Haruskah Kita Menikah?

Haruskah Kita Menikah?
Saatnya Berpisah


__ADS_3

Tok tok tok. Aku mengetuk pintu kamar ayah pelan-pelan, khawatir mengganggu. Sebenarnya aku ragu untuk menemui ayah malam ini sebab jarum jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.


Ayah biasanya selalu tidur lebih cepat. Paling lambat pukul sembilan sudah terlelap karena ayah punya kebiasaan bangun pukul dua dini hari untuk salat malam dan mengaji.


Krek. Suara pintu dibuka. Ternyata ayah belum tidur. "Ayah belum tidur?" Tanyaku.


"Kamu sendiri kenapa belum tidur? Besok pagi kan kamu harus berangkat, perjalanan hampir sepuluh jam akan sangat melelahkan, ditambah sedang hamil. Istirahat lah nak." kata ayah.


"Ayah, Ayu ingin bicara dengan ayah sebentar. Boleh?" tanyaku.


"Ya, tentu saja. Sejak kapan ayah melarang anak ayah untuk bicara." Kami berdua menuju ruang tamu, lampu yang semula sudah padam kini kembali menyala. "Ada apa, Yu? Apa ada hal yang mengganjal pikiran kamu?"


Aku menggeleng.


"Lalu kenapa?"


"Yah, besok Ayu akan berangkat ke Jakarta."


"Iya. Ayah tahu."


"Ayah jaga kesehatan ya."


"Kamu juga."


"Kalau ada apa-apa kabari Ayu, ya."


"Kamu juga."

__ADS_1


"Ayah ... Jangan telat makan, kalau mbak Tika atau mbak Yuni sibuk, ayah beli nasi matengan saja. Pokoknya jangan telat makan!"


"Iya. Kamu juga jangan telat makan."


"Ayu akan sangat sedih kalau mendengar kabar ayah sakit."


"Ayah juga begitu."


"Ayah!" aku sudah tak tahan untuk membendung air mata ini. Kini aku menghambur dalam pelukan ayah. Lelaki ini, meski ia tampak lebih tua dari usianya, tetapi ialah lelaki pertama yang begitu aku sayangi. Ayah, yang selalu menjagaku sebaik mungkin. Aku selalu berusaha untuk berbakti pada ayah meski diujung menuju menggapai cita-cita semuanya harus berantakan seperti sekarang tetapi ayah tak pernah mengatakan bahwa ia kecewa padaku. Ayah selalu berdiri di garda terdepan untuk melindungiku. "Maafin Ayu ya yah!"


"Ayu nggak punya salah apa-apa sama ayah."


"Ayu sudah mengecewakan ayah. Ayu gagal kuliah tahun ini. Tapi ayu janji akan berusaha semaksimal mungkin agar tahun depan bisa masuk di fakultas kedokteran. Ayu akan jadi dokter yah, Ayu janji itu!"


"Ya nak. ayah percaya kamu mampu mengejar ketertinggalan kamu. Kamu harus kuat ya. Tetap tawakal sama Allah."


Bagi ayah, kehormatan putrinya jauh lebih penting dari hidupnya. Ayah tak akan bisa memaafkan lelaki yang sudah menjahati aku dengan begitu mudah. Tetapi kami tak punya pilihan lain, aku harus melupakan semuanya sebagai syarat untuk memulai hidup baru bersama mas Bagas. Ia tak ingin aku mengingat kisah kelam itu. Ia ingin aku hanya mengingat tentang dirinya dan aku menyetujui itu.


***


Pukul delapan pagi. Mas Bagas sudah datang menjemput. Memang setelah akad ia minta izin untuk kembali ke rumahnya, menginap semalam sebelum kami berangkat ke Jakarta. Walaupun pernikahan kami tidak direstui, tapi mas Bagas tak mau hubungannya dengan kedua orang tuanya terus menerus memburuk. Ia pulang untuk membujuk ayah dan ibunya sekaligus pamitan meskipun hasilnya tetap saja tak ada restu yang kami dapatkan.


