Haruskah Kita Menikah?

Haruskah Kita Menikah?
Kebohongan Kak Rani


__ADS_3

Kak Rani belum juga menjawab. Ia seperti sedang memikirkan sesuatu. Aku benar-benar semakin kesal. "Kak!" kini aku semakin mendesaknya. Memang aku menumpang di rumah ini, tapi tak mau dijadikan bahan untuk mendapatkan uang dari Juan. Aku punya harga diri. Harusnya kalau kak Rani benar-benar membutuhkan uang ia bisa bicara denganku. Aku pun punya pikiran, tak akan menumpang tanpa tahu terima kasih.


"Itu ... aku yang beli Yu. Aku lihat kamu nggak pernah minum susu ibu hamil maupun vitamin. Padahal kan kamu butuh, makanya aku berinisiatif untuk membelinya." jawab kak Rani, ia memaksakan senyum.


"O begitu? Lalu, uang sebanyak itu dari mana? Kakak kan sudah lama tidak kerja." aku tak melepas pandangan darinya.


"Itu ... kenapa sih Yu, apa urusan sama kamu. Itu uang untuk Cici."


"Oh. Dari mana?"


"Mmm," ia kembali ragu untuk menjawab. Aku tahu sebab kami berdua sudah sama-sama berjanji, ia tak akan membantu Juan untuk masalahku. Ia akan bersikap netral.


"Nggak dari jual diri, kan?"


Kak Rani tampak kaget. Ada secercah kemarahan yang ku tangkap dari netranya. Aku yang tersadar sudah membuatnya tersinggung buru-buru istighfar. Kenapa juga aku harus mengikuti emosi hingga menyinggung perasaan orang lain. Begitu aku ingin minta maaf ia sudah keburu berlalu.


"Kak!" Aku mengejar langkahnya, berusaha menghentikan sebelum ia keluar dari rumah.


"Apa Yu?" ia melotot. Pastinya marah padaku. Meski benar pekerjaannya sebagai seorang perempuan malam, tapi harusnya aku tak membahas itu. Rasanya sangat tidak sopan. "Ini bukan dari hasil jual diri, Yu. Aku memang bekerja sebagai perempuan malam yang biasanya melayani pria hidung belang, tapi ini bukan dari hasil jual diri. Ini uang bukan punyaku, tapi ...."

__ADS_1


"Tapi apa? Dari Juan, kan? Kenapa kakak harus bohong pada saya? Saya tahu dia ke sini. Barang belanjaan itu juga darinya, kan?" aku sudah tak sabar, terpaksa mencecar agar ia tak berbohong apalagi mengelak.


"Ya nona Ayu. Ini semua dari Juan. Dia yang memberikannya. Dia minta tolong agar aku menjagamu. Sudah? Sekarang puas?"


"Kakak melakukan itu semua demi uang, kan?"


"Apa maksudmu?"


"Kak, kenapa sih kakak harus melakukan itu semua? Aya sudah percaya sama kakak tapi kakak tega mengkhianati kakak. Sudah saya katakan kalau saya tak ingin berhubungan dengan Juan. Kakak tahu, saya ini korban perkos------, nggak enak rasanya bertemu terus menerus dengan pelaku yang sudah menghancurkan masa depan saya!"


"Ya aku mengerti Yu, tapi ...."


"Berapa banyak yang bisa kamu berikan untuk aku, Yu? Sebulan aku butuh minimal sepuluh juta. Kamu bisa memberinya?"


"Apa?"


"Ya, aku butuh uang yang banyak Yu. Kamu tidak lupa kan kalau putriku mengidap HIV Aids sejak ia masih dikandungan. Kamu berdua sama-sama dijangkiti virus itu. Tak mudah Yu untuk bertahan hidup dengan penyakit tersebut, apalagi Cici masih sangat kecil. Aku butuh uang yang banyak. Selain untuk biaya berobatnya, ia juga harus mengkonsumsi obat-obatan yang biayanya tidaklah murah. Kami butuh banyak uang untuk bisa bertahan di dunia yang terlalu kejam ini untuk kami, Yu.


