Haruskah Kita Menikah?

Haruskah Kita Menikah?
Menemui Keluarga Mas Tio


__ADS_3

Motor metik berwarna merah melaju kencang menuju arah kota. Aku yang meminta Arum untuk ngebut. Saat ia mulai memelankan lajunya, maka dari belakang aku akan kembali mengingatkan agar ia lebih kencang lagi, meski Arum sempat protes, keberatan karena ia takut, tapi sepupuku itu tetap nurut, motor terus dilajukannya sekencang mungkin.


"Yang mana rumahnya?" tanya Arum, saat kami memasuki gang perumahan mas Tio.


"Sebelah sana," kataku. Meski baru sekali ke sana, tapi aku ingat betul lokasi rumahnya sebab mbak Tika sering sekali memberitahu saat kami lewat di daerah sini.


Tepat di depan rumah nas Tio, motor berhenti. Aku langsung meloncat. Sebenarnya bingung harus bicara apa, tapi hatiku telah bersikukuh agar aku memberitahu mereka bahwa mbak Tika tidak bersalah, akupun begitu. Kami hanyalah korban. Lantas, apakah pantas seorang korban mendapatkan perlakuan tidak adil seperti ini.


Pembatalan pernikahan secara sepihak hanya akan membuat hati seorang perempuan patah. Padahal, mbak Tika sudah terlalu berharap bisa bersanding dengan mas Tio.


"Yu!" panggil Arum.


"Apa?" langkahku terhenti. Arum yang baru turun dari motor segera menyusul ku.


"Kamu yakin mau bicara sama mereka?"


Aku mengangguk.


"Tuh, lihat. Rumahnya ramai. Nanti saja ya. Takutnya kita hanya bikin onar, malah jadi masalah baru."


"Enggak kok." aku tak peduli, bukankah semakin banyak orang malah semakin baik. Supaya seluruh anggota keluarganya tahu apa yang sebenarnya terjadi. Aku tak mau mbak Tika jadi korban hanya karena mendengar berita yang simpang siur di luar sana. "Assalamualaikum." aku berdiri di depan pintu.

__ADS_1


Seisi rumah itu kini menatap ke arahku. Mereka yang semulanya riuh kini hening. Melihat sikap mereka yang berubah drastis membuatku gugup.


"Maaf kalau kedatangan saya mengganggu." kataku. "Saya mau bicara dengan mas Tio."


Orang-orang di dalam rumah masih hening, tak ada seorang pun yang buka mulut, bahkan sekedar mempersilahkan aku untuk masuk.


"Ayu?" Mas Tio yang berada di dalam keluar, ia segera menghampiriku.


"Tio, siapa dia?" tanya ayahnya.


"Ini ... Ayu, adiknya Tika, pak." jawab mas Tio.


Bapaknya mengerutkan kening, lalu, wajahnya berubah cemberut. "Ada apa ya?"


Semua orang diam.


"Kalau itu benar, tapi kenapa? Apa salah mbak Tika, mas? Bukannya mas sudah melamar mbak Tika? Bahkan keluarga kami juga sudah mempersiapkan semuanya, termasuk sudah membagi undangan dan memesan catering." kataku


"Tidak usah khawatir, semua kerugian materi akan kami ganti. Bahkan dua kali lipatnya." tegas ayahnya mas Tio.


"Lalu hatinya? Bagaimana dengan hati mbak Tika yang patah? Apakah juga akan ada ganti ruginya, pak?" tanyaku lagi.

__ADS_1


"Apa maksudmu?" ayahnya mas Tio tampak kesal.


"Pak, sebelumnya saya minta maaf. Saya sudah dengar semuanya kalau bapak dan keluarga sudah membatalkan rencana pernikahan secara sepihak padahal antara mbak Tika dan mas Tio tak ada masalah. Ini benar-benar tidak adil." Kataku.


