
Berita tentangku yang mengalami keguguran ternyata terdengar hingga telinga mas Bagas. Pagi ini, saat aku sedang bersiap untuk pulang dari rumah sakit ia datang dan yang membuatku jengkel ia datang bersama Linda. Teman sekampus yang pernah ngaku sendiri padaku bahwa ia memiliki perasaan pada mas Bagas.
"Kita pulang sekarang, Yu." Kata mas Bagas.
"Nggak. Saya nggak mau pulang ke tempat, mas!" aku menegaskan. Berharap Juan yang sedang mengurus administrasi segera datang untuk mengusir lelaki ini. Bagaimanapun aku tak ingin melanjutkan Pernikahan bohongan ini. Ia tak lagi mencintaiku seperti dulu, melainkan menikah karena uang yang diberikan orang tuanya Juan.
"Lalu kamu mau kemana? Jangan bilang ke rumahnya Juan. Kamu ini bagaimana sih, Yu, kamu sendiri yang mengatakan membencinya, tapi kenapa malah minta perlindungan darinya? Benar-benar tidak punya pendirian. Atau jangan-jangan semua cerita yang kamu katakan dulu itu adalah bohong? Kamu sebenarnya menyukai apa yang ia lakukan, iya kan?"
"Astagfirullah, mas ngomong apa sih? Jahat sekali cara berpikirnya mas!"
"Kalau bukan begitu, lalu kenapa sekarang kamu bersama dia? Kamu benar-benar tidak tahu malu, sudah seperti perempuan murahan. Kemana-mana bersamanya, bahkan tinggalpun bersamanya. Kamu marah ketika aku menerima uang dari orang tuanya, tapi kamu malah bersama anaknya. Lalu apa itu namanya? Aneh sekali!"
"Itu bukan urusan mas. Yang jelas saya tak ingin lagi bersama mas. Secepatnya saya akan menggugat mas di pengadilan agar kita bisa bercerai."
"Ngaco kamu!"
Aku benar-benar geram. Kamu berdua sama-sama tersulut emosi hingga terlibat pertengkaran. Mbak Linda berusaha melarai, tapi tak berhasil.
"Ada apa ini?" Juan muncul di waktu yang tepat. "Mau ngapain kamu disini?" Juan langsung menyuruh mas Bagas pergi, tapi kali ini mas Bagas tidak mau menurut, ia malah menantang balik Juan.
"Jangan ikut campur urusanku dan Ayu. Kamu tahu kan siapa yang berada di belakangku? Orang tuamu Juan. Kalau mereka tahu kamu dan Ayu bersama, kamu tahu apa yang akan mereka lakukan pada kalian berdua. Jadi sekarang lebih baik menyingkir lah Juan. Jangan halangi aku lagi. Biarkan aku membawa Ayu pergi." Kata mas Bagas.
Juan tetap tidak mau. Ia tak menghiraukan ucapan mas Bagas. Dengan santai ia mengajakku pergi. Bahkan ia tak peduli meski saat itu juga mas Bagas menghubungi orang tuanya.
"Yakin nggak apa-apa?" Aku agak takut dengan ancaman mas Bagas karena tahu bagaimana orang tuanya Juan.
"Tenanglah, tidak akan apa-apa." Kata Juan. Ia membukakan pintu mobil, menyuruhku masuk. Kami berdua kembali ke rumah Juan.
***
Ternyata semua memang tidak baik-baik saja. Mas Bagas rupanya tidak mau menyerah begitu saja. Ia melaporkan aku dan Juan ke kantor polisi dengan tuduhan telah melakukan perzinahan. Aku benar-benar takut saat empat orang polisi menggerebek rumah. Juan sudah kembali ke kosannya dan untungnya bibi Zelma bergerak cepat menelepon Juan. Ia menyusulku ke kantor polisi. Tak butuh lama, Juan berhasil membuatku keluar dari kantor polisi entah dengan cara apa, yang jelas aku baru bisa bernafas lega setelah kami keluar dari kantor polisi.
Meski begitu aku belum bisa bernafas lega sebab Mas Bagas sudah mengancam akan mengadukan ini semua pada keluargaku kalau aku tetap tidak mau berpisah dengan Juan. Sebuah ancaman yang cukup membuatku takut.
