Haruskah Kita Menikah?

Haruskah Kita Menikah?
Curhat Pada Arum


__ADS_3

Aku masih maju mundur untuk menceritakan semuanya pada ayah, mas Yuda dan mbak Tika. Rasanya takut mengecewakan mereka, tapi aku juga tak bisa memungkiri perasaan untuk Juan dan hingga sekarang saja aku belum bisa melupakannya meski aku sudah mencoba.


Arum, sepupuku, adalah orang yang aku pilih untuk menjadi pendengar. Padanya ku ceritakan semuanya, berharap bisa membuat lega hati ini. Apalagi dari dulu Arum memang berada di pihak Juan.


"Jujur saja, Yu. aku sangat bahagia akhirnya kamu dan Juan bisa sama-sama saling mengakui perasaan kalian. Yang aku takutkan hanya kalian terus mengingkari padahal kalian berdua cocok. Kalau tentang pak Lik, mending ngomong saja, jujur apa adanya. Aku yakin pak Lik, mas Yuda dan Mbak Tika bakalan mengerti kok. Mereka orang-orang baik." Kata Arum.


"Tapi nggak semudah itu, Rum. Semuanya penuh tantangan." aku mengeluh, takut dengan kemungkinan yang bisa terjadi. Namun kalau tidak dicoba seperti yang dikatakan Arum, bagaimana aku bisa tahu.

__ADS_1


Akhirnya dengan mengumpulkan keberanian, sore itu aku meminta seluruh anggota keluarga untuk berkumpul. Aku harus segera menyampaikan.


Sayangnya, sebelum sempat menyampaikan tiba-tiba saja mas Bagas databg, ia menangis sebab menyimpan rindu padaku. Tentu saja apa yang ia katakan tidak ku telan mentah-mentah begitu saja. Aku dan Mas Bagas berpisah sebab ia mengakui menikah denganku demi uang, tapi aku belum bisa mengutarakan untuk menjaga perasaan keluargaku terutama ayah.


"Jadi kamu mau kan Yu, balikan sama mas lagi?" tanya Bagas dengan raut penuh penyesalan, tapi aku tahu itu palsu. Sangat mudah untuk mengetahui isi hatinya jika sudah mengenal dekat mas Bagas. Ternyata ia tak sebaik yang aku kira. Ia mendekati aku juga karena ada maunya. Tapi kali ini aku tak akan menyerah dan pasrah begitu saja.


"Mas tahu kan alasan kita berpisah? Saya nggak harus mengulanginya, lagipula kita berpisah sudah sejak lama jadi ayo jalani kehidupan masing-masing sendiri -sendiri!" Kataku.

__ADS_1


"Cocok? Enggak Yah." Aku menolak penilaian ayah, bagiku, status sebagai istri tidaklah main-main, makanya aku tak ingin dicurangi untuk kedua kalinya. Lagipula bagaimana menjalani kehidupan rumah tangga jika suami hanya mengharapkan uang saja.


"Yu," kali ini, ayah yang biasanya menyerahkan semuanya padaku kini kekeh ingin agar mas Bagas kembali menjadi menantunya. "Ayah tak mau kalau terjadi apa-apa dengan ayah kamu belum menikah, siapa lagi yang bisa menerima selain mantan suami kamu. Mungkin dulu kalian berpisah karena masih sama-sama muda, ego kalian masih sama-sama tinggi, sekarang kalian bisa lebih dewasa lagi. Jadi tolong jangan lakukan itu ya." pinta


"ayah, maafin Ayu, tapi Ayu tak akan bisa menerimanya mas pengacau itu. Jadi, biar Ayu selesai kan semuanya!" aku masih menolak dengan baik.


"Yu please." tiba-tiba ia berlutut di hadapanku, membuatku semakin tak peduli.

__ADS_1


Nggak usah banyak drama, mas. Sebaiknya sekarang pergilah dan jangan ke sini lagi." Pintaku. dibalas dengan senyuman penuh kemarahan darinya yang merasa kesal karena aku tolak itu. "Mas nggak mau kan kalau aku menceritakan semuanya pada ayah?"


"Terserah!" Tantang mas Bagas, membuatku menggerutu.


__ADS_2