
"Kita pulang sekarang," kataku, pada Arum yang tengah menunggu di dekat motor. Tadi ia menolak ikut karena takut dimarahin.
"Pulang? Eh, itu ...." Arum gugup.
"Kenapa Rum?"
"Yu, sebelum pulang temani aku sebentar ya. Aku mau ketemu teman."
"Nggak lama, kan?"
"Enggak kok, cuma sebentar. Setelah itu kita langsung pulang."
"Ya udah."
"Makasi ya Yu, kamu memang sepupuku yang paling baik!"
"Kamu juga baik, Rum. Sudah mengantar aku ke sini, walau hasilnya gak sesuai harapan."
"Hmm, udah Yu, semoga setelah ini tak ada lagi yang menghalangi jalan mbak Tika."
Aku segera naik ke boncengan, setelah itu Arum langsung tancap gas menuju tempat janjiannya.
Arum membawaku ke taman yang cukup sepi, ia memintaku ikut menemani, padahal sebelumnya aku ingin menunggu saja di parkiran. Sampai di sana, tak menunggu waktu lama, orang yang ditunggu Arum pun datang. Betapa terkejutnya aku saat melihat sosok yang datang menemui kami.
Juan Utomo. Lelaki itu, ia yang sudah menghancurkan hidupku kini berada hanya beberapa meter di dekatku.
"Rum, apa-apaan ini?" tanyaku pada Arum. Jujur aku kesal padanya. Rencana apa yang sudah disusunnya. Kenapa ia tega mempertemukan aku dengan lelaki itu. Juga, berarti Arum berkomunikasi dengannya.
__ADS_1
"Yu, jangan salah paham dulu," Arum memegang tangan kananku.
"Jangan salah paham katamu? Lalu kenapa ada dia di sini?" aku langsung meledak, tak bisa menahan emosi. Saat seperti ini, ketika kepalaku sudah pusing memikirkan batalnya rencana pernikahan mbak Tika, tiba-tiba aku malah harus bertemu dengan lelaki itu dan yang jadi perantara kamu adalah Arum. Sepupuku. "Ini benar-benar lucu!"
"Yu, jangan marah pada Arum. Ini semua karena permintaanku. Kalau kamu mau marah, cukup padaku saja. Aku tak punya pilihan lain untuk bertemu denganmu, aku harus membicarakan semuanya." Juan buka suara.
"Bicara? Bicara apa, hei pemerko**! Belum puas kamu menghancurkan hidupku dan keluargaku? Sekarang apa lagi yang ingin kamu lakukan, hah? Kamu sudah membuat ayah dan masku di penjara, meneror kami, juga membuat batal pernikahan kakakku. Lalu apalagi yang kurang?" aku nyaris berteriak, saking stresnya dengan semua ini.
"Maaf ...." ia menunduk.
Meski wajahnya terlihat memelas, menunjukkan penyesalan, tapi itu tak akan mengubah kebencian ku padanya. Kebencian ku sudah mendalam. Ia sudah menghancurkan semuanya, bahkan mbak Tika pun kena imbas perbuatannya.
"Yu, Juan hanya ingin minta maaf. Ia menyesal dan akan bertanggung jawab." Arum membantu bicara.
"Tanggung jawab? Untuk apa? Saya tak butuh itu semua. Saya hanya menginginkan ia membusuk di penjara!" kataku.
"Baiklah Yu, jika itu yang kamu inginkan. Sekarang juga aku akan ke kantor polisi dan meminta untuk ditahan." katanya.
"Lalu apa maksud kamu? Kamu mau aku diam saja, Rum? Kamu lihat kan apa yang sudah terjadi! Gara-gara dia, keluargaku harus menerima dampaknya. Padahal kami tak punya salah apapun padanya, saat kami minta keadilan malah mendapat perlakuan tidak mengenakkan." kataku.
"Tapi kan Juan sudah menyesalinya, Yu. Dia memang salah. Perbuatan itu terjadi karena ia sedang terpuruk. Juan minum dan terjadilah semuanya." bela Arum. "Dan yang meneror keluarga kita itu bukan Juan, tapi orang suruhan ayahnya. Juan pun marah dengan apa yang sudah dilakukan ayahnya."
"Kamu tahu semua, Rum. Jadi, seberapa dekat kalian?' aku menatap heran Arum. Tak menyangka, sepupu yang hanya terpaut setahun ini rupanya berteman dengan lelaki yang sudah menghancurkan hidupku. Aku memang tak berhak melarang, tapi sebagai bagian dari keluarga, aku merasa kecewa padanya.
