Haruskah Kita Menikah?

Haruskah Kita Menikah?
Berdua


__ADS_3

Aku masih menimbang-nimbang, apakah harus keluar sekarang atau tetap bertahan di dalam kamar. Belum ada keputusan yang kubuat meski sudah berganti pakaian. Menolak ajakan takut mas Bagas malah makin marah, tetapi pergi rasanya masih takut untuk bertemu. Bagaimana kalau amarahnya belum reda? Selama mengenalnya inilah kali pertama ia marah, jadi aku belum mengerti bagaimana menanggapi kemarahannya.


Tok tok tok. Lagi-lagi ketukan pintu kamar membuat jantungku berdetak lebih kencang. Aku kembali gugup, meski ternyata yang mengetuk adalah Bi Supi, ia menyampaikan pesan mas Bagas yang sudah menunggu di mobil.


"Mas Bagas kelihatan masih marah, nggak Bi?" aku menyelidik.


"Sama saja sih Mbak, diam dan dingin." jawab Bi Supi.


"Duhhh mas, kenapa sekarang mendadak berubah jadi cool sih?" Aku menggerutu dalam hati. Meski berat, akhirnya kaki ini melangkah juga keluar rumah. Sudah tak ada pilihan lain selain menghadapinya. Sampai di depan pintu mobil, tak lupa ku rapalkan doa-doa agar hatinya mas Bagas di lembut kan.


Begitu duduk di kursi samping mas Bagas, ia langsung menyalakan mesin, melaju pelan meninggalkan halaman rumah tanpa sepatah katapun.


"Ki ... kita mau kemana sih?" tanyaku, mencoba mencairkan suasana sembari mencari tahu Apakah ia masih marah atau tidak.


Tak ada jawaban. Mobil melaju dalam hening.


"Mas? Masih marah? Kalau memang marah ya marah saja, jangan diam saja seperti ini." Aku protes.


Ia tak menjawab, hanya melirik. Lalu kembali fokus dengan kemudi.


Fiufff. Kenapa susah sekali memahaminya. Aku hanya bisa menggerutu dalam hati hingga akhirnya keluar juga uneg-uneg di hati.

__ADS_1


"Kalau nggak siap menerima aku apa adanya harusnya tak menawarkan pernikahan. Aku memang sudah tak sama dengan aku yang dulu. Aku yang sekarang sudah kotor. Tapi semua itu bukan keinginanku. Jangankan menyimpan kenangan tentang kejadian itu, mengingat sesaat saja sudah membuat luka yang dalam. Aku bahkan sampai menjalani hidup tak tenang. Setiap malam mimpi buruk, selalu merasa malu bertemu orang lain.


Sekarang masih belum terlambat untuk mengakhiri semuanya. Aku tahu nggak mudah untuk mas. Makanya kembalikan saja aku pada ayah. Aku nggak akan marah, keluargaku juga tak akan kecewa sebab kami bisa memahaminya. Bukan mas yang harus bertanggung jawab atas semua ini!" aku terpaksa bicara keras, hingga dadaku serasa sesak. Bulir-bulir air mata itu akhirnya keluar juga. Aku menangis sejadi-jadinya untuk menumpahkan segala beban di hatiku.


Selama ini aku berusaha untuk menahan dan menyimpannya sendiri. Sebagai korban, aku yang paling menderita. Aku telah kehilangan semuanya. Hidupku serasa hancur, belum lagi efek yang harus aku tanggung akibat kejadian itu. Aku harus punya anak darah daging lelaki itu. Aku benar-benar hancur. Tiap detik yang ku lewati rasanya seperti siksaan yang amat berat tapi aku tak bisa menghindari. Seperti yang dikatakan mbak Tika, inilah takdir yang Allah tetapkan untukku. Lalu, tak bisakah ia berempati kepadaku, setidaknya jangan menuduhku seperti itu seolah aku menyukai semua perbuatan penjahat itu.


Ciiit. Mobil berhenti. Aku masih menangis. Hingga akhirnya mas Bagas memintaku berhenti menangis.


"Nanti kamu akan tahu semuanya. Sekarang diamlah." ia kembali majukan mobil. Kami membelah kota Jakarta dalam diam.


