Haruskah Kita Menikah?

Haruskah Kita Menikah?
Mulai Berdebat


__ADS_3

Sepulang dari kantor polisi, aku melangkah gontai memasuki rumah, mbak Yuni sudah berjalan lebih dulu. Baru hendak menutup kembali pintu rumah, tiba-tiba seseorang memanggil namaku. Ia berdiri hanya beberapa meter di hadapku.


"Yu, boleh saya bicara?" pintanya, sambil melangkah maju.


"Mau apa lagi kamu ke sini? Pergi dari sini, saya tidak ingin bertemu kamu lagi!" Aku hendak menutup pintu, tetapi buru-buru ditahan olehnya.


"Yu, tolong beri saya kesempatan untuk menjelaskan semuanya. Saya tidak bermaksud untuk merusak kamu, semua yang terjadi itu di luar kesadaran saya. Yu, saya benar-benar mencintai kamu, jadi tidak mungkin saya menghancurkan kamu." Ia berusaha menjelaskan sesuatu hal yang tak ingin aku dengar.


"Pergi ... Pergi. saya tidak mau melihat kamu lagi. Jangan pernah muncul di hadapan saya," kataku, sembari berusaha menyuruhnya pergi.


"Yu ... siapa itu? Kenapa ribut-ribut?" mbak Yuni yang sudah lebih dulu masuk rumah kembali keluar. "Lho, kamu? Mau apa kamu ke sini?" mbak Yuni ikutan kesal melihat Juan. "Sana ... Sana pergi. Jangan pernah munydi hadapan kami lagi. Kamu itu cuma membawa masalah saja, menghancurkan kebahagiaan keluarga kami!"


"Maaf mbak kalau kedatangan saya mengganggu kalian. Saya ke sini hanya ingin meminta maaf pada Ayu, saya siap mempertanggungjawabkan perbuatan saya." kata Juan dengan sopan. Dari raut wajahnya terlihat sekali kalau ia menyesali semuanya. Tapi itu tak bisa merubah hatiku yang sudah terlanjur membencinya. "Mbak, tolong beri saya kesempatan untuk menebus semuanya. Saya janji akan bertanggung jawab penuh atas semua perbuatan saya."


"Minta maaf? Setelah semua kekacauan yang kamu lakukan pada Ayu. Kamu tahu tidak, sebelumnya keluarga kami meski kami orang sederhana tapi hidup dalam damai hingga kamu merubah semuanya. Saat kami menginginkan keadilan malah suami dan ayah mertua saya harus masuk penjara. Harusnya kamu nggak perlu lagi ke sini karena pintu maaf itu sudah tertutup rapat, kecuali ...." mbak Yuni menggantung kata-katanya.


"Kecuali apa, mbak? Katakanlah. Apapun itu, asalkan bisa menebus kesalahan saya akan saya lakukan." kata Juan dengan sungguh-sungguh.


"Bebaskan suami dan mertua saya!" kata mbak Yuni. "Kenapa diam? Kamu nggak bisa, kan? Niat kamu menebus kesalahan hanya bercandaan saja, kan?"

__ADS_1


"Baiklah. Saya janji, mereka berdua akan bebas secepatnya." Juan pamit pergi, ia janji akan segera mengurus semuanya agar ayah dan mas Yuda bisa bebas.


"Kelihatannya dia benar-benar serius mau membantu kita," ucap mbak Yuni setelah Juan menghilang dari pandangan kami. "Yu, seberapa kenal kamu dengannya?"


Aku menggeleng. Aku tak pernah kenal dekat atau sekedar mengenalnya. Cukup tahu kalau ia manusia yang bermasalah sudah cukup untukku tak dekat-dekat dengannya. Tapi sialnya, ia malah pernah menyatakan perasaannya padaku, bahkan ia ingin menikah denganku. Kalau ingat apa yang dikatakannya kala itu membuatku merasa siap, kenapa harus aku? Padahal aku bukanlah gadis yang populer di sekolah. Aku terlalu sibuk mengejar prestasi sehingga mengabaikan siswa-siswa di sekolahku. Tak banyak yang aku kenal selain teman-teman satu kelas, itupun yang akrab hanya beberapa.


