Haruskah Kita Menikah?

Haruskah Kita Menikah?
Setelah Tujuh Tahun


__ADS_3

Sudah tujuh tahun. Aku berdiri di depan kaca, melihat bayangan seorang perempuan yang kini sudah genap dua puluh lima tahun, mengenakan jas putih sesuai cita-cita. Aku tersenyum. Sebentar lagi adalah waktu untuk bertemu dengannya, lelaki yang telah mengisi relung hatiku selama tujuh tahun ini. Dengannya aku sudah membuat kesepakatan, tak akan bertemu hingga gelar dokter itu bisa ku raih, ia pun begitu, melanjutkan cita-citanya, menjadi seorang pengacara muda. Sembari aku juga rutin konsultasi dengan psikolog untuk menyembuhkan trauma perbuatannya dahulu dan sekarang aku telah dinyatakan sembuh. Berat memang menjalani semuanya, namun aku harus menghadapi.


Entah bagaimana kabarnya sekarang. Aku hanya pernah mendengar kabarnya beberapa kali secara tak sengaja, saat ada beberapa orang yang menyanjung-nyanjungnya karena ia adalah pengacara berprestasi yang hanya memperjuangkan keadilan untuk orang-orang kecil. Meski ia disebut penguasa ruang sidang, tapi klien-kliennya kebanyakan dari kalangan ekonomi menengah ke bawah.


Di televisi Juan pernah muncul, aku hanya melihat sekilas, lalu buru-buru berlalu. Aku tak ingin semakin rindu. Makanya saat kami memutuskan untuk menjaga jarak dulu, aku pun berusaha menahan diri menutup seluruh akses informasi tentangnya.


Sudah pukul empat sore. Aku bergegas mengganti seragam dinas menjadi gamis berwarna merah muda dan jilbab warna senada. Setelah itu segera meninggalkan kosan menuju tempat yang sudah kami janjikan selama ini. Sepanjang jalan, entah kenapa perasaanku tak tenang. Rasanya begitu deg-degan, bagaimana kabarnya sekarang? Apakah ia masih sama dengan ia yang dahulu? Aku tersenyum, menatap keluar jendela bis Debora Depok - Jakarta, tersenyum dengan pipi merona, membayangkan akan bertemu kekasih hati. Ahhh rasanya teramat indah.


***


"Apa kabar Ayu Andara Nesa?" Sapa Juan.


"Baik." Aku menjawab. "Sudah lama?" tanyaku, berbasa-basi. Kami sama-sama gugup. Tujuh tahun bukan waktu yang singkat, butuh kesabaran yang begitu besar untuk menahan rindu pada orang terkasih. Namun kami harus melewati semuanya sebab jalan cinta kami tak semulus orang-orang.


"Sudah saya pesankan makanan, ayo ke meja." Kata Juan. Ia berjalan duluan, aku mengikuti dari belakang.


Di meja paling ujung, di tempat VVIP dengan view cantik berupa danau buatan.. tempat yang dipesankan Juan. Aku benar-benar terpukau, selain melihat pemandangan yang indah, ia juga memesan banyak makanan dan tentunya menu kesukaanku semuanya. Aku tak akan lupa kalau ia benar-benar mengetahui segala hal tentangku.


"Bagaimana rasanya menjadi dokter?" Tanya Juan.


"Sama rasanya seperti menjadi pengacara muda yang hebat dengan banyak prestasi dan selalu disanjung orang-orang." jawabku.


Juan tertawa. "Kamu tak tahu saja, aku juga banyak musuh."

__ADS_1


"Oh ya?"


"Pasti. Para mafia dan penjahat itu, mereka mengincar ku. Sebab bagi mereka aku tak ubahnya seperti penegak hukum, bahkan mungkin lebih, makanya kebencian mereka besar terhadapku."


"Oh ya?"


"Yap. Jadi, apa kamu ragu menjadi calon istri seorang pengacara muda ini?"


Giliran aku yang tertawa. "Kamu kira aku menunggu selama tujuh tahun ini untuk menyerah begitu saja? Tidak Tuan pengacara!" Juan tersenyum. Ia menatapku lekat, sehingga membuatku salah tingkah..apa aku salah bicara?


