
"Mending berhenti saja," tiba-tiba seseorang berdiri di sampingku sambil membawa setumpuk piring kotor. Namanya Doni, ia juga pelayan di restoran ini. "Aku lihat kamu tidak nyaman, mungkin kamu mengalami morning shicknees. Biasanya ibu-ibu yang sedang hamil muda begitu dan sangat sensitif dengan aroma piring kotor bekas makanan. Itu akan membuatmu menderita."
"Saya nggak apa-apa, kok." kataku, sambil berusaha menahan agar tak muntah.
"Enggak apa-apa tapi wajah kamu nggak bisa bohong. Pucat dan kelihatan tidak nyaman. Pasti mau muntah, kan?"
"Engg ... huekk huek," aku sudah tak tahan, terpaksa muntah karena aroma piring kotor ini benar-benar menyiksaku.
"Tuh, kan," dengan sigap ia mengambil spon di tanganku, lalu melanjutkan pekerjaanku. Untuk sesaat aku terpana, lalu kemudian sadar dan kembali meminta spon cuci piring. "Kalau dibilang sini, ya nurut. Jangan memaksakan diri. Aku tahu bagaimana beratnya seorang perempuan saat hamil muda. Serba nggak nyaman."
"Sini," kataku.
"Enggak usah, biar aku yang bantu. Kasihan kamu. Sudahlah. Jangan keras kepala. Nurut saja. Sekarang istirahat di sana " ia menunjuk tempat duduk yang berada tak jauh dari kamu
"Aku nggak butuh dikasihani," risih rasanya dikasihani oleh orang yang tidak ku kenal, lagi pula aku bukan manusia yang lemah, jadi enggak perlu dikasihani.
"Memang bapaknya dimana?" ia melirik padaku kemudian kembali fokus dengan piring kotornya.
"Hah?"
"Maksudku, bapaknya anak kamu. Kamu kan lagi hamil."
Aku tak menjawab karena memang tak ingin membahasnya. Lagi pula ia adalah orang baru yang aku kenal hanya karena kebetulan satu tempat kerja. Jadi rasanya tak perlu untuk berbagi cerita dengannya. Apalagi kami lawan jenis. Apa yang terjadi antara aku, Juan dan mas Bagas membuatku trauma dekat dengan laki-laki.
__ADS_1
"Saya ingin kuliah, makanya harus bekerja." kataku. "Masuk fakultas kedokteran biayanya tidakymurah, makanya saya harus mempersiapkan semuanya sejak dini."
"Oh, begitu. Aku salut dengan orang-orang yang berkerja keras untuk mewujudkan mimpinya." katanya. "Dua tahun lalu, waktu baru lulus SMA, akupun punya cita-cita melanjutkan pendidikan selepas SMA. Aku pun ingin jadi dokter. Makanya setelah ujian kelulusan aku bekerja, tapi sayangnya mimpi itu harus tertunda karena aku harus membersamai ayahku. Beliau sakit keras, aku harus mengurusnya dan semua tabunganku terkuras. Kini ayahku telah tiada, makanya ku pikir inilah waktunya untuk mewujudkan mimpiku. Tahun depan aku pun akan mendaftar di fakultas yang sama denganmu. Aku juga ingin jadi dokter. Jadi, kita akan jadi saingan."
"Hah?"
"Hehehehe, tidak perlu khawatir. Aku yakin kita bisa bersaing sebab ku lihat kamu juga cerdas."
"Lihat dari mana?"
"Dari mata kamu."
Aku ingin tertawa, tapi ku tahan. Kami yang semula kaku sudah berangsur mencair. Pembicaraan kami semakin mengakir. Bertemu dengan mas Doni membuatku jadi tahu banyak hal untuk persiapan mendaftar kuliah tahun depan.
"Pokoknya kamu jangan menyerah, Yu. Ingat ya, kalau kamu belum punya biaya, tetap mendaftar saja karena ada beasiswa. Dan kalau kamu butuh bantuan, jangan tahu untuk minta bangtuanku karena tahun depan InshaAllah kita satu angkatan!" tambah mas Doni hingga membuat semangatku menggebu-gebu.
