
Kehebohan itu belum juga berakhir. Aku dan Cici hanya bisa berpelukan di dalam kamar sambil merapalkan doa-doa. Kami semakin ketakutan ketika mendengar suara pintu depan. Berhasil di dobrak. Secepatnya aku menambah benda-benda yang bisa menghalangi pintu kamar. Kasur, keranjang pakaian. Hanya itu yang ada, kini semuanya sudah berada di depan pintu, sebagai penghalang.
Setelah berusaha, tak ada lagi yang bisa ku lakukan selain pasrah pada apa yang akan Allah tetapkan untuk kami berdua. Apapun itu pasti yang terbaik untuk kami, bahkan meski pada akhirnya kami dibuat celaka oleh orang-orang itu.
"Ya Allah ... tolong kirim Juan atau siapapun untuk membantu kami. Cici dan anak yang ada dalam kandungan hamba adalah anak-anak yang belum berdosa, bantulah mereka, jagalah ya Allah."
Aku semakin gemetar. Suara-suara semakin berisik, teriakan orang-orang yang memaki dan mengumpat. belum lagi mereka yang menghancurkan barang-barang. Terdengar suara barang-barang dibanting. Kaca dipecahkan. Sementara Cici mulai menangis, meski tanpa suara. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangan, saat air mata mengalir. ya Allah. Aku begitu kasihan padanya. Khawatir ini akan jadi trauma untuknya. Anak sekecil itu harus mengalami hal menakutkan seperti ini. Aku yang sudah dewasa saja ketakutan, apalagi dia. "Ya Allah yang Maha pelindung." Kembali aku merapalkan doa-doa hingga suara yang kutunggu-tunggu terdengar. Suara yang membuat air mataku keluar saking bersyukurnya akhirnya ia datang. Inilah pertolongan Allah untuk kami yang sedang ketakutan.
"Kak ... ada kak Juan." bisik Cici sembari melirikku.
"Iya." Aku mengusap air matanya. "Alhamdulillah Juan sudah datang."
Juan berteriak. Mengusir mereka yang menerobos masuk ke dalam rumah. Ia juga mengancam akan melaporkan pada polisi kalau mereka tidak segera bubar saat ini juga. Juan memang cukup disegani oleh orang-orang di sekitar sini karena ia sering berbagi di sini. Semakin lama suara-suara heboh di luar hilang juga. Tak lama terdengar Juan mengetuk pintu.
"Yu, kamu di dalam? Kamu dan Cici enggak apa-apa, kan? Buka pintunya Yu, InshaAllah di sini sudah aman." Kata Juan.
"Ya!" Aku buru-buru membuka pintu. Saat terbuka, tampaklah pemandangan rumah yang berantakan, padahal sebelumnya sudah aku rapikan. Benar seperti dugaanku, satu-satunya cermin berukuran sedang milik kak Rani yang biasanya dipakai saat memakai makeup kini sudah pecah berantakan di lantai. Kain-kain berserakan, dua meja berukuran sedang tempat kompor dan wajan pun berserakan, bahkan yang satunya patah jadi dua. Sementara pada rak yang biasanya diisi makanan sudah ludes, hanya tersisa rak yang sudah tak terangkai lagi, kemungkinan karena dibanting berkali-kali. "Astagfirullah ... Allah ... kenapa mereka tega sekali!" Aku geram melihat tindakan orang-orang tersebut. Biasanya cuma main hakim sendiri. Kalau memang kak Rani terbukti bersalah, bukankah di negara ini sudah ada hukum yang berlaku, kenapa harus selalu pakai hukum rimba.
__ADS_1
"Rumahnya dihancurkan. Barang-barangnya di rusak," Cici kembali menangis, tapi kali ini tangisnya bersuara. Ia tersedu-sedu.
Anak sekecil ini pastilah sangat terluka ketika miliknya di hancurkan orang lain. Aku hanya bisa memeluknya untuk memberikan ketenangan. Ku biarkan ia menangis sebab Cici butuh itu untuk melepaskan emosinya.