***


Ternyata Juan benar-benar memenuhi janjinya. Ia berhasil membuat ayah dan mas Yuda dibebaskan. Entah apa yang dilakukannya. Sayangnya, apa yang dilakukan oleh Juan belum bisa membuat kami untuk memaafkan perbuatannya. Ayah dan mas Yuda tetap bersikukuh untuk memenjarakan anak itu meski kemungkinannya sangatlah kecil karena ia punya bekingan yang cukup kuat, apalagi umurnya masih belum genap delapan belas tahun, belum cukup umur secara hukum.


"Apa tidak sebaiknya kita sudahi saja permasalahan ini," usul mbak Yuni, saat kami sekeluarga berembuk mengenai langkah selanjutnya.


"Gini lho, mas. Anak itu memang bersalah, tapi ia sudah membuat mas dan Ayah bebas dari penjara. Bagaimana pun juga kita sudah berhutang Budi padanya," cetus mbak Yuni.


"Hemmm," ayah berdehen.


"Kamu bicara apa, Yun? Kamu tahu apa yang sudah dilakukannya? Ia sudah menghancurkan kehormatan keluarga ini! Ia sudah melakukan dosa besar pada putri di keluarga ini. Sekarang, kamu minta kami untuk menyudahi ini semua? Siapa yang memulai pertama kali? Dia, bocah berandal itu. Dia harus mendapatkan hukuman atas perbuatannya!" tegas mas Yuda.


"Tapi mas ... mas juga harus tahu siapa lawan kita. Ia orang kaya raya dan memiliki kekuasaan. Sementara kita bukan siapa-siapa, mas. Semua sudah terjadi, apa salahnya kita memaafkan. Lupakan semuanya dan mulai lembaran baru." pinta mbak Yuni.

__ADS_1


"Bisa kamu bicara seperti itu? Tega kamu, Yun! Dia sudah menghancurkan kehormatan Ayu. Kamu tahu, siapapun yang berani melecehkan keluarga ini, maka harus berhadapan dengan saya. Paham kamu!" mas Yuda meradang. Suami istri itu terlibat adu mulut.


Sebenarnya mbak Yuni bicara seperti itu bukan karena tidak peduli denganku. Ia hanya takut karena sadar siapa lawan kami. Mbak Yuni merasa hanya akan sia-sia memperjuangkan semuanya karena di sini, yang kaya dan punya kekuasaan akan selalu menang meski sebenarnya mereka salah.


"Kalau kamu takut membela yang benar hanya karena kita bukan orang kaya dan punya kekuasaan, silakan kembali ke keluarga kamu, Yun. Kapanpun kamu mau, saya siap mengantarkan kamu kembali karena sekarang saya harus melaksanakan tugas saya sebagai seorang saudara laki-laki yang adiknya direndahkan kehormatannya!" tegas mas Yuda.


"Astaghfirullah, mas bicara apa sih? Kenapa tiba-tiba orang-orang di keluarga ini tak bisa berpikir jernih? Apa masih kurang tinggal di penjara selama dua hari?" kata mbak Yuni.


"Apa yang dikatakan Yuda benar. Kalau kamu tidak bisa menerima keputusan kami untuk mencari keadilan bagi Ayu, Yuda siap mengantar kamu kembali kekeluarga kamu, Yun." ucap ayah, lalu bangkit meninggalkan kami semua menuju kamarnya.


"Ya Allah ...." seperti syok mendengar kata-kata ayah, mbak Yuni langsung terduduk lemas, tak lama air mata membanjiri pipinya. "Aku hanya berusaha membantu agar keluarga ini tak mendapatkan masalah lagi." ucapnya.


"Sudahlah, simpan saja nasihat kamu. Mulai sekarang, kapanpun kamu akan pergi, saya siap untuk mengantarkan kamu." mas Yuda mengikuti ayah, ia pun masuk ke dalam kamarnya, meninggalkan kami bertiga.


"Lihat Yu ... semuanya jadi kacau karena kamu!" mbak Yuni meradang.


"Mbak ini bicara apa? Ayu itu korban, jadi jangan menyalahkan dia terus. Cobalah berempati atau mbak boleh kembali pulang. Mas Yuda siap mengantar mbak kapanpun mbak mau." kata mbak Tika.


"Ckckck, mudah sekali kamu bicara seperti itu Tik. Tunggu saja sampai kamu pun kena batunya!" ancam mbak Yuni. Ia menyeka air matanya dengan kasar, lalu menyusul mas Yuda ke kamar.

__ADS_1


__ADS_2