Haruskah Kita Menikah?

Haruskah Kita Menikah?
Haruskah Kita Menikah?


__ADS_3

Mereka menarikku dengan paksa, merenggut yang paling berharga dari hidupku. Memperlakukan aku layaknya sampah. Mereka tak pernah menghargai aku. Perlakuan seenaknya, seolah aku tak berharga.


Perih.


Aku menggigil, menahan rasa dingin juga sakit di sekujur badan. Seperti de Javu. Perasaan yang sama seperti yang ku rasakan seperti delapan tahun lalu. Luka itu kembali dibuka, namun lebih dalam lagi. Aku berteriak, mengeluarkan semua sakit yang ada di dalam dada. Berusaha membuangnya agar tak menjadi trauma, namun tak bisa. Aku masih tetap tersiksa.


"Sayang, kamu sudah bangun?" Juan masuk ke kamar tempat aku di rawat. Ia mendekat, menggenggam tangan kananku. "Bicaralah sayang. Apa yang kamu rasakan?"


Aku menangis. "Aku kotor!" Kataku, meracu.


"Siapa ... siapa yang sudah melakukannya?" tanya Juan padaku.


"Apa salahku? Kenapa diperlakukan seperti ini?" aku balik bertanya.


"Sayang, maafkan aku. Tapi kali ini akulah yang akan membalaskannya. Siapa sayang, siapa pelakunya? Katakan. Tolong katakan sayang." Juan agak mendesak.


"Enggak!" aku meracau.


"Dengar sayang, kamu tak berdosa. Kamu tak berhak diperlakukan seperti ini. Akulah yang berdosa, jadi biar aku yang menanggung rasa sakit ini!" Ungkap Juan.


"Bawa aku dari sini. Aku tak mau disini!" aku meronta. Juan mwndekapku. Lalu ia membantu melepaskan jarum infus, menggendongku keluar dari kamar tempatku di rawat.


Juan tak peduli dengan perawat yang mencoba menghalangi, ia memberi isyarat pada asistennya untuk mengurus semuanya. Setelah itu Juan menggendongku menyusuri lorong rumah sakit, menuju mobil. Ia tak mempedulikan tatapan heran orang-orang, bahkan menghalangi pandanganku dari orang-orang yang penasaran pada kami.


Sampai di dalam mobil, Juan cepat melajukan mobil. Ia tak membawaku pulang ke rumah, melainkan terus masuk ke jalan tol menuju luar kota. Aku tak peduli ia membawaku kemana, yang aku inginkan pergi sejauh mungkin dari tempat itu. Tempat dimana aku merasa sangat terintimidasi dengan orang-orang yang tak berhenti membicarakan aku.


"Aku tak ingin kesana lagi." kataku, sambil memejamkan mata.


"Ya, kita tak akan pernah ke sana lagi!" Tegas Juan.


***


Sudah sepekan, aku masih mengunci mulut. Sementara Juan, ia tak menanyai apapun. Ia memberiku ruang untuk menenangkan diri. Kami hanya mengisi hari-hari kami dengan diam.


Malam ini aku terbangun usai mendengar suara Isak tangis. Suara yang tak asing bagiku. Suara Juan. Tapi ini pertama kalinya aku mendengar ia menangis seperti itu. Saat aku mengintip, rupanya ia tengah menangis di atas sajadah. Entah apa yang ia tangisi di hadapan Allah. Namun melihat itu, dadaku juga semakin sesak hingga tak sadar ikut menangis.


"Sayang, kamu bangun?" Tanya Juan, ia segera menuju. Memegang pipiku, lalu mengecup keningku. "Jangan menangis sayang, aku tak kuat melihatmu begini." tambahnya.


"Juan,"


"Ya."

__ADS_1


"Aku sudah melakukan kesalahan. Aku pantas mendapatkan semua ini. Aku sudah melanggar kesepakatan kita."


"Apa?"


"Aku menemui Bagas."


Juan diam. Aku bisa merasakan emosinya naik. Ia sampai mengepalkan tangannya.


