
Telepon genggam ku berbunyi. Dari Juan. Rupanya ia khawatir karena aku belum juga menyusulnya. Agar ia tak khawatir, makanya aku buru-buru turun ke parkiran sambil berlari kecil. Aku tak mengabaikan sepasang mata yang masih memperhatikan aku sambil bekerja.
Sampai di parkiran, Juan benar-benar khawatir. Ia sampai mempertanyakan obrolanku dengan Mita.
"Sepertinya kalian membicarakan sesuatu hal yang tidak baik. Makanya kamu terlihat sedih." tebak Juan.
"Enggak. Ia hanya kaget saat aku mengatakan kalau kita sudah menikah." jawabku.
"O," Juan hanya menjawab pendek.. sepertinya ia tak tertarik membahas pembicaraan kami. Sepertinya ia sudah bisa menebak ke arah mana isinya.
Aku juga tak melanjutkan pembicaraan. Tak ada gunanya membahas sesuatu hal yang hanya akan membuat kami tidak nyaman. Apalagi sebentar lagi kami juga harus menghadapi keluarga Juan yang pastinya akan memperlakukan kami dengan tidak nyama. juga.
***
Mobil yang dikemudikan Juan memasuki halaman rumah paling besar di kota ini. Rumah yang dulu setiap kali aku lewati selalu bisa menyita perhatianku. Dulu aku pernah membatin betapa enaknya bisa tinggal di rumah sebesar dan mewah seperti miliknya Juan. Siapa sangka, kini aku adalah menantu dari keluarga ini. Meskipun statusku tidak diterima.
__ADS_1
"Ayo kita turun!" Ajak Juan.
"Kamu.saja. Aku takut." Kataku.
"Jangan begitu. Kita kan sudah membuat kesepakatan.Tidak usah takut Yu. Kita hadapi sama-sama." Juan menggandeng tanganku. Ia membimbingku masuk ke dalam rumahnya.
Ternyata tidak hanya ayah dan ibu Juan yang menanti kedatangan kami..Tapi ada seluruh keluarga besarnya. Kami berdua sampai kaget.
"Nah, kalian sudah datang. Ayo-ayo masuk!" Ajak ayahnya Juan. Sikapnya yang berbeda tiga ratus enam puluh derajat membuat kami tercengang. Ternyata tak hanya ayahnya, tapi juga ibunya dan seluruh keluarga besarnya Juan. Mereka begitu ramah. Nampak semangat sekali menyambut kedatangan kami.
"kalian berdua pasti lelah.. Sekarang ayo duduk di sini. Kita makan-makan sambil cerita ya." Ibunya Juan menarik pelan tanganku untuk duduk di dekatnya. Aku yang bisanya melihat wajahnya di baliho, kini bisa melihat langsung wajah cantik ibunya Juan. Ternyata ketampanan suamiku menurun dari ibunya. "Bagaimana acaranya tadi? Apa lancar? Maafkan kami ya tidak bisa datang karena kami juga harus mempersiapkan penyambutan di sini." Tambah ibunya Juan.
Semua orang terbuka. Mereka menjamu kami makan dan minum..Sesekali terdengar celotehan riang dari mulut saudara Juan.
"Hai Yu, apa kabar?" Seseorang menghampiriku. Aurel. rupanya ia juga ada di acara ini. Sebenarnya wajar sebab Aurel masih terhitung sepupu jauh Juan. Hanya saja aku menjadi tidak suka sebab ia berusaha menunjukkan posisinya di rumah ini.
__ADS_1
"Baik." Jawabku, sambil melempar senyum seadanya.
"Tidak menyangka, akhirnya kalian menikah juga. Aku kira setelah waktu itu kamu akan menyerah, Yu. Tapi rupanya kamu kuat juga. Demi bisa menikahi Juan kamu harus menempuh ini Semua." Ungkap Aurel.
Tak banyak pembicaraan antara aku dan Aurel. Kami memutuskan untuk menjaga jarak sebab sama-sama tidak nyaman.
"Ini bukan mimpi, kan?" kataku pada Juan, usai kami pamit pada semua orang.
"Enggak sayang. Akhirnya kita diterima juga!" jawab Juan.
Air mata ini rasanya ingin keluar..Antara bahagia namun juga sedih.
Kenapa begini? Kenapa justru keluarga Juan yang menerima kami, sementara keluargaku tidak?
"Tidak usah sedih, sayang. Semoga sesegera mungkin keluargamu juga menerima pernikahan kita." Kata Juan. Kami berdua berjalan bersisian menuju kamar hotel tempat kami menginap.
__ADS_1
***
Masih ada dua hari lagi sebelum kembali ke Jakarta. Meski begitu kami sudah memutuskan menghabiskan waktu di hotel. Padahal ibunya Juan sudah beberapa kali membujuk agar kami menginap di rumahnya saja. Tapi Juan menolak. Ia tak ingin menambah beban pikiranku. Makanya tetap menginap di hotel saja.