Juan memberikannya cuma-cuma. Bukan untuk bayaran atas bangtuanku sebagai mata-matanya untuk menjaga kamu. Tapi dia melakukannya jauh sebelum kamu datang ke kehidupan kami. Kamu mau tahu alasan? Baiklah, akan ku beri tahu. Ayah Juan adalah ayah biologisnya Cici. Putriku adalah adik tirinya Juan. Paham, sekarang?

__ADS_1


Juan tak ingin kehidupan adik tirinya menderita, ia selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk kami. Juan benar-benar memanusiakan kami, saat seluruh dunia memandang aku dengan hina. Seperti yang kamu katakan, aku tak akan mudah mendapatkan uang banyak selain dari menjual diri. Itu benar Yu. Tapi aku sudah berjanji pada Juan untuk meninggalkan dunia malam meski tidaklah mudah untukku. Aku masih punya ketakutan, bagaimana bertahan hidup jika tak bekerja. Yang bisa ku andalkan hanya lah dengan menjual diri. Begitu hinanya aku, kan?" kak Rani tersenyum sambil berlinang air mata.


Aku tak sampai hati. Rasa bersalah juga menghantui diriku. Harusnya aku tak bicara seburuk itu padanya. Ia adalah perempuan yang baik, ia melakukan semua itu pasti ada alasannya.


"Kak ... maafkan saya," kataku.


"Tidak apa, aku memang pantas dihina seperti itu,"


"Kak," aku sudah tak bisa membendung air mata, makanya ikut menangis di pelukan kak Rani. "kakak adalah perempuan terhormat, seorang ibu yang hebat. Kakak melakukannya demi anak. Maafin saya, kak. Saya sudah bersalah karena menuduh kakak yang bukan-bukan."


"Kamu harus tahu satu hal, Yu. Juan tak sejahat yang kamu pikirkan. Dia memang bersalah sudah merenggut kehormatan kamu. Tapi aku yakin, ia tak benar-benar ingin menghancurkan hidup kamu. Ia begitu pasti ada alasannya. Memang tak mudah Yu menghadapi orang yang sudah menghancurkan masa depan Kuta, sama seperti aku dulu. Aku pun mengalami hal yang sama seperti kamu. Kehormatanku direnggut paksa hingga akhirnya aku harus menjadi wanita malam. Sayangnya pelakunya tak sebertanggung jawab Juan. Ia tak mempedulikan meski aku di usir oleh keluargaku. Tak ada pilihan lain untukku yang saat itu belum genap tujuh belas tahun. Aku harus merantau jauh untuk menutup aib keluarga kami.


Yu, aku nggak akan memaksa kamu untuk memaafkan Juan sebab itulah pesannya padaku. Aku tak boleh ikut campur urusan kalian. Ia hanya ingin kamu nyaman di sini karena bagaimanapun juga ia mencintai kamu dan kalian akan memiliki anak. Tapi pikirkanlah baik-baik apa kamu tega kalau anakmu nanti tidak memiliki ayah."


Hening. Kak Rani pamit untuk keluar sebentar, sementara aku masih diam sendiri memikirkan apa yang dikatakan kak Rani.


Juan, sebenarnya apakah aku benar-benar membenci dia? Hingga sekarang aku juga masih bingung ketika dia jauh dariku aku mencari-cari sosoknya tapi ketika ia ada di hadapanku aku benar-benar membencinya.


Aku tak bisa memungkiri kalau di antara kami memang sebentar lagi akan ada bayi. Tapi aku tak yakin apakah bayi itu akan menjadi pengikat untuk kami atau menjadi bumerang untukku terus membenci Juan.

__ADS_1


Benci? Entahlah apakah ini benar-benar perasaan benci? Semula aku memang benar-benar membenci Juan. Tapi sekarang entah kenapa ketika ia tak ada Aku berusaha mencari dia. Aku benar-benar bingung dengan semua ini. Untuk mengartikan perasaanku saja aku tidak bisa.


__ADS_2