***
Langit kota Jakarta sudah mulai gelap, aku mempercepat langkahku. Namun di blok dekat rumah kak Rani, langkah ini seketika terhenti ketika aku dan Juan berhadapan. Sesaat kami saling diam. Waktu seolah berhenti. Ada perasaan aneh di hati, perut juga memberi sinyal aneh yang tak ku mengerti. Yang jelas aku merasa sangat nyaman meski sebelumnya terasa tidak nyaman.
Belum ada kata-kata yang keluar, untuk segera berlalu juga rasanya tak ingin. Sudah terlalu lama rasanya aku tak melihat wajahnya.
"Yu," ia bicara.
__ADS_1
"Ngapai kamu di sini?" aku menaikkan nada suara.
"Saya cuma ...."
"Kamu mau mengintai saya, kan? Kenapa sih kamu nggak ngebiarin saja saya hidup tenang di sini? Kamu melarang mas Bagas, tapi kamu sendiri melanggar janjimu. Keterlaluan! Nggak bisa dipegang kata-katanya!"
"Maaf Yu, saya ...."
"Saya apa? Mau membuat hidup saya tidak tenang dengan terus berkeliaran di sini. Pokoknya saya ngga mau tahu, ini terakhir kalinya saya melihat kamu. Setelah ini kalau kamu masih muncul juga maka saya akan pergi ke tempat yang kamu nggak akan pernah tahu!" Aku mengancam.
"Jangan Yu. Ya, saya janji akan berusaha untuk tidak muncul di hadapan kamu."
Juan beranjak meninggalkan aku, bersamaan dengan itu perasaan nyaman itu pun menghilang. Seperti ada yang dicabut di dada ibu. Sesak.
Ahhh diri, kamu kenapa? Aku menahan air mata. Sesak di dada ini rasanya sudah tak bisa dibendung lagi. Aku ingin semuanya cepat selesai. Aku benci pada Juan, tapi entah kenapa saat ini aku pun merasa nyaman bila ia ada di dekatku. Aku harus bagaimana? Apakah semua ini ada kaitannya dengan kehadiran bayi di perutku? Ia, mau bagaimanapun adalah darah daging Juan, pastinya punya keterikatan dengan Juan. Meski aku sangat membencinya yang sudah menghancurkan hidupku.
***
Langkah kakiku kembali terhenti di depan pintu rumah kak Rani, ketika aku melihat pemandangan yang amat membuatku kesal. Ada banyak kantong berisi makanan di sana, Cici sedang mengerubuti makanan tersebut. Memilih mana yang ia suka. Sementara taknjauh dari sana, ada kak Rani yang tersenyum melihat lembaran merah yang dikeluarkan dari amplop putih. Entah berapa banyak jumlah uang itu, yang jelas cukup banyak karena melihatnya membuat kak Rani tersenyum puas.
"Hemm," aku berdehem, membuat ibu dan anak itu kaget. Melihatku, mereka langsung berubah. Kak Rani segera merapikan uangnya, sementara Cici menutup kembali kantong belanjaan dan menjauh.
"Dari siapa, kak?* tanyaku.
__ADS_1
"Eh Yu, kamu sudah pulang? Tumben kamu pulangnya terlambat? Aku kira kamu lembur dan pulangnya lebih malam." jawab kak Rani, terbata-bata.
"Itu dari mana, kak? Belanjaan dan uangnya banyak sekali." aku langsung mendekat, melihat kantong belanja dan cukup kaget sebab isinya adalah susu untuk ibu hamil, juga cemilan yang biasanya dianjurkan untuk perempuan yang tengah berbadan dua. "Apa ini?" tebakanku berarti benar. Ini pasti dari Juan. Ia memberikan makanan untukku. Lalu uang itu, pasti dari dia juga. Tapi apa maksudnya? Kenapa ia memberi kak Rani uang sebanyak itu? Apa sebagai imbalan karena sudah menampung aku dan menjadi mata-mata. Aku benar-benar kesal. "Kak, kok nggak dijawab? Ini dari siapa?" Aku yang biasanya tak banyak bicara kini berubah kritis. Aku harus tahu jawabannya!