"Aku sudah tak tahan sebab orang-orang di rumah sakit terus membicarakan aku."


"Kamu disinilah sebentar," Juan bangkit, aku segera menangkap tangannya, tapi Juan menepis. "Biarkan aku bicara dengannya." Pinta Juan.


"Tidak.* Kataku.


"Dia harus mendapatkan hukuman."


"Tidak, jangan. Aku mohon."


"Aku mencintaimu. Kalau aku tak melakukan apa-apa, sama saja kamu menyiksaku. Aku akan mati dalam keadaan tersiksa!'


"Baiklah, tapi aku ikut!"


Juan memajukan mobil dengan kecepatan tinggi. Aku sampai harus berpegang erat pada sisi kiri atas tempat dudukku sebab takut dengan cara Juan nyetir. Untung saja ini masih dini hari, jadi jalanan masih kosong. Hanya ada beberapa truk besar yang lewat.


Sampai di depan rumah Mas Bagas, Juan langsung turun. Ia tak mau menunggu, sehingga aku harus berlari. Rupanya mas Bagas tak ada di sana. Makanya ia bergegas kembali ke mobil. Lagi-lagi aku harus berlari untuk menyeimbangkan langkah Juan.


***


Entah sudah berapa tempat yang kami datangi. Namun hingga pagi menyongsong, Mas Bagas belum juga ketemu.


"Kita harus salah Subuh." Kataku pada Juan. "Apakah kamu ingin mengalahkan Allah hanya demi seorang penjahat sepertinya?" tanyaku, berusaha menghentikannya.


Juan mengikuti kataku. Ia berhenti di depan sebuah masjid, tanpa banyak bicara ia turun, melaksanakan salat berjamaah. Usai salat, aku mengawasinya dari belakang. Menunggunya yang sedang khusyuk dengan doanya hingga tiba-tiba ia bangkit.


"Mau kemana?" Aku memburu langkah Juan. Susah payah akhirnya aku bisa naik ke mobil sebelum ia menginjak gas. "Aku sudah sangat lelah." kataku. Tapi Juan mengabaikan.


***


Brak. Aku sampai di dalam sekretariat tempat biasa Juan bertemu dengan teman-teman semasa kuliahnya, saat aku bisa menyusul Juan, terlihat mas Bagas sudah terjatuh ke lantai. Sepertinya Juan sudah berhasil memukulnya.


Juan kembali hendak meraih mas Bagas, namun dihalangi teman-temannya yang kebetulan ada di sana. Dengan tegas Juan menyuruh semua yang ada di sana untuk tidak menghalanginya. Awalnya mereka tetap melarai, namun karena Juan begitu marah akhirnya mereka mundur juga, membiarkan Juan melampiaskan emosinya.

__ADS_1


"Pukul. Pukul saja aku Juan. Aku tak peduli meski pada akhirnya aku mati. Toh aku sudah menikmati wanitamu, sama seperti yang kau lakukan, menikmati wanitaku!" Ejek mas Bagas. "Kita sama!"


Brak. Juan kembali memukuli mas Bagas berkali-kali sampai ia berdarah-darah. Aku hanya bisa mematung, tak tahu harus melakukan apa hingga akhirnya mas Bagas terlempar ke kakiku.


"Ohhhh, rupanya kamu juga ikut ke sini sayang." Ucap mas Bagas.


Juan kembali meraih mas Bagas, lalu memukulnya hingga terhuyung ke lantai. Pukulan yang lebih keras hingga ia tak sadarkan diri. Melihat itu, orang-orang yang menonton akhirnya turun tangan, mereka mencegah Juan, mengingatkan agar Juan tak melakukan kekerasan, lebih baik menyerahkan semuanya pada polisi.


"Kalau kamu terus main hakim sendiri, yang ada akan jadi bumerang untuk kamu Juan." nasihat salah seorang teman Juan.


Karena tak ingin Juan mendapatkan masalah, makanya aku langsung maju. Berusaha menahannya agar tak kembali mengejar mas Bagas. Lagipula ia sudah tak sadarkan diri, jika terus dipukul maka ia bisa kehilangan nyawanya.


