
Aku baru saja selesai melaksanakan salah Isya. Rencananya mau langsung tidur sebab sudah tidak tahu lagi harus mengerjakan apa, ditambah badan sudah terlalu lelah, tadi seharian usai bertemu keluarga Juan, ia mengajakku jalan-jalan mengelilingi kota yang jadi kampung halamanku. Katanya sebagai obat hati, bila nanti kami kembali ke Jogja dan entah kapan akan kembali lagi.
Sementara itu, malam ini, usai makan malam, Juan ditelepon ayahnya yang meminta ia pulang sebab ada masalah hukum yang ingin didiskusikan ayahnya dengan Juan terkait pabrik mereka. Sebenarnya Juan mengajakku turut serta, tapi aku menolak sebab belum bisa nyaman berada di tengah keluarga Juan. Selain belum terlalu kenal, juga kisah masa lalu dimana mereka yang belum bisa menerimaku serta perlakuan saat ayah meminta keadilan pada keluarganya membuatku masih enggan untuk mendekatkan diri. Pengalaman buruk yang mereka berikan membuatku menutup diri dan entah kapan bisa ku buka pintu hati ini. Mungkin untuk sementara waktu cukup saling tahu saja dulu.
Usai merapikan mukenah, aku hendak naik ke tempat tidur. Tetapi bel pintu kamar hotel berbunyi. Entah siapa yang menekannya. Rasanya aku tak memesan apapun atau janjian dengan siapapun. Tak mungkin juga Juan sebab ia membawa kunci cadangan agar ketika pulang nanti tak perlu membangunkan aku.
Dengan agak malas aku menuju pintu kamar.. mengintip dari lubang pintu. Di sana nampak tiga sahabatku sedang berdiri di depan pintu. Segera ku sambar kerudung lalu membuka pintu.
"Mita, Lina ... Bianca!" panggilku.
"Ayu!" balas mereka. Kami berempat berpelukan. Melepas rindu. "Ada yang ingin kami bicarakan." Kata Mita.
"Oh, kalau begitu ayo masuk." Aku menunjuk kamarku. "Tenang saja, Juan sedang pergi."
"Ya, kami tahu Yu. Kami sudah memperhatikan kamu sejak sore." cetus Lina yang langsung dipelototi Mita.
"Hem, ada apa ini. Kenapa malah memata-matai aku?" kataku, tak nyaman pada sikap mereka bertiga.
__ADS_1
"Jadi, boleh kami bicara? Tapi enggak di kamar kamu. Aku nggak mau masuk ke tempat yang ada jejaknya dia." ujar Mita dengan tatapan tidak enak.
"Baiklah. Dimana?" Kataku. Mita membawa kami bertiga menuju sebuah kamar di hotel ini. Kamar kosong yang sepertinya sudah ia siapkan. "Sekarang bicaralah."
"Baiklah, nggak usah basa-basi, kita langsung saja ke pokoknya. Kami sudah bicara dengan mbak Tika dan sudah tahu semuanya. Jujur ya Yu, kami enggak ngerti jalan pikiran kamu. Kenapa kamu malah mengkhianati kami? Apa yang kami terutama keluarga kamu lakukan semuanya demi kamu. Tapi tiba-tiba ini yang kamu berikan untuk mereka. Menikah dengan si breng*** itu." Mita memuntahkan kekecewaannya. Tapi aku tak terima.
"Tolong Mit, ngomongnya hati-hati. Jangan sampai ada masalah baru." Kataku. "Juan sekarang adalah suamiku. Apapun dosanya di masa lalu, kami sama-sama sudah melupakannya. Sekarang ya sekarang. Kami sudah sepakat untuk membuka lembaran baru."
"Tapi enggak untuk tukang perko-- juga. Sadar nggak sih kamu, Yu!" Mita menegaskan.
"Mit," aku kesal. Kenapa masih mengungkit masa lalu, aku sudah memberi Juan kesempatan kedua.
"Jangan-jangan apa?" aku menatap balik Mita.
"Kamu dan Juan. Dia tidak melakukan itu tapi kalian sebenarnya suka sama suka kan?" tuduh Mita.
