
Esoknya, mas Bagas kembali datang ke rumah, ia masih sendiri sebab kedua orang tuanya tak merestui. Ayah dan ibunya keberatan jika mas Bagas menikahiku sebab kondisiku sekarang sudah berbeda. Ditambah statusnya yang masih mahasiswa. Menikah sekarang dikhawatirkan tak mampu untuk menafkahi karena sehari-hari saja, kebutuhannya masih dipenuhi oleh keluarganya. Meski sangat berharap direstui, tapi kami bisa menahan sikap orang tuanya. Mereka dari keluarga baik-baik, pasti juga ingin mendapatkan besan dan menantu yang baik juga. Meski apa yang terjadi padaku adalah musibah. Tapi tetap saja tak ingin punya menantu yang punya cacat.
"Meskipun tanpa restu ayah dan ibu, saya tetap ingin menikahi Ayu, pak. Saya yakin, setelah kami menikah, suatu saat kedua orang tua saya pasti akan luluh juga hatinya. Apalagi keluarga kita sudah saling kenal, tak akan sulit untuk mengubah keputusan tersebut." kata mas Bagas dengan penuh kepercayaan diri.
"Menikah tanpa restu? Tidak tidak. Itu hanya akan jadi masalah baru. Saya menghargai niat baik kamu untuk membantu putri saya agar tak terlalu besar menanggung malu. Tetapi ada yang harus diingat juga bahwa pernikahan itu bukan perkara sehari dua hari. Saya tak bisa membayangkan bagaimana putri saya nantinya jika mertuanya tak menerima keberadaannya. Ia harus merasakan kehidupan yang tak nyaman. Sekarang saja ia sudah menanggung beban yang teramat berat, rasanya saya tak tega jika ia harus menerima beban yang lebih berat lagi." kata ayah.
"Tapi pak, saya janji saya akan selalu berada di sisi Ayu. Saya akan berusaha membuat hati ayah dan ibu luluh. Toh, setelah menikah kami akan tinggal di tempat yang berbeda dengan orang tua saya. Kami akan ke Jakarta, berarti interaksi dengan orang tua saya juga tak akan banyak." jelas mas Bagas.
"Ke Jakarta? Berarti kamu akan melanjutkan kuliah kamu? Lalu bagaimana dengan putri saya? Apakah kamu bisa bertanggung jawab atasnya sementara kamu sendiri juga belum punya pekerjaan." kata ayah.
"Pak, saya memang belum mapan. Saat ini status saya mahasiswa tapi saya juga bisa bekerja paruh waktu. InshaAllah, jika Ayu tak keberatan hidup sederhana dulu maka penghasilan saya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari kami nantinya." tambah mas Bagas.
"Hmmm, bagaimana Yu?" Ayah melempar pertanyaan kepadaku.
__ADS_1
Aku yang sejak tadi hanya menyimak langsung gugup, bingung harus menjawab apa.
Keberadaan ku di sini hanya akan menjadi beban untuk ayah dan kakak-kakakku. Mereka sudah menjalani banyak cobaan hanya untuk membelaku. Kalaupun kasus ini terus diperjuangkan, kemungkinan mendapatkan keadilan rasanya sangat kecil sekali. Aku menyadari siapa yang jadi lawan kami. Ibarat menantang matahari kalau kata orang-orang.
"Yah, kalau ayah merestui, Ayu menerima lamaran mas Bagas. Tetapi tetap putusan akhir Ayu serahkan pada ayah sebab Ayu sangat yakin, apa saja yang ayah pilihkan untuk Ayu itulah yang terbaik." kataku, masih dengan wajah tertunduk.
"Kamu yakin, nak?" tanya Ayah. "Jangan jadikan beban kondisimu saat ini. Sudah ayah katakan kalau kami semua akan selalu mendukung kamu. Untuk masalah bayi itu, kami semua juga sudah membuat kesepakatan. Yuda dan Yuni yang akan menjaganya. Mereka akan menyayangi seperti anak kandung sendiri, jadi jangan merasa terbebani oleh apapun. Kamu adalah putri ayah yang baik, makanya ayah ingin kamu mendapatkan kebahagiaan." kata ayah.