"Baiklah, bawa ia ke kantor polisi!" kata Juan.


"Tunggu dulu, kamu yakin mau memenjarakan Bagas?" Tiba-tiba seseorang yang pernah ku kenal maju. Perempuan itu, Linda, ia yang dahulu pernah menyapaku maju mendekat. "Kamu tahu kan apa akibatnya nanti?" tambahnya.


"Apa maksudmu?" tanya Juan. "Jangan ikut campur. Ini urusan saya dengan Bagas. Lagipula saya tak meladeni perempuan!"


Perempuan itu tak langsung menjawab, ia malah melempar pandangan padaku, menatap sinis, lalu menumpahkan kekesalannya. "Ini semua gara-gara kamu. Harusnya jangan mendekati Bagas kalau hanya akan membuat masalah untuknya!" Ia menggerutu. "Sebelumnya, apakah kamu pernah introspeksi diri, Juan? Apa yang dilakukan Bagas juga pernah kamu lakukan. Posisi kamu saat ini juga sama seperti posisi Bagas dahulu. Kamu yang merusak duluan, tapi sekarang ketika ia membalaskannya kamu seperti kesetanan. Pertanyaanku, apakah dahulu kamu juga seperti ini pada dirimu sendiri? Kalau kamu membela kehormatan istrimu, kenapa dulu kamu merusaknya? Jangan tidak adil, Juan. Kalau kamu saja merendahkan, kenapa begitu emosi ketika orang lain mengikuti jejak kamu." kata Linda. "Dan kamu ... Sebenarnya ada apa denganmu? Mengapa membuat semuanya jadi rumit? Kamu marah diperlakukan Bagas seperti itu, tapi kenapa tidak marah pada Juan? Kenapa malah menikah dengannya? Aneh sekali kamu itu. Lihatlah sekarang, semuanya jadi kacau. Bagas hancur juga karena kamu. Tapi sekarang kamu berlaga seperti korban." ia balik menyerangku. "Bagas sudah cerita semuanya padaku. Ia menerima tawaran ayahnya Juan juga karena tak tahu lagi harus berbuat apa. Tapi kenapa marahmu hanya pada Bagas, kenapa pada Juan tidak? Aneh sekali. Pelaku utama malah kamu rajakan, korban yang mencoba mengikuti jejaknya malah kalian hancurkan seperti ini. Sekarang kamu puas nyonya Ayu?"


"Bicara apa kamu?" Juan menyanggah.


"Aku rasa apa yang ku katakan sudah jelas. Tidak semua orang takut pada kamu, Juan. Aku sampai kapanpun akan berdiri di pihak Bagas karena aku tak buta untuk menentukan siapa yang salah dan benar!" Tegas Linda.


Juan tentu saja tak terima dengan pernyataan Linda. Tapi aku, merasa tak tahan mendengar semuanya.


"Sudah cukup, sudah!" Aku berteriak lantang. Tak sanggup mendengar mereka saling serang. "Sudah. Sekarang biarkan aku sendiri." kataku. Baru hendak berpaling, tiba-tiba Juan menahan tanganku.


"Jangan dengarkan dia, Yu. Bagaimanapun aku mencintaimu. Sangat mencintai kamu!" tegas Juan.


Aku menggeleng, berusaha melepaskan tangan Juan. "Jika kamu benar mencintai aku. Lepaskan aku Juan."


"Yu,"


"Juan, kita memang saling mencintai, tapi terlalu banyak cacat yang nantinya hanya akan jadi bumerang untuk kita. aku sudah sangat tersiksa karenanya. Jika kau terus memaksaku maka aku akan mati, Juan. Apa kau mau aku begitu?"


Perlahan, akhirnya Juan melepaskan tanganku. Meski berat, aku melangkah meninggalkan mereka, membawa luka yang sama yang pernah aku rasakan.


Mengapa cinta teramat rumit? Jika rasa itu begitu kuat, meski pernah ada salah, tak bolehkah kita bersama?


---- TAMAT ---

__ADS_1


__ADS_2