Apakah saat ini ia sudah mulai merasa menyesal sebab sudah membuat keputusan yang berat. Ia sudah memilih sesuatu yang tidak mudah. Sejujurnya aku bisa memahami. Meski sedih, tapi aku rela jika ia membatalkan pernikahan ini. Toh ia belum menyentuhku sama sekali.


***


"Turunlah!" ia sudah membukakan pintu untukku.


"Aku harus turun juga?" Tanyaku.


Mas Bagas tak menjawab, ia melangkah duluan. Aku terpaksa mengikuti dari belakang hingga kami memasuki kantor tersebut. Di meja depan ada dua orang yang sedang duduk. Mas Bagas menyapa sekilas lalu masuk ke dalam.


Ada tujuh orang tengah duduk di meja panjang melingkar. Sepertinya mereka sedang berdiskusi. Tak ada yang aneh hingga aku menyadari ada sepasang mata yang menatapku saat aku masuk. Dia, ya, ada dia di sana. Aku langsung gugup.

__ADS_1


Sebenarnya aku sudah tahu kalau lelaki yang sudah menghancurkan masa depanku itu kuliah di fakultas yang sama dengan mas Bagas. Hanya saja aku tak pernah membayangkan akan bertemu dengannya lagi dan yang lebih parahnya mas Bagas yang mempertemukan kami. Entah apa maksudnya?


"Halo semuanya. Maaf kalau saya baru muncul setelah hampir dua bulan menghilang." mas Bagas melirik ke arah Juan. "Ada urusan mendadak, lebih tepatnya saya menikah. Makanya tidak muncul-muncul di kampus. Tetapi mulai sekarang saya akan kembali untuk menyelesaikan tugas-tugas saya."


"Selamat datang kembali Gas. Tapi maaf, dengan terpaksa saya harus mengatakan kalau kamu sudah dikeluarkan. Posisi kamu sudah digantikan oleh Dirga " kata Juan.


"Apa? Fiufff, ini bercanda kan?" Mas Bagas tampak kesal.


"Nggak, ini beneran." kini giliran mbak Linda yang bicara. "Salah kamu sendiri, menghilang tanpa kabar berita. Harusnya kamu profesional. Lagipula siapa juga yang peduli dengan pernikahan kamu. Yang jelas kamu sudah dikeluarkan oleh kepala lembaga sendiri. Tak ada tempat untuk orang yang tidak profesional!"


"Hehhh, saya tahu ini kerjaan siapa." mas Bagas menatap sinis Juan. "Baiklah, kalau memang saya dikeluarkan tidak apa-apa. Saya terima dengan lapang dada. Toh ini kesalahan saya." mas Bagas terkekeh.


"Gas, lain kali profesional lah. Tidak semua orang mendapatkan kesempatan yang bagus dan kesempatan itu tak selalu ada. Kami senang kamu kembali, segera perbaiki semuanya. Masih belum terlambat. Sebelum ujian, sebaiknya minta keringanan dari dosen agar kamu tak perlu mengulang." Tambah mbak Linda.


"Hehehehe, saya tahu apa yang harus saya lakukan." mas Bagas masih terkekeh. "Sudah ya, saya pulang dulu. Ayo sayang." Mas Bagas menarik tanganku, tak lupa ia melambaikan tangan pada ketujuh temannya tersebut.


Kami masih saling bergandengan tangan hingga memasuki mobil. Ia memajukan mobil beberapa kilometer, kemudian berhenti.


Bruk. Mas Bagas memukul kasar setir beberapa kali hingga akhirnya ia menenggelamkan wajahnya di antara tangan di atas setir.


Kami berdua saling diam. Hanya terdengar suara deru nafas mas Bagas. Ia pasti sangat kesal sekali. Aku tak tahu harus melakukan apa selain diam sembari memegangi perut yang tiba-tiba terasa tidak nyaman.

__ADS_1


Tolong jangan sekarang! Aku membatin, menahan agar tak muntah, tapi sayangnya perutku semakin tak karuan hingga aku memutuskan untuk keluar.


Setelah selesai memuntahkan semuanya, kini perutku sudah terasa nyaman. Aku hanya bisa menggerutu, kenapa harus sekarang. Saat kondisi tidak enak. Sekarang aku harus kembali masuk ke dalam mobil dan entah bagaimana reaksi mas Bagas.


__ADS_2