"Yah, menikah sekarang ataupun nanti itu sama saja. Asalkan mas Bagas bisa menerima Ayu dengan tangan terbuka maka Ayu sangat yakin bisa bahagia selamanya." aku berusaha meyakinkan ayah meski sebenarnya hatiku sendiri juga sedang bimbang.
"Alhamdulillah kalau Ayu menerima saya. Jadi bagaimana, Pak, bisakah bapak menerima saya sebagai menantu? Saya berjanji akan menjadi suami yang baik untuk Ayu. Saya akan berusaha mencukupi segala kebutuhannya juga." Janji mas Bagas.
"Anwar saya juga berat untuk memberi restu, tapi jika kalian berdua sudah yakin, sebagai orang tua saya hanya bisa membantu dengan doa semoga pernikahan yang nantinya kalian jalani bisa mendapatkan keberkahan dan kebahagiaan." doa ayah.
__ADS_1
"Aamiin," kata kami berdua bersamaan.
***
Pernikahan itu tinggal menghitung hari, meski kami belum mendapatkan restu dari orang tua mas Bagas tetapi semua akan terus dijalankan.. setidaknya kami akan menikah secara agama. Menurut mahzab yang dianut ayah, tidak mengapa menikahkan perempuan yang tengah hamil meski dengan lelaki yang bukan ayah biologis dari bayi yang dikandung.
Berdasarkan rencana yang kami buat, setelah menikah nanti, aku akan ikut mas Bagas ke Jakarta. Kami berdua akan sama-sama melanjutkan kuliah kami di sana. Setelah bayi itu lahir, maka aku akan memberikannya pada mas Yuda dan mbak Yuni. Mereka yang akan merawatnya. Sebuah keputusan yang membuatku lebih tenang. Meski aku tak menyukai keberadaan bayi ini, tetapi akupun tak tega untuk menghilangkan nyawanya. Seperti nasihat keluargaku, anak ini tak bersalah, ia tak berdosa. Tidak sepatutnya ia menanggung dosa yang sudah dilakukan orang tuanya.
Karena pernikahan ini dilaksanakan secara dadakan, maka pernikahan ini akan diberlangsung secara sederhana. Hanya mengundang perangkat RaT, ustadz dan penghulu saja. Sementara tetangga kiri kanan hanya diberitahukan saja tentang rencana pernikahan itu. Kata ayah, kalau sudah menikah kami akan membagikan nasi berkat pada tetangga agar merasakan juga kebahagiaan yang kami rasakan.
***
Pagi ini, aku baru saja selesai dirias. Tinggal beberapa menit lagi sebelum akad. Jantungku berdebar membayangkan semuanya yang seperti mimpi. Dulu aku memberanikan diri berdoa pada Allah agar dijodohkan dengan mas Bagas dan sekarang doa itu dikabulkan-Nya. Hanya saja waktunya yang rasanya tidak terlalu tepat hingga membuatku masih ragu-ragu apakah harus berbahagia atau sebaliknya.
__ADS_1
Belum jadi mas Bagas mengucap ijab kabul tiba-tiba terdengar suara ribut-ribut di luar. Rupanya orang tua mas Bagas yang datang. Mereka tampak marah ketika mengetahui anaknya tetap nekat menikah meski sudah diancam tak akan mendapatkan dana lagi.
"Tega sekali kamu Ikang, saya kira kamu benar-benar orang yang baik tapi kamu malah menjebak putra kami untuk bertanggung jawab atas kehamilan putrimu itu. Anak yang dikandungnya itu bukan anak putraku, tapi kenapa ia yang harus menanggung semuanya?" tanya ayahnya bang Bagas. "Masa depan putraku kalian rusak. Dahulu saya begitu membanggakan keluargamu yang terlihat sokih dan baik, tapi ternyata itu semua hanyalah topeng saja. Nyatanya kalian tega menghancurkan keluarga kami dari belakang!" Ayah mas Bagas terdengar marah. Sebenarnya aku ingin keluar untuk ikut mrlarai, tapi mbak Tika melarang.