"Astagfirullah, Mita. Aku nggak percaya kamu bisa menuduh aku serendah itu, Mit!" Aku meradang, tak terima dituduh seperti itu. Bagaimanapun juga, aku adalah perempuan yang dididik oleh Ayah untuk menjaga kehormatan. Bukan perempuan sembarangan. Aku memang pernah jatuh cinta pada laki-laki saat masih SMA, tapi cinta itu ku simpan dalam diam. Bahkan kami tak pernah jalan berdua, hanya saling berjanji untuk saling menjaga diri hingga saatnya tiba untuk menghalalkan cinta itu dan orangnya bukanlah Juan, melainkan Mas Bagas.
__ADS_1
Mereka adalah sahabat yang selalu menemani hari-hari ku, pada mereka aku sangat terbuka. Harusnya mereka tahu bagaimana aku dahulu. Dan sampai sekarangpun sebenarnya aku tak berubah. Tuduhan Mita itu benar-benar membuatku sedih juga kecewa. Aku tak terima dituduh serendah itu. Rela melakukan hal rendahan.
"Ya bagaimana lagi, kenyataannya sekarang kalian bersama. Dimana-mana yang namanya korban tak akan pernah mau sama pelaku kecuali terpaksa. Sedangkan kamu, nggak ada yang memaksa kamu. Justru keluarga kamu melarang, bahkan mereka mendukung untuk memenjarakan Juan. Eh kamu malah ...." Mita memandangiku dengan penuh curiga.
"Mit," Lina menghentikan omongan Mita.
"Apa susahnya jujur Yu. Benar tho kata-kataku? Gara-gara itu juga kamu mengkhianati mas Bagas. Sebenarnya ada apa tho, Yu. Jujurlah. Kenapa harus ditutup-tutupi. Atau inilah kamu yang sebenarnya. Kalian sudah main belakang selama ini? Kamu bilang kamu cintanya sama mas Bagas, setelah dia menikahinya, rela menerima kamu dengan segala aibmu itu tapi kenapa kamu malah berpaling? Aneh kamu, Yu. Aku benar-benar penasaran, jangan-jangan benar selama ini ada sesuatu antara kalian berdua. Tapi karena sudah ada mas Bagas makanya kalian tak berani publis hingga akhirnya kalian main belakang. Begitu, Yu?" tambah Mita.
"Cukup Mit. Sudah cukup tuduhan itu. Apa selama kita bersahabat kamu pernah ngelihat aku keganjenan? Jangankan pacaran, dekat sama laki-laki asing saja hanya dengan mas Bagas. Itupun kamu nggak pernah jalan berdua. Kalianlah yang selalu menjadi perantara untuk kami berkomunikasi.. seperti itulah aku menjaga diri. Aku sungguh kecewa dengan tuduhan kamu, Mit. Aku juga enggak pernah mengkhianati mas Bagas. Dia tahu apa yang sebenarnya terjadi hingga akhirnya kami berpisah." kataku. Emosiku memuncak. Rasanya sakit sekali mendengar tuduhan itu, apalagi Mita mengaku sudah bicara juga dengan mas Bagas. Aku sangat kecewa saat tahu sahabat ku lebih percaya orang lain ketimbang sahabatnya sendiri.
"Aku benar-benar malu punya sahabat seperti kamu!" tegas Mita.
"Kalau begitu mulai sekarang kita akhiri saja persahabatan ini. Maafkan aku ya Mit, sudah jadi sahabat yang buruk untuk kamu, Lina dan Bianca. Terimakasih sudah pernah menjadi orang yang amat dekat denganku. Aku pikir kalian paham aku, ternyata enggak." Aku menangis. Sedih, kecewa sekali pada akhirnya persahabatan kami harus berakhir seperti ini.
" Ya sudah, siapa juga yang Sudi bersahabat dengan perempuan mu ...." Mita menggantung ucapannya.
"Sudah Mit, Yu. Apa-apaan sih ini. Kita sudah sangat lama nggak ketemu kenapa pada akhirnya seperti ini!" Bianca yang semenjak tadi diam akhirnya buka suara, Sementara Lina hanya bisa menangis.
__ADS_1
"Apa Mit? Kamu mau bilang aku apa? Murahan, ganjen atau nggak tahu malu? Enggak Mit, aku nggak seperti itu. Entahlah, seperti apa kamu menilai aku. Tapi lebih baik kamu abaikan aku saja dari pada kamu mengotori hati kamu. Memang sebaiknya persahabatan ini berakhir karena aku nggak pantas jadi sahabat kalian sebab aku kotor sedang kalian suci!" kataku, sambil berbalik badan hendak pergi.