Haruskah Kita Menikah?

Haruskah Kita Menikah?
Mobil Baru Dan Perempuan Cantik


__ADS_3

Mobil putih dengan merek jazz itu sudah tiga puluh menit terparkir di halaman rumah. Selama itu juga aku mengamati dari jendela ruang tamu sembari mengira-ngira, benarkah ini mobil mas Bagas seperti yang tertera di surat-suratnya. Kalau memang benar, dari mana ia mendapatkan uang sebanyak itu untuk membayar kontan?


Sebenarnya ada banyak hal yang ingin aku tahu dari mas Bagas. Ia memang mengatakan akan kuliah sambil kerja, tetapi hingga sekarang pekerjaan itu belum didapat, tetapi sudah banyak pengeluaran besar yang dilakukannya. Mulai dari rumah besar ini, entah rumah pribadi atau kontrakan, sama-sama butuh dana besar. Gaji bi Supi untuk satu tahun ke depan yang dibayarnya di awal kepada agensi penyalur, hingga mobil ini. Kalau dihitung-hitung, jumlahnya sangatlah banyak.


"Mbak, kok masih berdiri di situ. Apa Ndak capek?" BI Supi membuyarkan lamunanku.


"Hah, eh iya Bi. Ini saya sedang memikirkan tentang mobil itu. Bibi tahu tidak, kira-kira kalau sudah dapat tanda lunas seperti ini, mobilnya benar sudah lunas atau belum?" Pertanyaan itu sebenarnya terdengar aneh, tapi karena masih penasaran dan bi Supi satu-satunya orang yang ada di sini makanya padanya ku pertanyakan.


"Ya sudah pasti mbak. Memang kenapa, mbak?"


"Oh enggak apa-apa kok Bi. Saya mau balik ke kamar saja. Mau istirahat." Baru saja aku hendak berbalik tapi tak jadi karena mendengar suara pagar dibuka.


Dari balik jendela aku dan bi Supi mengintip, rupanya seorang perempuan muda yang datang diantara taksi. Sampai di depan pintu ia mengetuk. BI Supi yang membukakan pintu.


"Bagas nya ada?" tanyanya.


"Enggak ada." aku langsung muncul di belakang Bi Supi karena penasaran dengan tamu pertama kami itu.


Untuk sesaat kami saling pandang. Perempuan itu bisa dikatakan cantik dan seksi, ia memakai pakaian yang cukup minim dengan warna merah hati dan sepatu hak tinggi warna senada. Riasan wajahnya juga cukup menyala.


Siapa dia? Pertanyaan itu langsung muncul di benakku. Apa teman kuliah mas Bagas? Tapi aku ragu, masa mahasiswa dandanannya semenor itu? Lalu, kalau bukan, siapa ia sebenarnya.

__ADS_1


"Halo, perkenalkan saya Linda." Ia mengulurkan tangan.


"Ayu." kataku.


"Oh, ini yang namanya Ayu." ia menganggukkan kepalanya. "Saya kira Bagas ada di rumah karena sejak libur semester ia tak pernah lagi masuk kuliah. Ditelepon juga tak ada respon, terus terang saya khawatir. Padahal katanya ia akan kembali ke Jakarta setelah liburan selesai, tapi ternyata ia tak kembali ke kampus."


Mas Bagas tidak masuk kuliah? Aku langsung gelisah. Selama dua pekan ini ia selalu mengatakan mau berangkat kuliah setia pagi dan pulang malam bahkan sangat larut. Tetapi sekarang mbak Linda malah mengatakan kalau mas Bagas tak pernah lagi masuk kuliah. Ada apa dengannya? Kemana saja ia pergi? Rasanya tak mungkin bekerja karena hingga kemarin mas Bagas mengaku belum menemukan pekerjaan yang cocok.


Aku tak tahu harus bertanya pada siapa sebab tak ada satu temannya pun yang aku kenal. Hanya mbak Linda yang datang ke rumah kami, tetapi meski ia mengaku cukup dekat dengan mas Bagas, aku tak ingin mempertanyakan apapun padanya. Melihat penampilan mbak Linda dan caranya mengkhawatirkan serta membicarakan mas Bagas membuat hatiku tidak nyaman.


