
Kami bertiga duduk berhadapan. Untuk sesaat kami saling diam, sama-sama masih grogi setelah sekian lama tidak bertemu. Sebenarnya pertemuan ini amatlah dirindukan, apalagi bagi kami muda-mudi yang sedang dimabuk cinta. Meski tahu syariatnya, tetap saja kadang urusan hati sulit untuk dikendalikan. Itulah kenapa aku selalu berhati-hati, apalagi kalau bertemu Mas Bagas. Tak bisa dipungkiri, yang namanya godaan setan itu ada saja, bisikannya begitu halus agar kita yang tahu aturan menjadi tergelincir.
"Yu," panggilnya, membuat jantungku berdebar. "Saya sudah mengetahui semuanya. Saat mengetahui itu hati saya sangat hancur, semua impian yang kita jaga rasanya hancur berantakan. Beberapa hari saya kehilangan semangat untuk hidup sebab semua yang saya usahakan hari ini salah satunya untuk masa depan kita nantinya. Tapi sayangnya semua harus dihancurkan." ia menarik nafas dalam, seolah mengisyaratkan tentang hatinya yang berat. "Tetapi, saya sudah memikirkan matang-matang bahwa saya tak akan berubah. Saya akan menerima kenyataannya. Bagi saya, kamu yang dahulu tetap sama dengan kamu yang sekarang. Tak ada yang berubah, Yu."
"Ta ... tapi," aku memainkan ujung kerudung. Mas Bagas tak tahu semuanya. Ia hanya tahu tentang kejadian pemer****** itu, tapi tidak dengan kondisiku saat ini yang tengah berbadan dua. Sayangnya, bibirku teramat kelu untuk menjelaskan semuanya. Aku tak sanggup.
"Ayu hamil." sambung mbak Tika. Ia tahu kalau aku gak akan bisa mengatakannya sebab bagiku itu adalah aib yang teramat besar. Sampai sekarang pun aku belum bisa menerima keberadaan Bayi ini.
"Apa? Hamil?" mas Bagas terperanjat.
Sementara aku menundukkan kepalaku semakin dalam. Oh, betapa suramnya rasanya duniaku.
"Lalu bagaimana?" tanya mas Bagas. "Apakah Ayu harus menikah dengan laki-laki itu?"
"Tidak, tentu saja tidak!" Kataku.
"Kami sedang mengusahakan agar ia masuk ke dalam penjara!" Tambah mbak Tika
"Oh, syukurlah. Kalau begitu akan saya katakan kalau saya yang akan bertanggung jawab atas bagi yang kamu kandung, Yu. Saya akan menjadi ayah untuk anak itu agar kamu gak perlu menanggung malu terlalu berat." kata mas Bagas.
"Apa? Kamu nggak main-main kan, Gas?" tanya mbak Tika.
__ADS_1
Sementara aku tak bisa berkata apapun sebab masih bingung, apakah harus senang atau sedih dengan apa yang ditawarkan mas Bagas.
Aku akui kalau aku mencintainya, bahkan aku berharap agar kelak bisa menikah dengannya. Tapi itu nanti, bukan sekarang. Saat ini aku hanya ingin sekolah dan mewujudkan cita-cita sebagai seorang dokter. Tapi Allah malah menakdirkan lain, Dia memberiku ujian yang aku tak tahu apakah bisa melewatinya atau tidak.
"Bagaimana, Yu? Kalau kamu menerima lamaran saya yang dadakan ini, maka saya akan bicara dengan ayah kamu untuk meresmikannya." tambah mas Bagas.
"Gas, sejujurnya saya bahagia sekali karena ada lelaki baik yang mau membantu adik saya. Tapi ini terlalu dadakan dan ...." mbak Tika tak bisa melanjutkan perkataannya.
"Apa, mbak? Bukankah untuk menghadapi masalah seperti ini kita harus berpikir dan mengambil keputusan secara cepat. Mbak tahu kan, ketika hari terus berganti maka kandungan Ayu pun akan terus bertambah besar. Kalau terlalu lama, bisa-bisa bayinya malah lahir duluan." kata Mas Bagas.
"Benar juga, tapi ...." mbak Tika masih menggantung.
