
Ayah dan mas Yuda benar-benar membuktikan perkataan mereka dengan melaporkan kembali Juan kepolisi. Tak hanya itu, atas ide mbak Tika, mereka menuliskan musibah yang menimpaku di media sosial. Kata mbak Tika, saat ini, dengan membuat viral bisa jadi jalan untuk kita mendapatkan keadilan karena perhatian masyarakat akan tertuju pada kami sehingga tak ada yang bisa bermain curang karena semua diawasi oleh orang-orang.
Aku melihat benar bagaimana perjuangan ayah, mas Yuda dan mbak Tika. Mereka bertiga bahu membahu mengusahakan agar keadilan itu kami dapatkan. Meski saat ini merasa terpuruk, tapi dengan dukungan dari keluarga seperti ini membuatku sedikit merasa lebih baik, setidaknya aku beruntung dilindungi oleh keluargaku.
Sayangnya, apa yang kami usahakan, mendapatkan perlawanan dari pihak Juan. Aku tak tahu pasti siapa dalangnya, tapi malam ini keluargaku mendapatkan teror yang kami yakin ada hubungannya dengan Juan sebab sebelumnya kami sekeluarga tak pernah bermasalah dengan siapapun.
Sebagai pemuka agama, meski hanya tingkat kampung, tapi ayah cukup dihormati. Begitu juga dengan anak dan mantu ayah yang selalu berusaha menjaga kehormatan keluarga ini dengan selalu memperhatikan sikap dan adab.
Malam ini, beberapa orang bersepeda motor melempar kaca dan genteng rumahku tepat pukul dua belas malam. Saat kami semua masih terlelap dalam tidur. Aku dan mbak Tika yang tidur satu kamar segera keluar untuk melihat apa yang terjadi. Ternyata; ayah, mas Yuda dan mbak Yuni sudah duluan keluar.
"Ada apa Yah? Kenapa kaca jendela kita pecah semuab?" Tanya mbak Tika.
"Sepertinya ada yang mau meneror keluarga kita. Ini pasti kerjaan orang-orang suruhan si anak berandalan itu!" Tegas mas Yuda.
"Jangan berprasangka buruk dulu, mas. Belum tentu dia pelakunya. Lagipula dia sudah menyesali perbuatannya dan ingin bertaubat. Kenapa mas masih saja berpikir buruk padanya. Dia juga sudah menerima jika harus masuk penjara." ungkap mbak Yuni
"Dari dulu kamu tahu, kan. Keluarga kita tak pernah bermusuhan dengan siapapun, tak perlu diragukan lagi, pasti dia pelakunya. Besok akan aku cari dia dan ku beri pelajaran." kata mas Yuda.
"Astagfirullah, sudah mas. Jangan main fisik terus. Mas nggak takut kalau nanti kembali dijebloskan ke penjara?" tanya mbak Yuni l.
__ADS_1
"Saya lebih takut kalau tidak bisa menjaga kehormatan keluarga ini!" tegas mas Yuda.
"Besok kita laporkan saja kejadian ini kepada pihak berwajib agar kita bisa mendapatkan keadilan." kata ayah.
Begitu lebih baik dari pada apa-apa langsung mau main hakim sendiri saja. Ingat mas, kita bukan siapa-siapa!" tegas mbak Yuni.
"Bukan siapa-siapa bukan berarti bisa diperlakukan semena-mena. Kita sama Dimata Allah. Jangan mentang-mentang kaya dan punya kekuasaan bisa berbuat tidak adil pada orang kecil seperti kita!" jawab mas Yuda. "Tak akan ku biarkan siapapun menginjak-injak kehormatan keluarga ini!"
Sepasang suami istri yang sudah menikah sejak lima tahun lalu itu kembali berdebat hingga mas Yuda kembali menyatakan jika mbak Yuni tak ingin mengikutinya maka dipersilahkan untuk kembali ke keluarganya. Mendengar itu, mbak Yuni hanya bisa menangis, lalu kembali ke kamarnya.