"Mungkin mas Bagas sibuk nyari kerja, makanya tak bisa berangkat ke kampus." kataku.


Aku ingin membantah perkataan mbak Linda, menjelaskan padanya kalau kondisi mas Bagas sekarang tak sama dengan sebelumnya. Dahulu ada kedua orang tuanya yang selalu siap membiayai hidup dah pendidikan mas Bagas. Tetapi sekarang, sejak ia memutuskan menikah, mas Bagas kehilangan semuanya. Ia harus berjuang sendiri untuk kebutuhan kamu.


"Ayu ... sebenarnya saya tak suka mengatakan ini pada kamu, tapi saya rasa kamulah yang akan di dengarnya. Jangan sampai Bagas putus kuliah, ingat cita-citanya. Ia memang tak akan bisa mengalahkan Juan tapi menghindari malah akan membuatnya semakin kalah!" tegas mbak Linda.


Juan. Aku kembali gelisah ketika mendengar nama itu. Ternyata takdir antara kami masih belum berakhir. Aku memang tahu kalau ia juga kuliah di kampus bahkan jurusan yang sama dengan mas Bagas. Tapi aku tak tahu kalau mereka berdua saingan.


Dahulu, waktu kami masih SMA, aku memang tahu kalau mas Bagas bersaing dengannya. Tapi karena banyak masalah, mas Bagas bisa mengalahkan Juan yang terlalu sering bolos. Ternyata persaingan itu masih berlanjut sampai sekarang dan entah sampai kapan.


"Mas Bagas nggak akan putus kuliah." Kataku.

__ADS_1


"Kata siapa? Sekarang Bagas sudah terlalu frustasi menghadapi Juan, ia memang tak akan pernah menang karena ...."


"Kata siapa? Dari dulu mas Bagas yang menang. Juan lah yang kalah!"


"Kamu bicara seperti itu seolah mengenal Juan begitu dekat atau jangan-jangan?"


"Maaf mbak, saya harus istirahat. Saya rasa sudah cukup bertamunya!"


"Baiklah kalau kamu mengusirku, tapi ingat Yu, Bagas akan selalu kalah, meski ia curang. Apalagi sekarang ia pakai acara melarikan diri."


"Maaf mbak, terimakasih atas kedatangannya." Aku memberi isyarat agar ia pergi.


"Oh iya, satu lagi. Harusnya sebelum memulai yang baru, Bagas menyelesaikan semuanya dulu dengan yang lama. Masa mau enaknya saja setelah itu langsung dibuang!" ia tersenyum sinis, melambaikan tangan lalu berbalik badan meninggalkan aku sendiri.


Apa artinya yang lama? Apa ia dan mas Bagas ada sesuatu? Tapi bukankah mas Bagas sudah menyatakan bahwa selama ini ia hanya mencintai aku? Kami sama-sama sepakat untuk menjaga hingga waktu yang tepat untuk menikah. Sayangnya semua harus berubah karena musibah yang menimpaku dan penyebabnya adalah Juan.


***


Jarum jam menunjukkan pukul satu dini hari. Mas Bagas belum juga kembali. Hpnya tak bisa dihubungi, membuatku makin gelisah. Sebenarnya aku sudah sangat mengantuk, tapi karena masih penasaran makanya rasa kantuk itu berhasil ku singkirkan. BI Supi juga sudah dua kali mengingatkan agar aku istirahat, tapi karena tak kunjung berhasil membujuk akhirnya ia menyerah juga dan kembali ke kamarnya untuk beristirahat.


Aku harus tahu semuanya. Meski pernikahan kami masih belum seutuhnya dijalankan karena bayi ini belum lahir, tetapi aku merasa tetap perlu tahu tentangnya. Kalau memang benar mas Bagas tidak kuliah karena mencari kerja maka aku ikut bertanggung jawab. Aku tak mau kuliahnya benar-benar putus dibtengah jalan. Aku ingin melihatnya berhasil menjadi sarjana hukum seperti yang ia cita-citakan.

__ADS_1


__ADS_2