"Kita berangkat sekarang!" Kata mas Bagas, usai melirik jam di tangannya. Berdua dengan mas Yuda, ia memasukkan tas dan koperku dalam bagasi mobil taksi online yang sudah dipesan mas Bagas. Setelah selesai ia pamit duluan, sementara aku masih berdiri mematung, sulit rasanya untuk pamit pada ayah, mas dan mbakku.


"Pergilah nak." ayah memberikan sebuah amplop untukku. Ia meminta agar aku membukanya sesampai di Jakarta saja. Tak lupa ayah berpesan agar aku tak absen mengabari mereka.


Langkah kaki ini begitu berat. Berharap ada yang menghentikan. Kalau saja tak ditarik oleh mas Bagas, mungkin aku masih berdiri mematung di samping ayah dan mbak Tika.

__ADS_1


Baru hendak masuk ke dalam mobil, tiba-tiba Arum datang. Anak itu akhirnya muncul juga setelah kejadian ia disidang oleh keluargaku.


"Ini, tolong dibaca nanti ya." Arum menyelipkan sebuah amplop dibalik kerudungku. Ia menutupinya hingga surat itu ku masukkan dalam kantong gamis.


Apa isi amplop itu? Aku berusaha menebak bahwa itu adalah surat. Tapi kenapa juga harus mengirimkan surat?


"Yuk," mas Bagas kembali mendorong pelan aku ke dalam mobil, setelah itu ia menutupnya.


Aku hanya bisa melambaikan tangan pada ayah, mas Yuda, mbak Tika, mbak Yuni dan Arum dari balik jendela. Mobil terus berjalan menuju stasiun. Semakin lama semakin jauh dari rumahku.


"Ingat Yu, kita mulai hidup baru dari sekarang. Lupakan semuanya, jangan pernah menyebut atau sekedar mengingatnya lagi. Aku sudah berkorban banyak untukmu, jadi jangan hianati pengorbananku. Sampai bayi itu lahir, lalu kita berikan pada masmu, setelah itu kita benar-benar menjadi pasangan suami istri selayaknya." Kata mas Bagas. Ia mengulang kembali janji yang kami buat sesaat setelah kamu resmi menjadi suami istri.


Ia memang tak akan menyentuhku hingga anak ini lahir. Setelah itu ia akan menikahiku kembali secara negara, agar pernikahan kami sah Dimata agama dan hukum.


***


Kereta api eksekutif memasuki stasiun Gambir. Aku dan mas Bagas sudah bersiap untuk turun. Mas Bagas membawa semua barang-barangku hingga aku bisa melenggang santai. Tapi tetap saja, Rasanya badanku sudah begitu letih di perjalanan. Meski naik kereta kelas atas tetap saja badannya pegal-pegal, mungkin karena pengaruh sedang hamil.


"Kita akan tinggal dimana?" akhirnya pertanyaan itu terucap juga, mengingat mas Bagas selama ini ngekos. Rasanya tak mungkin aku akan ikut tinggal disana sebab biasanya dikos laki-laki dilarang ada perempuan meski kami sudah menikah.


Mas Bagas tak menjawab, ia hanya diam menatap tajam keluar jendela. Ia yang sehari lalu begitu semangat ketika berbincang denganku kini menjadi dingin, benar-benar berbeda dengan sikapnya yang biasa. Tapi aku berusaha berpikir positif, mungkin ia lelah. Selama diperjalanan tadi, beberapa kali aku lihat ia selalu terbangun padahal aku sudah tidur berkali-kali.


Ia pasti sangat lelah. Ditambah saat ini aku telah menjadi tanggungannya, sementara orang tuanya tak merestui.


Apakah ia memikirkan biaya hidup kami? Aku mencoba menebak. Mungkin itu yang membuatnya berubah pendiam, bisa saja orang tuanya tak lagi membiayai sebab mas Bagas tetap menikahiku. Kalau begitu, wajar ia pusing. Memikirkan biaya hidup dan kuliahnya yang tentu saja tidaklah murah.


Aku berjanji, nanti akan membantunya mencari pekerjaan. Menjadi guru ngaji, ngajar les atau kerja serabutan apa saja aku siap! Aku tak akan merepotkannya, aku akan berusaha jadi istri dan partner hidup yang baik untuknya. Kedua belah pihak harus sama-sama bahagia.

__ADS_1


__ADS_2