Haruskah Kita Menikah?

Haruskah Kita Menikah?
Kenyataan Yang Tak Selalu Indah


__ADS_3

Senyum di bibir ini tiba-tiba hilang. Aku merasa wajahku teramat panas mendengarnya. Ingin sekali tidak mempercayai semuanya tetapi Juan bisa menghadirkan bukti-bukti. Juan memperlihatkan bukti pembayaran yang dilakukan orang tuanya pada mas Bagas.


Dua miliar rupiah. Nominal yang teramat besar diberikan untuk mas Bagas. Sekarang aku mengerti kenapa ia bisa membeli rumah dan mobil ini. Ternyata inilah jawabannya.


Aku tersenyum lebar, cepat menyembunyikan kekecewaan yang terasa menghantam hatiku sehingga membuat luka. Sakit sekali rasanya.


Ku kira mas Bagas menikahiku karena ia mencintai aku, seperti yang ia ungkapkan saat masih di bangku SMA. Rasa itu yang membuatnya rela berkorban untukku hingga mau menemaniku menutupi aib ini. Tapi ternyata apa yang ada di pikiranku salah. Ia melakukannya bukan karena aku, tapi karena uang. Aku langsung tersenyum, sebenarnya malah ingin menertawakan diri sendiri, yang terlalu percaya diri. Hei, sespesial apa kamu Ayu Andara Nessa? Kamu itu sekarang hanyalah seorang perempuan yang berlumuran dosa. Kamu hamil di luar nikah, korban perko----.


Tapi Juan tak boleh mengetahui kekecewaan ini, makanya ku bungkus dengan senyuman. Sembari mengatakan padanya kalau aku sudah tahu dan aku baik-baik saja. Malahan aku senang dengan apa yang dilakukan mas Bagas. Aku juga menikmati hasilnya.


"Aku sudah tahu semuanya. Lalu, apa ada sesuatu yang belum aku ketahui. Sesuatu hal yang benar-benar rahasia sehingga kalau aku tahu bisa membuat hubungan kami retak? Ada tidak? Kalau tidak ada, sayang sekali, usaha kamu gagal Juan!" kataku.


"Yu," ia menatapku dengan tatapan yang tak bisa ku pahami. Entah kasihan atau kecewa. Ahh aku berharap ia kecewa sebab usahanya gagal sehingga ia memutuskan untuk tidak lagi mempedulikan kami. "Kau tahu, aku akan selalu ada untukmu. Menunggu sampai hatimu mau memaafkan aku. Aku ...."


"Jangan mimpi Juan. Aku sudah bahagia dengan mas Bagas. Dia cinta pertama dan terakhirku." Ucapku dengan suara nanar.


"Tolong jaga anak kita."


Kata-katanya itu membuatku menatapnya tajam. Rasanya aku ingin memukul wajahnya, menghajarnya sebisaku. Dia, tega sekali menghancurkan hidupku. Entah apa salahku. Sekarang malah menitipkan amanah yang membuatku geram. Sok peduli!


"Maaf," ia mundur beberapa langkah. "Yu, aku janji akan berusaha melindungi kamu." ia naik ke atas mobilnya, lalu berlalu membiarkan aku yang masih berdiri mematung.


Melindungi? Satu-satunya manusia yang menyakiti aku hingga rasanya hidupku hancur adalah dirinya. Tapi dengan percaya diri ia mengatakan akan menjagaku. Menjaga diri dirinya sendiri? Dasar penjahat!

__ADS_1


"Kamu benar-benar tidak tahu diri, Juan. Kamu penjahat. Jahat!" aku memakinya dengan amarah yang memuncak. Sementara kedua tanganku menggenggam erat sapu lidi untuk melampiaskan emosiku.


"Mbak Ayu tidak apa-apa?" bi Supi menyusul saat mobil Juan sudah hilang dari pandangan. "Itu tadi siapa, mbak?" Pertanyaannya ku abaikan, aku kembali ke rumah buru-buru.


***


Hari ini rasanya sangatlah menyiksa. Menanti kepulangan mas Bagas seperti menanti hujan di musim kemarau. Detik demi detik yang berlalu terasa begitu lambat. Beberapa kali aku mengiriminya pesan, menanyakan jam berapa ia kembali, tapi tak ada satupun pesan yang ia balas. Dibaca pun tidak.


