Haruskah Kita Menikah?

Haruskah Kita Menikah?
Kamu?


__ADS_3

Tiga kantong besar berisi makanan, ditambah bungkusan kecil yang dari aromanya aku yakin itu nasi Padang kini telah berada di hadapanku. Tetapi pandanganku tak tertuju ke sana, melainkan pada lelaki yang juga di hadapku, kami hanya berbatas dengan kantong belanjaan.


"Ka ... kamu?" Aku melotot. Berbagai pertanyaan kini muncul di benakku. Tentang bagaimana ia bisa berada di sini, bagaimana ia bisa mengenal kak Rani dan anaknya, padahal di sini adalah kawasan kumuh dan kak Rani adalah perempuan malam. Dari cara mereka berbincang tadi, terlihat jelas kalau mereka sudah akrab. Apa jangan-jangan? Aku menggeleng keras, seolah hati ini tak ingin menerima kenyataan kalau ia dan kak Rani ada sesuatu. Tapi, tidak mungkin mereka bisa seakrab itu jika tak ada hubungan apa-apa.


"Yu?" Ia tak kalah kaget mendapati ku di sini. "Bagaimana ceritanya kamu bisa di sini?" Juan balik bertanya. "Bukankah harusnya kamu ada di rumah Bagas? Apa yang terjadi?" ia memberondong dengan banyak pertanyaan.


"Kalian saling kenal?" tanya kak Rani.


"Kak Juan dan kak Ayu temenan?" Cici ikut nimbrung.


"Hah ... nggak. Nggak kenal, kak!" Aku menegaskan.


"Yu, jawab pertanyaan saya. Ada apa ini, kenapa kamu ada di sini? Mana Bagas? Bukannya harusnya kamu bersama dia? Bagaimana ceritanya kamu ada di sini?" tanya Juan lagi.


"Semalam aku nemuin dia di dekat sungai, dia mau bunuh diri!" Tegas kak Rani.


"Bunuh diri? Yu, kenapa?" Juan seperti tak ingin memberiku ruang untuk bernafas. Ia terus memburu dengan pertanyaan yang tak ingin ku jawab. Aku mau berada di mana saja, apa urusannya dengannya.


"Saya keluar dulu." dengan langkah cepat aku berlalu meninggalkan rumah kak Rani, berjalan cepat tanpa tahu harus melangkah kemana. Sialnya, Juan benar-benar tak membiarkan aku, ia ikut menyusul di belakang, bahkan langkahnya begitu cepat sehingga tak terlalu jauh ia sudah bisa menyusulku.


"Katakan apa yang sebenarnya terjadi, Yu. Apa benar kamu mau bunuh diri? Tapi kenapa? Apa Bagas melakukan sesuatu padamu? Apa ia menjahati kamu? Yu ...."


"Juan, sudahlah! Berhenti bertanya-tanya karena kamu bukan siapa-siapa saua yang harus diberitahu semuanya. Lagipula apa haknya kamu mengatakan mas Bagas menjahati saya. Harusnya kamu berkaca, kamulah yang jahat dan karena perbuatan kamu saya harus menanggung semuanya!" Aku sudah tak bisa membendung emosi lagi. Semua uneg-uneg itu keluar juga.


"Maafin saya, Yu,"


"Kalau maaf bisa mengembalikan semuanya seperti dulu, saya bisa berikan. Tapi tidak, kan? Semua sudah berantakan. Saya sudah hancur sehancur-hancurnya!"


"Yu,"


"Sudahlah Juan, berhenti bicara apalagi mengikuti saya. Jalani saja hidup kamu sendiri dan jangan pernah mempedulikan saya lagi. Anggap kita tidak saling kenal!"

__ADS_1


"Yu, maaf,"


"Pergi!"


"Meski kamu mengusir saya berkali-kali, tapi saya tetap tak akan bisa meninggalkan kamu, Yu. Saya sudah katakan kalau kamu adalah perempuan pertama dan terakhir yang saya cintai. Saya akan tetap ada di sisi kamu."


"Jahat!"


"Katakan Yu, bagaimana caranya supaya kamu mau memaafkan saya. Apapun itu akan saya lakukan."


"Pergi yang jauh dari hidup saya,"


"Saya tidak bisa, Yu. Bahkan saya akan berusaha untuk merebut kamu dari Bagas."


"Gila kamu Juan! Kamu kira saya boneka yang tidak punya perasaan? Mentang-mentang kamu punya banyak uang jadi bisa berbuat seenaknya."


"Saya tidak seperti itu, Yu. Saya sudah tidak punya apa-apa."


