Haruskah Kita Menikah?

Haruskah Kita Menikah?
Biang Kerok


__ADS_3

Sepekan bekerja. Pada akhirnya aku sengaja menemui Mas Bagas. Tentu saja tanpa sepengetahuan Juan, sebab aku yakin kalau minta izin ia tak akan memberi izin. Aku memutuskan menemuinya untuk menghentikan semua ulahnya. Aku sudah tak tahan menghadapi kumpulan dokter muda yang terus menjadikan aku sebagai bahan gunjingan mereka.


Atas kesepakatan bersama, kami bertemu di tempat yang cukup tersembunyi. Di pojok lapangan yang berada tepat di belakang bangunan rumah sakit tempat aku dinas. Aku ke sana, beberapa saat setelah Juan meninggalkan aku di halaman rumah sakit, sementara ia menuju kantornya.


"Berhentilah mempengaruhi mereka dan menyebarkan gosip yang tidak benar tentang aku dan suamiku." kataku pada mas Bagas.


"Suami? Cis, jadi kamu meminta bertemu hanya untuk memberitahu kalau Juan adalah suamimu." mas Bagas tersenyum sinis.


"Apa yang terjadi di masa lalu, anggap saja tak pernah terjadi. Lupakan semua. Mari memulai hidup baru yang lebih baik." Pintaku. "Aku dengan hidupku yang baru, dan kamu silakan mulai hidup baru juga. Lebih baik kita tak saling kenal lagi."


"Hahaha, menurutmu apa aku bisa memulai hidup baru setelah Juan kembali merebut semuanya dariku?"


"Suamiku tak merebut apapun dari mas."


"Kata siapa? Dia sudah merebut istriku. Kalian berselingkuh di belakangku!"


"Astagfirullah. Kamu tahu mas, bagaimana traumanya aku dengan Juan kala itu. Bagaimana mungkin kamu bisa menuduh aku berselingkuh dengannya."


"Trauma? Ahh yang benar? Tapi endingnya, kalian bersama. Menjijikkan. Pelaku pemer----dengan korbannya, cekcek cekcek!"


"Aku dan Juan ...."


"Apa? Kamu mau bilang jatuh cinta padanya? Sejak kapan Ayu? Sejak ia melecehkan kamu? Oh berarti kamu ...."

__ADS_1


Plak. Sebuah tamparan mendarat di pipi mas Bagas. Badanku bergetar. Air mataku mengalir dengan deras. Salahkah. Salahkah jika aku jatuh cinta pada lelaki yang pernah menjahatiku? Jika itu salah, kenapa Tuhan mempersatukan kami?


"Aghhh, berani sekali kamu memukulku hanya karena lelaki breng--- itu!" Mas Bagas marah, ia mencekal lengan dengan kuat. "Apa yang kamu lihat darinya sehingga kamu jatuh cinta padanya? Katakan!" Bentak Mas Bagas.


Saat ini aku benar-benar menyesal, kenapa memberi kesempatan kepada Mas Bagas untuk bertemu. Harusnya aku menepati semua kesepakan ku dengan Juan, bahwa saat kami sapakat bersama maka tak ada lagi masa lalu.


"Lepaskan, sakit!" Aku meronta, berusaha melepaskan pegangannya.


"Lepas? Sampai kapanpun aku tak akan melepaskan kamu Ayu Andara Nesa. Aku sudah mempercayakan hatiku padamu tapi kamu main-main!" dengan cepat Mas Bagas berusaha menyentuhku, mengulang kesalahan sama yang pernah dilakukan oleh Juan.


Aku sangat kaget dengan perlakuannya. Untuk beberapa saat aku seperti membeku. Tak bisa mencerna apa yang tengah terjadi.


"Hei, ada apa? Apa kau juga menikmatinya?" tanya Mas Bagas.


"Aku benar-benar membencimu, Bagas. Sampai kapanpun aku tak ingin bertemu denganmu lagi!" Kataku.


"Dasar pela---, kau benar-benar murahan!" ejek Mas Bagas. "Rupanya selama ini sikap alim itu hanya topeng, tapi ternyata kau perempuan nakal yang haus akan laki-laki!" tambahnya.


Tentu saja ejekan itu membuatku murka. Aku benar-benar merasa direndahkan serendah-rendahnya.