Pukul sebelas malam barulah ia pulang. Wajahnya teramat kusut, menandakan ia begitu lelah. Saat melihatku menunggunya di ruang tamu, ia kaget.


"Kan sudah ku katakan, tidak perlu menungguku. Kamu tidur saja." Ia hendak berlalu menuju kamarnya.


"Aku menunggu mas karena ada yang ingin aku bicarakan." Kataku.


"Besok saja. Sekarang aku ngantuk sekali."


"Besok saja, Yu."


"Mas menikahiku karena bayaran dari orang tua Juan, kan?"


"Kamu bicara apa?"


"Aku sudah tahu semuanya."

__ADS_1


"Apa?"


"Mas ... kenapa mas tidak jujur dari awal. Kenapa mas harus melakukannya. Aku benar-benar kecewa,"


"Siapa yang mengatakannya?"


"Jadi benar, kan?"


"Apa Juan? Kamu menjalin komunikasi dengannya? Atau jangan-jangan saat aku pergi kalian bertemu? Iya? Bukankah kamu sudah janji, Yu. Kamu nggak akan berhubungan lagi dengannya. Kamu mengingkari janji yang kamu buat sendiri!" kini mas Bagas menaikkan nada suaranya.


"Bukan itu inti masalahnya. Lagipula aku tak mengingkari janjiku. Aku masih memegangnya hingga saat ini. Aku hanya ingin mendengar penjelasan mas tentang semua kebenarannya. Kenapa mas melakukannya? Apakah uang jauh lebih berharga dariku? Berarti benar mas tidak mencintai aku!'


"Cinta cinta cinta. Kamu kira hidup hanya butuh cinta saja. Untuk hidup juga butuh uang Yu. Bersikap realistis lah. Jangan terlalu naif. Ya, memang benar aku menerima tawaran orang tuanya Juan untuk menikahi kamu dan sebagai imbalannya mereka memberiku uang. Lalu kenapa? Kamu keberatan?"


"Ya Allah ...." aku mundur beberapa langkah. Harapan yang sempat ku bangun bahwa akan membina rumah tangga yang sakinah bersamanya langsung sirna. Aku benar-benar sakit. Hatiku langsung hancur. Aku benar-benar patah hati untuk pertama kalinya. "Tega kamu, mas." kataku, dengan air mata berlinang.


"Memangnya apa yang kamu harapkan? Yu, sadarlah, kamu itu sedang hamil anaknya Juan. Sementara kamu sudah tahu bagaimana posisi Juan di hidupku. Ia sangat terberat ku. Mana mau aku menerima bekasnya ditambah ada anaknya juga. Kalau bukan karena uang, ya aku nggak mau!" tegas mas Bagas, lalu ia berlalu meninggalkan aku sendiri.


Duniaku benar-benar hancur dengan kenyataan yang disebutkan oleh mas Bagas. Meski itu kenyataan tapi tetap saja sakit sebab aku sudah meletakkan harapan padanya.


Ku kira kami bisa membangun rumah tangga nantinya. Ku kira, ialah penolong yang Allah kirimkan untuk menyelamatkan aku dari aib ini. Tapi ternyata ia hanyalah seseorang yang melakukan semuanya karena uang.


Sudah tak adakah cinta dihatinya untukku? Sudah tak berarti kah aku untuknya. Kalau benar demikian untuk apa lagi aku disini? Untuk apa lagi aku bertahan di rumah yang ia beli dari hasil menikahiku.

__ADS_1


Dalam keheningan malam, aku mengebasi semua pakaian ke dalam koperku. Pelan-pelan aku meninggalkan rumah mas Bagas tanpa tujuan yang jelas. Aku terus melangkah, membelah kesunyian malam, berjalan menyusuri jalanan kota Jakarta.


Saat seperti ini aku benar-benar tak bisa berpikir jernih. Aku tak bisa berada di sisi mas Bagas sebab sekarang sudah tahu kenyataan kalau ia tak mencintaiku. Ia melakukannya hanya karena uang. Sementara kembali ke kota kelahiranku juga rasanya tak mungkin. Aku tak ingin menambah beban ayah, mas Yuda dan mbak Tika. Mereka sudah terlalu banyak dibuat susah oleh musibah yang menimpaku. Kini mungkin saatnya aku pergi jauh dari hidup mereka. Entah suatu hari akan kembali atau tidak kepada mereka lagi.


__ADS_2