"Tidak adil bagaimana? Lalu kalau mereka jadi menikah apakah akan adik untuk Tio dan keluarga besar kami?" Kamu ... Kamu kan yang diperko** itu? Berita tentang kamu kan yang viral itu? Semua orang membicarakan tentang kamu. Lalu, kalau kami mengizinkan putra kami menikah dengan kakakmu, keluarga kami punya ikatan dengan keluarga kamu, apakah kami tak akan kena imbasnya? Apakah kami tak akan jadi bahan pembicaraan orang juga? Kalau hanya pembicaraan orang sih sebenarnya kami bisa tahan, tapi kalau ... kamu tahu kan siapa pelakunya? Kamu yakin, mereka akan diam saja kalau kalian tetap berisik? Kamu tahu, resiko apa yang akan kami dapatkan? Atau, apakah kamu bisa jamin kalau kami akan baik-baik saja? Ayo jawab!" hardik ayahnya mas Tio. "Lagipula dimana letak sopan santun keluarga kalian. Bukankah kalian sudah menerima pernikahan ini dibatalkan? Lalu kenapa sekarang malah mengirimkan anak ini untuk protes? Lucu sekali. Apa ayahmu tak mampu bicara hingga harus mengirimkan utusan anak-anak? Bukankah kalian tahu agama dan adat, kenapa jadi sembarangan seperti ini?"


"Sebenarnya kedatangan saya ke sini bukan atas perintah ayah, bahkan orang rumah tak ada yang tahu, saya ke sini karena keinginan saya sendiri, pak." Kataku. "Peristiwa itu ... itu semua diluar kendali saya, pak. Saya tak pernah menginginkannya. Begitu juga dengan keluarga saya. Saya dan keluarga adalah korban, lalu kenapa kami dihakimi seperti pelaku? Harusnya kalian melindungi kami," aku tak sanggup melanjutkan kata-kata. Rasanya dunia tak adil sekali. Aku pun tak ingin menjadi korban.


"Halah, saya tak percaya!" ayahnya mengejekku.


"Yu, sudah. Sebaiknya sekarang pulang dulu ya, Yu." pinta mas Tio. "Nanti saya ke sana, bicara lagi sama ayah dan Tika." kata mas Tio.


"Tapi ...." aku terbata-bata. "Pak, bapak juga punya seorang putri, jika kejadian yang menimpa saya terjadi padanya apakah bapak akan menyalahkan putri bapak juga? Atau, jika putri bapak bernasib sama dengan mbak Tika, apa bapak bisa terima?"


"Apa maksudmu bicara seperti itu?" Ayahnya mas Tio meradang. "Kamu mau menyumpahi Keluarga saya? Harusnya kamu instrospeksi diri, kenapa musibah itu menimpa kalian? Makanya, kalau masih kecil harus menjaga pergaulan, jangan sembarang bergaul dengan laki-laki, apalagi mereka yang berduit, kalau sudah kejadian nyesel, kan!"


"Pak, sudah!" Mas Tio berusaha menahan ayahnya. "Yu, pulang dulu ya." ia mendorong pelan lenganku hingga keluar dari rumahnya. "Yu, maafkan saya. Tapi, kedatangan kamu ke sini tak akan memperbaiki keadaan. Keluarga saya sudah bulat tak ingin melanjutkan lagi. Saya juga sebenarnya sedang berjuang untuk meluluhkan mereka, jadi tolong bantu doa saja dulu. Kamu katakan pada Tika, saya akan berusaha semaksimal mungkin. Saya tak akan mengingkari janji saya dahulu untuk mempersunting Tika, saya mencintainya. Ia adalah satu-satunya perempuan yang saya harapkan jadi pendamping hidup saya."


"Maafin saya mas kalau kedatangan saya malah membuat semuanya jadi tambah kacau," kataku dengan penuh penyesalan. "Tadi Arum cerita, saya tak bisa membayangkan bagaimana hancurnya perasaan mbak Tika."


"Iya Yu, saya tahu bagaimana perasaan Tika sebab saya juga merasakan hal yang sama. Saya tidak bisa terima jika harus berpisah dengan Tika." Mas Tio terlihat sedih. "Sudahlah, yang penting sekarang kita berusaha semaksimal mungkin agar pernikahan ini tetap terjadi. Tolong yakinkan Tika bahwa saya tidak akan menyerah!"

__ADS_1


"Nanti, kalau sudah ketemu mbak Tika, akan saya sampaikan mas." Kataku. "Tapi ... Mas Tio nggak akan meninggalkan mbak Tika, kan?"


"InshaAllah nggak, Yu. Saya akan berusaha agar kami bisa bersama. Ini ujian yang harus kami lewati." Mas Tio pamit masuk ke rumahnya sebab salah satu suadaranya memanggil. Mungkin ia tak ingin ayahnya semakin marah.


__ADS_2