"Jahat kamu jahat!" Seperti kesetanan, aku memukulnya sekuat tenaga. Namun kekuatanku tak seberapa jika dibandingkan Mas Bagas. Dengan mudahnya ia bisa mengalahkan ku hingga kini keadaan berbalik. Aku berada dalam dekapannya. Kami benar-benar sangat dekat hingga aku bisa mencium aroma nafasnya.


"Dulu Juan merebut kamu dariku. Ia melecehkan kamu, lalu tiba-tiba kalian bersama. Sekarang aku akan melakukan hal yang sama agar kamu bisa kembali dalam pelukanku!" mas Bagas menyeringai. Ia menyeret ku masuk ke dalam mobilnya. Ia berhasil membuatku tak berkutik. Sementara, karena tempat ini sepi, tak ada orang dan jauh dari keramaian makanya tak ada satupun yang bisa mendengar teriakanku.

__ADS_1


***


Ku harap dunia kiamat saja. Atau hidupku berakhir saja. Rasanya semua benar-benar sudah tamat saat mas Bagas merenggut kehormatan ku dengan paksa. Kini, kami berdua berada di dalam mobilnya dengan pakaian acak-acakan. Ia tertawa-tawa kecil setelah puas mendapatkan apa yang diinginkannya. Sementara aku menyesali semuanya.


Kenapa harus mengajaknya bertemu? Kenapa mau bertemu di tempat sunyi. Aku benar-benar sangat bodoh!


Emosiku masih sangat memuncak. Dengan sisa tenaga yang ku miliki, aku mencakarnya sekuat tenaga. Namun lagi-lagi aku kalah.


"Apa lagi? Nikmati saja. Bukankah dulu kau juga menikmatinya bersama si breng---Juan. Hahaha." mas Bagas tertawa. "Oh ya, sekarang turunlah..tapi ingat, jangan pernah katakan pada siapapun atau kau sendiri yang akan menahan malu. Satu lagi, tunggu panggilan dariku selanjutnya ya." mas Bagas membuka pintu mobil, mendorongku keluar sambil melempar tasku. Lalu ia tancap gas meninggalkan aku dengan perasaan hancur.


Bodoh kamu Ayu, bodoh! Kamu cari penyakit sendiri. Sekarang harus bagaimana? Kamu sudah mengkhianati Juan!


Aku menangis, memeluk tubuhku kuat-kuat, sambil sesekali memukulinya sebab kesal yang luar biasa. Kenapa harus terjadi untuk kedua kalinya?


***


Entah sudah berapa kali panggilan dari Juan masuk ke Hpku. Tapi ku abaikan. Aku masih sangat hancur, tak tahu harus melakukan apa. Aku juga rasanya tak punya muka untuk bertemu Juan. Aku benar-benar hancur, sangat malu sekali. Sementara langit semakin gelap. Air mata yang sudah kering kembali mengalir. Kejadian yang sama saat masih SMA, sekarang terulang lagi. Apakah aku begitu hina hingga harus mengalaminya sebanyak dua kali?


Badanku masih terasa sakit. Bahkan untuk bergerak saja rasanya sangat sulit, ditambah mental yang berantakan. Aku benar-benar hancur.


Baru hendak menutup mata, tiba-tiba suara sirine diikuti sorot lampu terarah padaku. Selang beberapa detik, terdengar suara Juan memanggilku. Ya, itu benar-benar Juan. Ia berlari ke arahku. Raut wajahnya begitu khawatir, begitu kami berhadapan ia memelukku erat.


"Kemana saja? Ada apa? Aku mencarimu kemana-mana, menelepon berulang kali tapi tak ada yang diangkat. Aku sampai harus lapor polisi karena khawatir. Untungnya mereka mencari lewat GPS di Hpmu sehingga aku bisa menemukan kamu di sini. Kenapa sayang, ada apa?" tanya Juan, ia melepaskan pelukannya, melihatku lekat-lekat. "Sayang ... kamu?" ia kembali memperhatikan diriku. "Ka ... kamu? Si ... siapa bajingan itu? Katakan sayang, siapa bajingan itu?" Juan begitu panik, ia berteriak, mengguncang tubuhku. Namun aku tak cukup kuat untuk menjawab pertanyaannya, aku merasa sangat lemah hingga akhirnya tak sadarkan diri. Aku pingsan dalam dekapan suamiku.

__ADS_1


__ADS_2