Haruskah Kita Menikah?

Haruskah Kita Menikah?
Kak Rani Hilang


__ADS_3

Kadang, akan ada satu masa kamu mengatakan A, tetapi hatimu menginginkan B. Dan saat ini, itulah yang terjadi padaku. Malam semakin larut, namun aku belum juga bisa memejamkan mata. Perutku terasa amat lapar, sementara mulut enggan memakan sesuatu untuk meredakan rasa lapar ini. Padahal sudah banyak makanan yang tersedia di sinj. Akhirnya aku keluar dari kamar untuk menenangkan diri, mengendap -endap, agar tak membangunkan kak Rani dan Cici. Ibu dan anak itu terlihat lelap.


Sampai di satu ruang yang berfungsi sebagai ruang tamu, ruang keluarga dan tempat meletakkan barang-barang, aku duduk sebentar. Lalu kembali berdiri, mengelilingi ruang sempit tersebut. Entah sudah berapa kali aku mengelilingi hingga langkahku terhenti.


"Kak Rani?" Aku kaget sebab ia sudah ada di hadapanku. "Kakak enggak tidur? Atau, apa aku mengganggu?" kataku, tak enak hati kalau benar sudah membuatnya terbangun. "Pasti aku berisik karena mondar-mandir, ya?"


"Enggak kok Yu. Tadi memang terbangun saja. Kamu sendiri ngapain? Kenapa mondar-mandir? Kamu nggak sakit, kan?" kak Rani tampak cemas, khawatir terjadi sesuatu padaku


"Eh, enggak kok kak. Lagi enggak bisa tidur, lapar tapi enggak pengen makan."


"Lho, kalau lapar ya harus makan, Yu. Atau kamu pengen sesuatu? Kalau iya, bilang saja. Aku akan Carikan."


"Enggak usah kak, malah merepotkan kakak. Lagipula ini sudah malam. belum tentu ada yang jualan."


"Enggak apa-apa, kamu kan lagi hamil. Kalau nggak makan nanti kasihan bayinya. Memangnya kamu pengen makan apa?"


"Mmmm, Pengen kwitiau, kak,"


"Oh kalau itu ada di ujung gang. Jualannya sampai subuh karena banyak yang mangkal di sana." ia mengisyaratkan para perempuan malam Biasanya banyak yang belanja makan malam. Kawasan ini memang biasanya ramai di malam hari, kalau pagi sampai siang sepi karena orang-orangnya tidur. Persis seperti Kalong kata kak Rani.


Dengan sigap kak Rani pergi mencarikan makanan untukku. Aku sebenarnya tak enak hati, tapi tak bisa menahan agar memakan makanan yang lain saja dulu.


Satu jam telah berlalu, kak Rani belum juga pulang. Aku mulai cemas, tak tahu harus mencarinya kemana, apalagi malam telah larut. Sudah pukul satu malam. Mana kak Rani juga tidak membawa Hp.


"Bagaimana ini," aku tak berhenti untuk mengelilingi rumah. Berulang kali ku lafazkan asma Allah, berharap agar mendapatkan ketenangan. Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada kak Rani. Ia pergi karena aku. Bingung harus melakukan apa, akhirnya aku memutuskan keluar rumah. Aku ingin mencarinya. Tapi baru membuka pintu, dari kiri kanan sudah ada beberapa mata yang memandang ke arahku. Kak Rani pernah memperingati aku agar tidak keluar di atas omjam delapan malam karena ini adalah kawasan tempat perempuan malam tinggal. Biasanya pelanggan-pelanggan mereka akan menghampiri ke sini. Melihat itu aku jadi bergidik, khawatir dijahati, makanya ku putuskan untuk kembali masuk dan mengunci pintu.


"Bagaimana ini? Kak Rani belum juga pulang." Aku semakin khawatir. Karena terdesak, aku terpaksa membuka Hp miliknya, berharap mendapatkan petunjuk. Siapa yang bisa ku mintai tolong untuk menyusulnya. Nama yang pertama ada di daftar panggilan adalah Juan. "Apa aku harus menghubunginya?" Aku menggigit bibir keras-keras. Merasa bingung.


Tak sengaja tanganku membuka pesan paling atas, masih dari Juan.