"Kamu benar-benar sudah dewasa, Yu. Bukan lagi seperti Ayu yang polos dulu, tapi aku tetap suka."


Aku dan Juan berbincang panjang lebar, seolah tak ingin membuang waktu, pembicaraan kami sampai pada masalah pernikahan. Ya, apalagi tujuan akhir dari hubungan ini selain pernikahan. Aku tak mungkin berpacaran apalagi menjalani hubungan tanpa status. Aku ingin menikah dengan Juan. Tapi yang jadi masalah adalah keluarga. Bagaimana caranya memberitahu mereka.


Tiba-tiba rasa rindu pada keluarga terasa begitu besar. Tak bisa untuk dibendung. Sebenarnya aku pernah menelepon mbak Tika dengan nomor baru, sekedar untuk mendengarkan suaranya. Tapi tetap saja saat diangkat, tak ada kata yang bisa aku ucapkan.


"Apa aku yang harus maju, Yu?" Tanya Juan.


"Jangan. Jangan dulu. Dua hari lagi aku akan pulang. Aku sudah mengambil cuti. Selama sepekan. Aku akan kembali ke Jogja, lalu bicara dengan semuanya." Kataku.


"Baiklah. Aku juga akan ikut pulang. Jaga-jaga kalau kamu butuh bantuan aku siap standby." kata Juan juga. "Ingat, selalu komunikasikan semuanya."


"Ya." aku mengangguk. "Lalu bagaimana dengan keluargamu?"

__ADS_1


"Rasanya tak ada yang harus dilakukan selain mengabari papa dan mama. Itu juga akan ku kabari saat sudah dekat hari H agar tak perlu ada kejadian yang tidak diinginkan."


"Apakah mereka akan bisa menerima? Maksudku, aku mengerti aku bukan calon menantu idaman mereka tapi aku ...." Aku tak tahu harus bicara apa. Sejujurnya aku sangat gugup untuk menghadapi semuanya. Berterus terang tentang perasaanku dan Juan. Apakah mereka akan bisa menerima?


"Maafkan aku Yu, ini semua gara-gara aku."


"Semua sudah terjadi, Juan. Sekarang kita hanya harus berjuang untuk kebahagiaan kita meski mungkin akan banyak cobaan dan rintangan yang harus kita hadapi. Kita harus bersabar."


Aku dan Jun sepakat akan pulang ke Jogja selama sepekan. Kami akan berusaha di keluarga masing-masing. Selama itu kami akan tetap saling berkomunikasi.


Usai membicarakan masalah pribadi, tak lupa aku bertanya kabar Cici dan kak Rani. Dengan mereka aku juga putus komunikasi karena aku tahu, bertemu dengan mereka akan membuka peluang untuk bertemu dengan Juan juga.


***


Langit kota Depok sudah berwarna gelap. Sudah pukul sepuluh malam, meski raga sudah teramat lelah, namun aku masih khusyuk di atas sajadah, merapalkan doa-doa, memohon pada Allah agar dibukakan hati keluargaku, keluarga Juan dan orang-oeang di sekitar kamu agar mau menerima hubungan ini.


Memang rasanya akan terdengar aneh, tapi inilah yang aku rasakan pada Juan. Aku mencintainya.


Aku ingin hubungan ini berakhir di pelaminan. Sah di hadapan Allah. Untuk apa menjalin hubungan jika tanpa ikatan suci pernikahan.


Ada banyak kata yang sudah ku persiapkan untuk menghadapi keluargaku nantinya. Entah mereka bisa menerima atau tidak.


Masih teringat di benakku bagaimana mengamuknya Ayah dan mas Yuda saat aku dilecehkan. Juga tentang pernikahan mbak Tika yang gagal karena keluarga calon suaminya menolak menikah dengan kakak dari korban perkos------.

__ADS_1


Setelah begitu banyak episode yang melelahkan, akankah kami bisa menutup cerita ini dengan akhir yang indah? Bagaimana kalau akhirnya mereka semua tak menyetujui? Aku menitikkan air mata, takut dengan kemungkinan tersebut.


__ADS_2