini?


"Juan. Ya, anak itulah alasannya kenapa aku memaksakan diri untuk menikahimu. Aku tak ingin kalah lagi darinya. Kau tahu Yu, dia selalu bisa mengambil apa yang aku inginkan. Sejak dulu ia selalu mendapatkan semuanya.


Saat aku masih duduk di bangku SMP, ayahku dan ayah Juan sama-sama bersaing untuk kursi parlemen, ayahku sudah berjuang keras. Kami bahkan sampai habis-habisan. Tapi ternyata ayah Juan lah yang menang. Ayahnya yang mendapat kedudukan itu. Sementara ayahku, stres berat karena kami sudah habis-habisan. Saat iseng aku bertanya pada Juan, apa ia senang menjadi anak dewan, ia dengan entengnya mengatakan tak menginginkan semua itu. Padahal jadi anak orang terpandang adalah keinginanku.


Tapi saat itu aku tak terlalu ambil pusing sebab aku bisa mengalahkan Juan di sekolah. Aku berhasil membuatnya menjadi anak berandalan. Ditambah ia memang broken home. Juan mudah sekali dipengaruhi untuk jadi anak nakal.


Tetapi sekarang Juan berubah. Ia bukan lagi Juan si tengil, berandal nakal yang suka membuat masalah. Ia sudah berubah jadi bintang kampus. Semua orang memuji-mujinya. Ia benar-benar berubah seratus delapan puluh derajat sehingga aku kehilangan cara untuk mengalahkannya.


Kamu tahu Yu, menjadi ketua dari kelompok itu adalah mimpiku, tapi kepala lembaga malah memilih Juan. Yang lebih menjengkelkan lagi, sebuah kantor hukum yang ku jadikan impian besar ku juga menawarkan Juan agar magang di sana. Ia mendapatkan jaminan bekerja setelah lulus menjadi pengacara. Menyebalkan sekali bukan?


Aku tak mau kalah lagi darinya. Makanya aku memutuskan untuk menikahi kamu. Semula aku sakit hati, perempuan yang aku cintai direbut paksa oleh Juan. Aku tak mau ia memenangkan kamu makanya aku memutuskan untuk menikahi kamu. Aku tak peduli meski pada akhirnya aku harus diusir oleh kedua orang tuaku.


Yu ... aku, aku sudah berkorban banyak untuk kamu. Jadi, jangan pernah coba-coba mengkhianati pengorbanan yang sudah aku lakukan. Kamu harus tetap di sisiku apapun yang terjadi. Jangan pernah silau apalagi sampai terpukau seperti perempuan-perenpuan di luaran sana saat melihat Juan. Ingat, kamu adalah milikku. Selamanya!" mas Bagas menekankan.


"Ya, aku akan berusaha setia." Kataku. Tak ada alasan bagiku untuk tidak setia padanya. Lagipula bukankah seharusnya seperti itu.


"Bisa juga ia melakukan kejahatan itu pada kamu untuk membuatku semakin menderita."


Aku langsung melirik mas Bagas. Kebencian ku pada penjahat itu kini semakin bertambah. Kenapa ia bisa sejahat itu? Ku pikir ia hanya menghancurkan hidupku, ternyata juga sudah menghancurkan hidup mas Bagas. Tapi kenapa Juan melakukan semuanya pada kami berdua?

__ADS_1


"Jahat sekali," aku menggunam. Aku hanya bisa berdoa semoga tak lagi dipertemukan dengannya. Apalagi jika itu hanya akan menambah penderitaanku.


"Ya. Sekarang kamu sudah tahu, kan kenapa aku begitu sakit hati dengan apa yang sudah ia perbuat kepada kamu. Aku tak bisa merelakan kamu menjadi miliknya Yu. Sampai kapanpun kamu hanya boleh jadi milikku."


"Ya, aku mengerti."


"Yu ... tidakkah kamu berpikir untuk membalasn?"