"Yud, jangan sembarang bicara. Yuni memang salah, tapi jangan mudah untuk mengusirnya dari rumah ini karena bagaimanapun juga ini juga sudah menjadi rumahnya. Lagi pula hati-hati, jangan sampai nanti malah jadinya jatuh talak!" kata ayah, menasihati mas Yuda yang sudah sangat jengkel dengan istrinya. "Sekarang kita istirahat dulu, ini semua tidak usah dibersihkan dulu supaya bisa jadi barang bukti." kata ayah, lalu mengajak kami semua kembali beristirahat.
***
"Bicara? Mas sadar tidak, apa yang dilakukan anak itu bukan sebuah kesalahan kecil, tapi dia sudah menghancurkan masa depan Ayu. Dia sudah mempermalukan Keluarga kami, dia sudah merenggut kehormatan putriku!" tegas ayah.
"Tapi kamu juga sudah mempermalukan keluarga besar mereka. Kamu tahu tidak, dengan membuat viral kasus ini sama saja dengan membuat semua orang tahu perbuatan anak mereka padahal anak itu adalah anak tunggal, satu-satunya calon penerus di keluarga itu." Kata Pak De.
"Saya tidak peduli seberapa terhormatnya mereka dan tentangnya yang akan jadi penerus keluarganya. Yang saya inginkan dia bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya. Ia harus mendapatkan hukuman setimpal!" kembali ayah menegaskan. "Mas tidak perlu mengajari saya apapun, biarkan saya memperjuangkan keadilan untuk putri saya!"
__ADS_1
"Heh Ilman, kamu tahu, kalau bukan karena desakan mereka, saya juga tidak peduli dengan apa yang menimpa keluargamu." balas Pak De.
Menyadari kalau ia keceplosan bicara, Pak De buru-buru meralat perkataannya. Mengatakan bahwa ia tak ingin kami sekeluarga mendapatkan masalah atas apa yang sudah terjadi.
"Sudah, cukup sampai di sini saja. Semuanya sudah terjadi. Kalian lihat sendiri, saat mencoba melawan malah dipenjara dan rumah kalian sampai hancur seperti ini. Ilman, kamu bukan orang kaya yang bisa melakukan banyak hal, jadi sudahi sajalah. Berdamai saja. Bukankah kamu tahu bahwa memaafkan itu jauh lebih baik dari pada mendendam?" kata pak De.
"Astagfirullah Mas. Sebaiknya sekarang mas segera pergi dari rumahku!" kata ayah sambil bangkit dari duduknya. Aku dan mbak Tika yang mengintip dari dalam bisa merasa bagaimana marahnya ayah. "Mas tahu, kehormatan putriku, adalah segala-galanya. Sebagai seorang ayah, aku adalah orang pertama yang harus melindunginya!"
"Kamu ini, diberitahu bukannya nurut malah membangkang. Kamu tahu tidak Man, yang dirugikan bukan hanya kamu, tapi juga keluargaku. Apa kamu mau bertanggung jawab kali terjadi sesuatu dengan anak istriku? Atau, apa kamu bisa ganti rugi atas kerusakan rumahku. Kami juga diteror gara-gara putrimu!" balas Pak De.
"Jangan salahkan putriku, mas. Tapi salahkan pelakunya. Jangan malah berdiri mendukung pelakunya!"
"Man, kamu benar-benar tidak bisa dibilang ya?"
"Maaf mas, kalau untuk masalah ini aku sudah menentukan sikap dan itu tak akan bisa dirubah. Aku akan berjuang hingga titik terakhir. Akan ku buktikan kalau aku bisa melindungi putriku Ayu. Apapun yang terjadi nantinya aku siap menghadapinya!"
"Kamu!"
"Maaf mas,"
__ADS_1
"Terserah kamulah. Tapi nanti jangan menyesal kalau terjadi apa-apa."
Setelah pertengkaran mas Yuda dan mbak Yuni, kini aku harus menyaksikan ayah dan Pak De Ikang bertengkar. Aku benar-benar menyesal telah menjadi penyebab semua ini. Andai saja aku bisa merubah semuanya, atau menghindari kejadian ini agar tak perlu ada pertengkaran pada orang-orang yang aku sayangi.