Kebahagiaan untuk seorang anak bernama Cici itu sangatlah sederhana. Ia hanya memerlukan ibunya selalu berada di sisinya. Cici tak pernah mengeluh ketika ibunya tak perhatian. Ia selalu sabar ditinggalkan sendirian meski usianya masih kecil. Menahan rasa takut, tanpa ada orang dewasa yang mau memeluknya.
Ia tak pernah peduli meski kehidupan yang dijalaninya miskin. Hanya tinggal di gubuk reyot milik orang lain. Tanpa mainan, bahkan kadang tanpa makanan. Ia sendiri, tak punya teman selain ibunya. Itu saja sudah membuat seorang Cucu bahagia. Namun kini kebahagiaan menurutnya sudah sangat sempurna itu direnggut oleh orang-orang yang merasa dirinya Tuhan, menghakimi tanpa mau mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Benar-benar tak ada keadilan. Mereka diadili dengan sangat keras, diambil haknya.
"Saya rasa kamu dan Cici tidak bisa tinggal di sini lagi, Yu." Kata Juan. "Kapan saja orang-orang itu bisa datang kembali. Bersyukur saya bisa sampai cepat, tepat waktu sebelum mereka melakukan hal yang tidak tidak. Tapi tidak tertutup tertutup kemungkinan, mereka akan datang kembali, melakukan hal-hal yang mungkin lebih kejam. Jadi Yu, sebaiknya Kita pindah saja."
"Kalau kamu bersedia, kamu bisa tinggal di tempat saya, Yu. Jangan khawatir, saya janji tak akan menggangu kamu. Saya juga tidak akan tinggal di tempat yang seatap dengan kamu agar kamu nyaman." Juan mengajukan tawaran.
Aku bingung. Tidak tahu harus menerima atau menolak. Menerimanya masih khawatir akan jadi jalan untuk semakin banyak komunikasi dengannya sebab entah kenapa sekarang hatiku semakin nyaman dekat dengannya. Namun kalau menolak, aku harus tinggal dimana? Tetap di sini aku masih takut, bagaimana kalau app yang dikatakan Juan re rbujyu, orang-orang itu kembali databg. Bisa-bisa mereka menghabisi aku. "Ya Tuhan, aku harus bagaimana." Aku hanya bisa membatin, memohon pada Allah digerakkan hatinya untuk memilih sesuatu yang baik.
"Bagaimana, Yu?" Juan meminta kepastian. "Saya tidak bisa membiarkan kamu disini, ini sangat berbahaya, Yu. Setidaknya kalau di tempat saya akan ada yang menjaga kamu."
"Tapi,"
__ADS_1
"Apa?"
"Apa tidak akan apa-apa?" ada banyak hal yang membuatku ragu, tapi bukan lagi tentang Juan. Sejujurnya sekarang ini ia adalah orang yang paling aku percayai. Aku hanya takut jika kami semakin dekat dan akan timbul masalah baru yang lebih menakutkan. Untuk mengatakannya saja rasanya aku tak berani, apalagi menjalaninya.
"Yu, percayalah pada saya. Ini demi kebaikan kamu dan Cici. Juga agar kak Rani tenang. Saat ini saya sedang berusaha untuk membebaskan kak Rani, jadi saya takut tak bisa standby untuk kamu. Kamu mau, ya. Saya janji tak akan melakukan hal-hal terlarang lagi. Saya benar-benar minta maaf."
"Apa tak akan apa-apa?" Tanyaku lagi.
"Ya. InshaAllah tidak akan apa-apa. Nanti akan ada seseorang yang saya minta menemani kamu. Bagaimana?"
"Siapa?"
"Bibi Zelma, ia adalah sepupu ibu saya. Tapi sudah seperti ibu kedua untuk saya. Bagaimana?"
"Baiklah. Tapi hanya semnetara waktu saja. Begitu saya punya tempat sendiri maka saya akan pergi "
"Ya!"
__ADS_1