__ADS_1


[Kak, tolong pastikan Ayu baik-baik saja ya. Tolong bersabar menghadapinya. Ia sedang hamil, hormon ibu hamil biasanya memang membuat suasananya campur baur, tapi sebenarnya Ayu tak bermaksud seperti itu. Demi Allah itu karena saya, kalau bukan saya yang menghacurka hidupnya, ia mungkin tak semenderita inu sekarang. Saya benar-benar menyesal, kak.] Pesan dari Juan.


Aku tak bisa berkata-kata, beberapa pesan Juan yang lain terus terbaca hingga betraku berkaca-kaca. Apa-apaan ini, kenapa aku malah tersentuh olehnya? Ia sudah mengancurkan masa depanku. Tapi kenapa sekarang ada penyesalan di hatiku karena sudah membencinya sedemikian rupa. Aku langsung tertunduk lesu.


Dengan tangan gemetar, aku memencet nomor Juan. Dua kali panggilan tak terjawab. Aku yakin ia sudah tertidur. Lalu sekarang pada siapa aku harus minta tolong? Pada Mas Bagas? Nggak, aku tak ingin lagi ada di hidupnya


Bingung meminta tolong pada siapa, tiba-tiba Hp kak Rani kembali berbunyi. Pesan masuk dari Juan.


[Kak maaf, tadi saya salat. Ada apa, kak? Apa terjadi sesuatu? Apa Ayu baik-baik saja?] katanya.


[Aku baik-baik saja,] pesan ku ketik dengan tangan gemetar.


[Ayu?]


[Ya.]


[Ada apa? Kak Rani baik-baik saja, kan?] Membaca pesan yang ia pertanyakan membuatku menjadi kecewa. Padahal tujuanku menghubunginya memang untuk meminta tolong karena kak Rani belum juga pergi. [Yu, kamu enggak apa-apa?] pesannya lagi. Spontan bibirku tersenyum.


[Memang kak Rani kemana?]


[Tadi kak Rani keluar membelikan makanan untuk saya, tapi sudah satu jam lebih ia belum juga pulang. Saya khawatir ia kenapa-napa. Mau mencari sendiri tidak berani karena disini sepertinya tidak aman.]


[Ya kamu jangan keluar, Yu. Tetaplah di situ. Saya akan ke sana.]


Tak butuh waktu lama, dua puluh menit kemudian, Juan sudah berada di sini. Saya pertama bertemu dengannya kami sama-sama gugup.


"Tolong carikan kak Rani," pintaku.


"Ya." katanya.

__ADS_1


"Kalau saya ikut, bagaimana? Saya sangat khawatir dengan kak Rani."


Kamu di sini saja, Yu. Ini sudah malam, kamu juga sedang hamil. Khawatir terjadi sesuatu nantinya."


"Baiklah. Tapi kalau ada apa-apa kabari ya." Pintaku.


Juan mengangguk, lalu ia kembali menyuruhku menutup pintu. Setelah itu barulah ia pergi mencari kak Rani.


***


Suara tangisan Cici membuatku terbangun. Buru-buru aku menghampirinya di kamar, ia masih memejamkan mata, namun terisak-isak. Sebuah tangisan yang terdengar menyayat hati.


"Ci ... Cici, Cici bangun." Aku mengguncang pelan tubuhnya, hingga ia terbangun.


"Ibuuuuu, huhuhu." kata Cici.


"Cici mimpi?"


"Iya. Ibuuuuu. Ibuuu mana?"


"Ibu sedang pergi membeli makan."


"Cici mau ibu."


"Sebentar ya. Kak Juan sedang menyusul ibunya Cici "


"Ibuuuu." Cici tak mau diam, akhirnya aku mengajaknya membaca doa dan berzikir agar ia tenang. Melihat kondisi Cici membuatku iba dan merasa bersalah. Anak ini begini karena aku.


"Sayang, kalau mimpi buruk harus meniup ke sebelah kiri tiga kali lalu membaca taawudz."

__ADS_1


Cici menurutku. Usai berdoa, ia jauh lebih tenang. Kini justru aku yang khawatir. Jam sudah menunjukkan pukul empat pagi tapi belum juga ada tanda-tanda keberadaan kak Rani. Semoga ia baik-baik saja. Aku berulang kali merapalkan doa-doa.


__ADS_2