"Demi kamu, saya sudah meninggalkan semuanya. Hidup saya yang sekarang adalah hidup yang baru. Saya memulai semuanya dari nol, tanpa bantuan dari orang tua saya. Kamu mungkin benci pada saya karena saya tak mendapatkan hukuman atas perbuatan saya kepada kamu, Yu. Tapi sikap kamu yang terus menjauhi saya adalah hukuman terberat, bahkan lebih berat ketimbang di penjara."


"Omong kosong. Pergilah!"


"Kalau sekarang kamu belum bisa menerima saya, tidak apa-apa, Yu. Saya akan terus berjuang untuk mendapatkan hati kamu sampai kapanpun juga. Dan saya harap kamu tidak melakukan perbuatan terlarang lagi seperti yang dikatakan oleh mbak Rani. Berjanjilah, Yu."


"Apa-apaan sih kamu? Ini adalah hidupku, terserah aku!"


"Kamu lupa Yu, kamu yang mengatakan kalau kamu adalah makhluknya Allah, jadi kamu gak bisa melakukan apapun sesuka kamu. Ada aturan yang harus kamu ikuti."


Deg. Apa yang dikatakan oleh Juan itu memang benar. Tetapi yang membuatku kaget adalah kata-kata itu keluar dari mulutnya.


Aku memang pernah mengatakan hal tersebut saat masih menjadi pengurus rohis. Tetapi aku tak menyangka jika Juan tahu. Berarti saat itu ia ada di masjid juga.

__ADS_1


Lelaki itu memang keras kepala. Ia benar-benar tak memberiku ruang untuk sendiri. Ia terus mencecarku, berusaha membujuk agar aku memaafkannya. Lelah diikuti terus, akhirnya ku putuskan untuk kembali ke rumah kak Rani. Lagipula tempat ini asing untukku. Lingkungannya kebanyakan pekerja malam, aku tak mau pertengkaran kami malah menarik perhatian orang lain.


***


Rupanya masalah belum juga mau hilang dariku. Begitu sampai di depan rumah kak Rani, di sana sudah ada seseorang yang menunggu. Siapa lagi kalau bukan mas Bagas. Rupanya ia mencariku, mas Bagas mendapatkan informasi setelah mencari kesana-kemari sejak tadi pagi.


"Kenapa ada orang ini, di sini? Apa-apaan ini?" Mas Bagas menatap Juan dengan pandangan tak suka. Lalu ia berpaling padaku, tatapannya mengintrogasi. "Kamu kabur dengan dia?"


"Ya!" Juan menjawab lebih dahulu.


"Apa?" aku mengerutkan kening, tak suka dengan kebohongannya. Tapi Juan langsung menyambar, ia tak memberiku kesempatan bicara.


"Saya yang membawa Ayu ke sini. Dia mau tinggal di sini, jadi biarkan dia di sini. Sekarang kamu pergilah!" kata Juan.


"Hah? Aku tidak salah, kan? Yu, apa-apaan ini?" Mas Bagas berusaha meminta jawaban dariku.


"Gas, ini adalah pilihan Ayu, jadi tolong hormati pilihannya." kata Juan.


"Pilihan? Hehhh. Juan, apa kamu sadar siapa Ayu sekarang? Dia adalah istriku. Kami sudah menikah secara agama dan setelah bayi itu lahir maka kami akan menikah secara resmi. Paham? Jadi sekarang minggir, biar saya bawa Ayu pulang." kata mas Bagas.


"Saya nggak mau." Kataku.


"Dengar sendiri, kan? Ayu nggak mau ikut kamu. Ayu ingin di sini bersama saya. Ayu sudah menentukan pilihannya. Lagipula tak perlu membahas pernikahan kalau kamu melakukannya hanya demi uang." Kata Juan.


Mas Bagas terdiam, mungkin ia merasa tersudut karena rahasianya diketahui Juan. Sementara aku menggigit bibir karena kesal. Aku tak suka pada Juan tapi aku lebih tidak ingin bersama mas Bagas saat ini. Aku memang sudah tak sama, tapi aku tak ingin direndahkan seperti itu.


"Yu, ikutlah dengan saya. Kita bicarakan semuanya baik-baik. Ini hanya salah paham. Saya benar-benar mencintai kamu." mas Bagas berusaha membujukku.


"Nggak!" kataku.


"Sudah dengar, kan? Sekarang bersikap gentle lah Gas, pergilah dan jangan ganggu Ayu." Juan mendorong pelan pundak Mas Bagas.

__ADS_1


Mungkin karena tahu usahanya hanya akan sia-sia saja, mas Bagas akhirnya menyerah juga. Ia beranjak pergi setelah sebelumnya meninggalkan pesan bahwa ia akan datang lagi untuk menjemput ku.


__ADS_2