"Tapi, kenal saja tak cukup. Menikah itu bukan perkara sehari dua hari. Apalagi dengan kejadian yang sudah menimpa Ayu. Kedua orang tua kamu bagaimana? Apakah mereka juga sama seperti kamu, bisa menerima Ayu? Lalu, apakah kalian bisa saling mencintai jika telah menikah nanti?" mbak Tika masih belum puas juga.
"Saat ini ayah dan ibu memang belum tahu, mbak. Saya belum berani mendiskusikan dengan mereka karena saya belum tahu apakah Ayu mau menerima saya atau tidak. Dan kalau masalah saya dan Ayu, sejujurnya selama ini kami berdua saling menyukai. Meski kami menyimpannya dalam diam namun kami berdua sama-sama berkomitmen kelak setelah cita-cita kami tercapai maka kami akan menikah. Begitu kan Yu?" tanya mas Bagas.
Mendengar pertanyaan mas Bagas, pipiku langsung bersemu merah. Aku tak tahu harus menjawab apa sebab ini pertama kalinya orang lain selain kami berdua mengetahui perasaan kami masing-masing.
"Benar, Yu?" mbak Tika memastikan.
Aku mengangguk, tanpa bisa mengangkat wajah karena kini wajahku memerah karena malu.
__ADS_1
"Kenapa kamu nggak pernah ngomong?" kini giliran aku yang diintrogasi.
"Karena hubungan ini belum bisa dibawa ke pelaminan dalam waktu dekat, jadi kami memutuskan untuk sama-sama menyimpannya dalam diam, mbak." mas Bagas mewakili menjawabnya.
"Hmmm, jadi kalian sudah sama-sama punya perasaan. Baiklah kalau begitu, kalau kamu yakin dan bisa menerima Ayu apa adanya, InshaAllah mbak akan mendukung." Kata mbak Tika.
"Alhamdulillah, terimakasih mbak!" mas Bagas mengucap syukur.
Hari itu juga mas Bagas bertemu dengan Ayah untuk membicarakan tujuannya melamarku. Meski ayah menganut Mazhab yang membolehkan untuk menikahi wanita yang tengah hamil meski itu bukan ayah biologis bayi tersebut, tetapi ayah belum bisa memberikan jawaban. Ayah ingin bicara dulu dengan orang tua mas Bagas. Ayah ingin tahu apakah mereka juga bisa menerimaku.
"Sama seperti yang dikatakan Tika, pernikahan ini adalah separuh dari agama. Berat. Harus dipikirkan matang-matang. Saya tak ingin kamu mengambil keputusan hanya mengikuti hati dan perasaan kamu saja.
Saat ini Ayu memang membutuhkan lelaki yang bisa bertanggung jawab atas bayi yang dikandungnya dan kami tak punya keinginan untuk meminta pertanggungjawaban dengan menikahkan Ayu pada lelaki yang sudah menjahatinya. Tapi, kembali lagi seperti yang saya katakan di awal, saya ingin keluarga kami pun bisa menerima Ayu apa adanya. Saya tak bisa melihat putri yang amat saya cintai kelak tak bahagia hidupnya.
Dalam kasus ini, Ayu tak bersalah. Ia hanyalah korban dan tak seharusnya ia menerima penghakiman dari siapapun. Jadi, kalau kamu benar-benar serius ingin menikahi putri saya, silakan bawa orang tua kamu ke sini untuk melamar Ayu secara resmi." Tantang ayah.
Bak gayung bersambut. Mas Bagas juga tak keberatan untuk membawa orang tuanya. Ia berjanji, paling lama besok akan kembali lagi ke sini bersama ayah dan ibunya untuk melamarku.
Setelah mas Bagas pergi, kini giliran aku yang diintegrasi. Ayah mempertanyakan apakah aku bersedia menikah dengan mas Bagas.
"Apapun yang sudah terjadi padamu sekarang, Ayah tak ingin itu semua membebanimu sehingga terpaksa menerima pinangan Bagas. Tapi ayah ingin kamu menerimanya dengan sepenuh hati karena kamu memang menginginkan itu." kata ayah.
__ADS_1