Aku mengernyitkan dahi. Bukankah kami sudah melakukannya. Tetapi tak ada hasilnya. Yang ada kami malah diserang balik. Memang tidaklah mudah untuk mendapatkan keadilan jika lawan kita orang berpengaruh seperti Juan yang selalu dilindungi kedua orang tuanya.


"Mari kita balas dia. Kamu mau kan Yu?"


"Itu nggak akan mudah, mas. Maksudku, mas tahu kan bagaimana ayah dan mas Yuda berjuang untuk menyeretnya ke penjara tapi hasilnya nihil. Kami malah dihajar habis-habisan dengan berbagai cara."


"Bukan begitu maksudku. Kita punya sesuatu hal yang akan membuat Juan hancur berantakan."


"Kamu janji akan menuruti apa yang aku minta?"


"Hmm,"


"Kita gugurkan bayi yang ada di kandungan kamu."


"Astagfirullah, mas!"


"Yu ... bayi itu adalah anaknya Juan. Ia tahu kamu hamil kan. Bahkan aku dengar sendiri pengakuannya pada orang yang aku percaya kalau Juan sangat ingin melihat anak itu lahir ke dunia ini. Ia ingin membesarkannya. Apapun akan dilakukannya demi anak inu. Kalau kita menghabisi anaknya maka aku sangat yakin ia akan menderita."

__ADS_1


"Astagfirullah, nggak mau. Mas paham nggak sih konsekuensinya?"


"Kenapa? Kamu takut atau tidak mau?"


"Aku ...."


"Yu ... kamu yang mengatakan membenci Juan. Kalau memang itu benar, kenapa kamu mau mempertahankan anak haram itu?"


"Astagfirullah mas. Hati-hati kalau ngomong. Anak ini bukan anak haram. Anak ini anak yang masih suci. Yang haram adalah perbuatan penjahat itu. Lagipula aku nggak mau melakukan dosa seperti yang ia lakukan."


"Dosa? Dosa apa yang kamu katakan. Kamu kan korban Juan. Kalau kamu nggak menginginkan bayi itu ya bukan dosa kamu. Toh dia yang menjahati kamu. Iya, kan?"


"Mas, Allah menitipkan bayi ini di rahimku bukan tanpa sebab. Lagipula ayah dan mbak Tika sudah mewanti-wanti agar aku menjaga anak ini dengan baik. Ia tak berdosa. Bagaimana pun juga ia adalah rezeki yang Allah berikan padaku. Meski dia datang lewat seseorang yang aku benci. Tetapi itu bukan kesalahan anak ini. Ia tak bersalah sama sekali. Justru ia adalah korban sama seperti aku. Lalu apakah pantas kita melenyapkan dia padahal ia tak bersalah. Sungguh aku nggak mau mas. Aku tak bisa."


"Oh, berarti benar kamu menyukainya juga?"


"Astagfirullah, itu semua tidaklah benar mas. Aku hanya mencintai mas Bagas dari dulu sampai sekarang. Semula aku juga tak menginginkan bayi ini, tapi setelah aku pikirkan baik-baik, aku tak ingin menyingkirkan anak ini sebab ia tak bersalah. Ia berhak hidup dan aku akan mempertahankan bayi ini sampai dia lahir."


"Benar-benar ya kamu!" mas Bagas kembali marah, wajahnya sampai memerah menahan emosinya.


Kini mas Bagas kembali menyetir, ia memajukan mobil lebih kencang dari sebelumnya hingga membuatku ketakutan. Beberapa kali kami sampai hampir menabrak. Aku baru bisa bernafas lega saat mobil memasuki halaman rumah. Itupun mas Bagas menginjak rem secara mendadak hingga jarak mobil dan dinding rumah hanya berjarak beberapa centimeter.


"Ya Allah," aku hanya bisa membatin.


"Aku nggak mau tahu, kamu harus gugurkan kandunganmu atau ...." ia tak melanjutkan, keluar dari mobil lalu membanting pintu keras-keras.

__ADS_1


"Ya Allah." kini air mata yang tertahan itu tumpah juga. Kenapa semuanya jadi begini.


__ADS_2