__ADS_1
Aku tak bisa membayangkan bagaimana tanggapan ayah, mas Yuda dan mbak Tika. Mereka pasti akan sangat marah dan kecewa besar padaku. Atau justru akan mencurigai aku seperti mas Bagas.
Aku juga sebenarnya tidak paham kenapa sekarang rasa benci yang begitu besar pada Juan hilang dan berganti dengan kenyamanan. Aku bahkan tak ingin jauh darinya. Berbeda dengan aku beberapa waktu lalu.
"Sekarang kamu tenang ya, Yu. Ini semua tak akan terjadi lagi. Saya sudah mengutus pengacara untuk mengurus surat perceraian kamu dan Bagas. Setelah itu ia tak bisa lagi mencampuri urusan kamu." kata Juan. "Sekarang kita pulang ya. Kamu pasti lelah, kamu harus istirahat yang banyak agar tenagany kembali pulih." Kata Juan.
"Juan," aku berhenti.
"Ya. Kenapa Yu?"
"Saya belum ingin pulang. Bolehkah kita jalan-jalan sebentar." pintaku.
"Kamu tidak capek? Kamu baru keluar dari rumah Sakur, Yu. Tiba-tiba harus dibawa ke kantor polisi." kata Juan. "Begini saja, kamu istirahat dulu, besok kalau sudah pulih, saya janji akan membawa kamu jalan-jalan kemanapun kamu mau."
"Enggak Juan, saya mau sekarang. Boleh kan?"
"Baiklah."
Aku dan Juan naik ke mobil. Kami menyusuri jalanan kota Jakarta. Melewati macetnya ibu kota di sore hari. Kami sempat turun dari mobil, sekedar duduk-duduk di taman kota.
"Untuk apa?" tanya Juan.
"Karena kamu sudah membuat kenangan yang indah untuk saya."
"Yu," Juan diam sesaat. "Maafkan saya, sudah membuat kamu terluka. Maaf."
"Saya sudah memaafkannya."
"Maukah kamu tetap berada di sisi saya selamanya?"
"Juan,"
"Mmmm?"
__ADS_1
"Berjanjilah kamu tak akan melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya."
"Ya. Saya janji."
"Berjanjilah akan jadi orang baik agar kelak ketika kamu bertemu perempuan yang kamu cinta, kamu tak perlu berpisah dengannya."
"Yu?"
"Juan ... dulu saya sangat membenci kamu,"
"Maaf,"
"Salahkah jika saya mencintai kamu?"
"Ayu, ayo kita menikah."
"Juan,"
"Ya. Saya akan membahagiakan kamu. Saya janji. Saya akan menebus kesalahan saya. Ayo jadilah istri saya!".
"Terlalu sulit,"
"Saya akan berjuang. Beri saya kesempatan, Yu."
Aku diam. Juan menatapku penuh harap. Tatapan yang tak bisa ku balas sama seperti pintanya yang tak bisa kukabulkan meski aku sangat ingin melanjutkan hidup dengannya. Ada banyak rintangan yang rasanya tak akan mungkin untuk ku tembus.
Ayah, mas Yuda dan mbak Tika. Mereka bertiga tak akan mungkin mengizinkan aku menikah dengan Juan. Keluarga besar ayah yang sudah terlanjur terpecah karena masalah ini. Teman-teman serta tetangga yang sudah terlanjur tahu semuanya. Mereka akan memandang aneh padaku. Belum lagi Keluarga Juan yang pasti tak akan tinggal diam. Mereka sudah membayar mas Bagas, bahkan melibatkan pihak berwajib untuk menghalangi kami bersama. Tak bisa, kami tak bisa menikah meski perasaan cinta ini begitu besar!
"Juan, ayo kita lanjutkan perjalanan ini." Kataku.
"Yu," Juan berusaha menahan, ia ingin aku menjawab tanyanya.
"Ayo jalan!" aku berjalan duluan, tak menghiraukan panggilannya. Dua kali ku lempar senyum hingga akhirnya ia mengikuti langkahku.
__ADS_1
Juan, meski saat ini kita saling mencintai, tapi benteng penghalang itu terlalu tinggi. Aku tak bisa menyakiti orang-orang yang menyayangi dan sudah berjuang untukku, aku tak bisa egois dan aku yakin inilah yang terbaik untukmu, untuk kita. Juan, meski kita tak bisa bersama, tapi aku akan tetap mencintai kamu!