Haruskah Kita Menikah?

Haruskah Kita Menikah?
Tempat Tinggal Baru Kami


__ADS_3

"Sudah sampai!" kata mas Bagas, saat taksi berhenti di depan pagar rumah cat putih abu-abu.


Lamunanku langsung buyar, berganti menjadi kaget melihat tempat kami berhenti. Ini tidak salah, kan? Kenapa taksi berhenti di depan rumah yang menurutku lumayan besar. Tipe tujuh puluh, rumah yang menjadi impian mbak Tika. Ada sebuah perumahan yang baru didirikan dekat rumahku, semua bangunannya sama seperti ini, hanya beda warna catnya saja. Itulah kenapa aku tahu tipe dan gambaran harganya karena setiap melewati perumahan itu mbak Tika selalu membahasnya. Bahkan ia sampai mengumpulkan brosur penjualan rumah tersebut.


Apakah mas Bagas menyewanya? Tapi kenapa? Rasanya tak perlu, sangat berlebihan menurutku. Meski kami akan tinggal bersama, di rumah petak atau bahkan di kosan pasutri saja sudah cukup menurutku.


"Ki ... kita tinggal di sini, mas?" Aku memastikan. Saat mas Bagas sudah mulai menurunkan isi bagasi, lalu membayar ongkosnya. Setelah itu kami berdua berdiri di depan pagar rumah tersebut. "Mas," aku memanggilnya.


Mas Bagas masih tak menjawab. Mengeluarkan kunci, lalu membuka pagar. Kemudian terus berjalan memasuki halaman menuju pintu rumah. Sementara aku mengikuti dari belakang.


"Sewanya pasti mahal," aku menggunam. Biaya di Jakarta berkali lipat dari pada di Jogja. Kalau di Jogja saja bisa puluhan juta, di ibukota pasti lebih dari itu. Duh, rasanya sayang sekali kalau uang sebanyak itu hanya dipakai untuk menyewa rumah. Harusnya uang untuk sewa rumah itu bisa dipakai untuk modal kami melanjutkan kehidupan dan biaya kuliah mas Bagas.


Aku mulai menebak-nebak, siapa yang sudah meminjamkan mas Bagas uang sebanyak itu? Kapan jatuh tempo pembayaran hutangnya. Kalau sudah begini, berarti aku tak boleh berleha-leha, aku harus ikut membantu mas Bagas mencari uang. Ia tak boleh bekerja terlalu keras untuk melunasi hutang tersebut sebab mas Bagas juga harus fokus kuliahnya. Aku tak mau impiannya menjadi pengacara hebat harus gagal karena dililit hutang.


Mungkin dengan mas Bagas mencapai cita-citanya maka hati orang tuanya bisa luluh sebab aku tak hanya menyusahkan putra mereka tapi juga membawa dampak positif.

__ADS_1


Kini pintu rumah sudah terbuka. Aku kembali dibuat menganga saat melihat isi rumah yang menurutku harganya pastilah tidak murah.


Duh, lagi-lagi aku hanya bisa membatin. Kenapa harus menyewa semua ini? Harganya pasti mahal. Bagaimana caranya melunasi hutang-hutangnya. Bisa-bisa aku malah tak punya kesempatan lagi untuk melanjutkan pendidikan.


Begitu kami menginjak ke dalam rumah, mataku langsung menyapu semuanya. Rumah ini benar-benar cantik. Di ruang tamu sudah ada sofa besar yang aku yakini sangatlah empuk. Aku tak berani mendudukinya karena warnanya putih. Selain takut rusak aku juga tak ingin membuatnya kotor.


Lalu kami masuk ke dalam. Ada ruang keluarga kecil. Di tengahnya ada ruang menonton televisi. Seumur-umur aku belum pernah melihat layar televisi selebar ini. Rumah ini ada tiga kamarnya. Kamar paling depan ditempati mas Bagas, yang tengah aku yang menempati, sementara kamar yang berada agak belakang masih kosong. Di dalam kamarku dan kamar mas Bagas ada kamar mandi dalamnya.