"Yu, Arum nggak salah Apa-apa. Aku yang memaksanya untuk mau membantuku. Aku harus bicara dengan kamu. Membuat kesepakatan agar tak ada lagi teror atau hal-hal tak adil yang dilakukan orang tuaku pada keluarga kamu." ungkap Juan.
"Kesepakatan? Hihh, saya tak tertarik membuat kesepakatan dengan pelaku kriminal!" aku berkata sinis.
__ADS_1
"Ayu," panggil Arum. "Dengar dulu apa yang dikatakan Juan, kamu jangan keras kepala dulu. Kamu tahu tidak, Juan akan kembali ke Jakarta. Ia harus melanjutkan kuliahnya. Waktunya sangatlah terbatas. Makanya kamu harus dengar penjelasannya sebab kalau kamu tidak mau maka sampai kapanpun keluargamu tidak aman, Yu. Apa kamu tega dengan pak Lik yang harus bolak-balik kantor polisi tapi tidak ditanggapi? Atau mas Yuda yang kini kehilangan pekerjaannya? Juga mbak Tika?"
"Tu ... tunggu. Apa maksudmu, Rum? Mas Yuda kehilangan pekerjaan?" aku mengerutkan kening.
"Ya. Mas Yuda sudah dipecat!" tegas Arum.
"Astagfirullah," badanku langsung lemas. Tak sanggup membayangkan bagaimana hancurnya perasaan mas Yuda dan mbak Yuni. Kenapa harus mereka yang kena imbasnya?
Badanku nyaris terhempas, namun dengan sigap Juan menangkap lenganku hingga aku tak jadi jatuh.
"Maafkan aku, Yu." Katanya.
"Lepaskan!" aku berusaha melepaskan diri, namun karena masih lemas, usahaku untuk lepas hanya sia-sia. Ia pun tak mau melepaskan aku.
"Yu, jangan keras kepala." nasihat Arum. "Dengarkan dulu usulan Juan, setelah itu baru kita diskusikan apakah kamu bisa menerima atau tidak, agar kekacauan ini bisa segera berakhir. Apa kamu tidak kasihan dengan ayah, mbak dan masku?"
Kenapa, kenapa harus aku lagi yang dikorbankan? Kenapa harus aku yang mendengarkan manusia itu. Bukankah dia yang menghancurkan masa depanku, lalu kenapa dia juga yang berhak menentukan apa yang harus dilakukan selanjutnya? Aku hanya ingin keadilan, aku tak butuh apapun lagi!
"Aku mau pulang!" kataku, sambil meronta agar Juan melepaskan. Dipegang olehnya membuatku takut, bayang-bayang kejadian sore itu terus muncul. "Rum, antarkan aku pulang!" aku berteriak.
"Nanti dulu, kamu masih pucat, Yu." Katanya.
"Lepaskan aku!" seperti seekor singa betina yang lapar ketika melihat mangsanya, rasanya aku ingin mencabik-cabik lelaki ini, tapi sayangnya tubuhku rasanya sangatlah lemas, bahkan untuk melepaskan cengkeramannya saja aku tak kuat. "Lepaskan aku!" kataku lagi.
"Yu," Arum berusaha menenangkan. "Jangan sampai pertemuan ini sia-sia. Ayolah, bersikap dewasa sedikit saja. Ini semua juga demi kebaikan kita semua. Juan siap bertanggung jawab, ia tak bermaksud untuk melukai kamu, Yu. Ia benar-benar menyesal sudah melakukan semua ini padamu, padahal Juan begitu menghormati kamu."
"Ahhh, siapa yang peduli. Aku tak butuh pembelaan tak masuk akal kamu, Rum. Sekarang juga antar aku pulang atau kamu akan mendapatkan masalah!"; aku terpaksa mengeluarkan ancaman sebab mereka berdua masih ingin menahanku.
__ADS_1
"Ini bukan pembelaan, aku mengatakan yang sebenarnya." kata Arum.
"Sejak kapan ... sejak kapan kamu mengenalnya? Seberapa dekat kalian hingga kamu begitu yakin ia tak bersalah? Jawab Rum! Kalau mau membelanya jangan tanggung-tanggung. Kamu tahu semuanya, apa yang sudah dia lakukan padaku dan keluarga ku, tapi kenapa kamu malah tega mengkhianati kami? Kenapa Rum? Apa yang sudah ia berikan padamu, hah?" kini aku mencecar Arum. Rasanya sudah tak bisa bersabar melihat sikap sepupuku ini, ia sungguh tega padaku.