Rasa takjub itu belum juga usai saat melihat dapurnya yang cukup luas dengan perlengkapan memasak yang bisa dibilang sangatlah lengkap. Ini benar-benar rumah yang kuat biasa dan aku yakin harga sewanya pastilah mahal.


"Mas ... kenapa sih harus nyewa rumah sebagus ini. Kenapa kita nggak tinggal di kontrakan biasa saja. Aku nggak apa-apa kok. Dari pada tinggal disini malah rasanya nggak nyaman. Aku benar-benar takut kita nggak bisa membayar sewanya." Kataku, sambil berjalan mengelilingi rumah.


Makan? Aku yang biasanya susah untuk makan saat di rumah ayah kini tiba-tiba ingin makan. Makanya aku bergegas ke dapur dan lagi-lagi aku dibuat terkejut saat membuka pintu kulkas dua pintu yang menurutku sangatlah mewah. Di dalamnya ada banyak makanan. Mulai dari Frozen hingga coklat. Sebanyak ini, tapi kenapa mas Bagas menyebut hanya sedikit makanan?


"Ahhh sudahlah. Lebih baik jangan dipikirkan dulu. Sekarang yang penting makan supaya bisa punya tenaga untuk mempersiapkan bagaimana agar bisa segera dapat pekerjaan!" kataku penuh semangat.

__ADS_1


***


Sinar matahari yang masuk lewat jendela kamar terasa silau. Aku menggeliat untuk menghilangkan sedikit pegal di badan. Tetapi tiba-tiba tersadar kalau sekarang aku tak lagi berada di rumah ayah. Butuh beberapa menit untuk kemudian ingat kalau sekarang aku tinggal di Jakarta dan sudah menikah dengan mas Bagas.


"Astagfirullah, belum salat Subuh!" Aku segera melompat menuju kamar mandi. Mengambil wudhu lalu buru-buru salat.


Sungguh benar-benar kacau, bangun terlambat, Salat pun terlambat. Padahal Allah sudah memberiku banyak sekali nikmat.


Usai salat, pandanganku kembali menyapu seluruh ruangan kamar ini. Masih dengan nuansa putih, kasur berukuran sedang dengan seprai berwarna putih. Di sebelahnya ada meja hias dan kaca berukuran separuh badanku. Sebelahnya lagi ada lemari dengan empat pintu. Aku sudah memasukkan tas dan koperku ke dalamnya. Di ujung ada kamar mandi yang tak kalah menakjubkan bagiku yang terbiasa hidup sederhana. Rumah ini benar-benar rumah impian. Orang yang merancangnya sangatlah luar biasa karena memiliki selera tinggi.


Andai saja ayah, mas Yuda dan mbak Tika melihat rumah ini, mereka pasti akan takjub. Ku harap, suatu hari mereka bisa ke sini. Belum genap berpisah dua puluh empat jam saja tapi sudah rindu pada mereka.


Sedang apakah mereka sekarang? Aku ingin berbincang dengan ayah, tapi ku tahan sebab tadi mbak Tika mengirimi aku pesan, katanya ayah benar-benar sedih. Sejak aku pergi ayah tak mau keluar dari kamar, ia benar-benar menolak untuk makan. Rasanya jantungku berdebar mendengar.


Makanya aku memutuskan menahan diri untuk menghubungi ayah. Aku tak ingin ayah kembali sedih mengingatku. Saat ini mungkin lebih baik tak banyak bicara dulu agar kami terbiasa dengan perpisahan ini.

__ADS_1


Tok tok tok. Suara pintu diketuk. Terdengar suara mas Bagas dari luar memintaku untuk segera keluar. Usai merapikan mukenah, aku buru-buru keluar kamar. Di sana ia sudah menunggu di depan meja makan.


"Sarapanlah dulu. Sebentar lagi akan datang orang yang akan membantu kita mengurus rumah ini, ia juga akan menemani kamu saat aku tak ada di sini. Namanya Bi Supi, tak usah sungkan kepadanya, kalau butuh apapun saat tak ada aku di sini, bisa minta bantuannya juga." kata mas Bagas, sambil menyodorkan sebuah piring berisi nasi uduk lengkap dengan lauk ayam bumbu dan telur baladonya. Setelah itu kami sarapan bersama dalam diam.


__ADS_2