
"Besok pagi saya akan pergi," kataku.
"Kemana?" tanya Juan.
"Entahlah, yang jelas pergi jauh, yang tidak kalian tahu. Saya ingin memulai hidup baru dengan tenang. Saya sudah lelah dengan semua ini."
"Jangan pergi Yu. Maafkan saya. Kalau keberadaan saya sudah membuat kamu tidak nyaman, saya akan pergi, saya tak akan menunjukkan wajah lagi sampai kamu yang menginginkannya." ia berbalik, tapi kemudian kembali menghadap ke arahku.. "Oh ya, maafkan saya. Tahu kamu belum bisa memberi maaf itu, tapi saya berharap suatu saat akan mendapatkan nya. Semoga kamu bahagia selalu, Yu. Saya juga akan menjamin Bagas tak akan ke sini lagi, ia juga tak akan mengatakan apapun pada keluarga kamu." Juan benar-benar pergi. Ia kini melangkah semakin menjauh dariku hingga benar-benar hilang dari pandanganku.
Nyut. Nyut. Nyut. Sesuatu dari dalam perut ini tiba-tiba berdenyut kencang. Ia seolah ingin memberikan isyarat bahwa tak rela jika Juan benar-benar pergi.
"Nggak, nggak. Ini semua nggak benar!" Aku kembali menegaskan pada diri sendiri bahwa tak ada penyesalan jika Juan benar-benar meninggalkan aku. Bukankah itu yang selama ini aku inginkan. Tetapi kenapa rasanya ada yang kosong di hati ini?
Tes. Satu tetes air mata menetes dari mata ini, tak lama diikuti tetesan yang lain. Rasanya hati ini sedih sekali, entah apa penyebabnya. Aku takut, benar-benar takut. Tetapi aku juga lebih takut lagi untuk mengakui apa yang kini aku rasakan.
***
Sudah sepekan berlalu. Baik Juan ataupun mas Bagas benar-benar tak muncul di hadapanku. Bukannya merasa senang, tetapi hatiku seperti hampa. Ada sesuatu yang aku rindukan, tetapi aku tak ingin mencari tahu apa yang diinginkan hati ini.
"Lihatlah, banyak sekali makanan dan buah-buahan yang diberikan." suara kak Rani membuyarkan lamunanku. Ia menunjukkan sekeranjang buah-buahan yang ranum-ranum. "Yu, apakah kamu menginginkan sesuatu? Katakanlah, nanti Ju ... Eh maksudku,"
"Kak, besok pagi saya ingin keluar sebentar ya. Saya ingin mencari pekerjaan." Kataku.
__ADS_1
"Pekerjaan? Kamu nggak salah, Yu?"
"Nggak kak, saya harus punya pekerjaan karena sekarang hidup saya sudah tidak ada yang menanggung, apalagi saya harus mempersiapkan dana untuk lahiran." Kataku. Sebenarnya aku sudah punya uang yang diberikan Ayah untuk biaya bertahan hidup dan melahirkan hingga anakku lahir, tetapi aku menyadari kalau saat ini membutuhkan pekerjaan agar aku punya kesibukan dan tak lagi memikirkan siapapun.
"Kamu mau kerja apa, Yu? Bukannya kamu hanya lulusan SMA. Biasanya kalau lulusan SMA ya kerja pabrik. Kalau hamil kayaknya nggak bakal diterima."
"Saya coba saja dulu, kak. Barangkali ada rezeki. Lagipula saya punya kemampuan di bidang komputer, barangkali ini bisa jadi nilai tambah."
Kak Rani tak bisa lagi menghalangi tekadku yang sudah bulat. Aku juga berpesan agar ia tak memberitahu Juan untuk rencanaku ini. Hingga sekarang Juan masih berhubungan dengan kak Rani, makanya aku bertekad secepatnya mencari pekerjaan dan pindah dari kak Rani. Bagaimana aku bisa tenang jika bayang-bayangnya masih saja ada di hidupku.
***
[Apa ada sesuatu, Yu?" Pesan dari mbak Tika. Hingga saat ini aku memang belum memberitahunya tentang apa yang terjadi. [Perasaan mbak dan ayah tidak enak. Kami benar-benar takut ada sesuatu dengan kamu. Kemarin ayah beberapa kali menghubungi Bagas, tapi dia menjawab ogah-ogahan.]
[Hmmm, baiklah. Ya namanya ayah, katanya pengen mengakrabkan diri dengan menantunya sendiri. Lagipula nggak masalah tho. Kalian kan sudah menikah, nyari istri ke suami kayaknya lumrah.]
[Iya sih mbak. Tapi kan mas Bagas sedang sibuk dengan kuliahnya, ditambah dia juga harus bekerja.]
[Iya sih. Ya sudahlah. Oh ya, Ayah bilang pengen ke Jakarta. Ayah pengen ketemu kamu, Yu. Kangen.]
[Duhhh, jangan sekarang ya mbak.]
__ADS_1
[Lho, kenapa?]
Aku langsung memutar otak, bagaimana caranya menemukan alasan tanpa membuat mbak Tika curiga. Sebenarnya hubunganku dengan mbak Tika sangatlah dekat. Feeling nya padaku biasanya kuat.
[Sebenarnya kami sama-sama sedang belajar berumah tangga, mbak. Masih banyak perbedaan. Makanya kami sedang berusaha untuk saling dekat satu sama lain. Kalau ayah datang sekarang maka waktu kamu berdua akan berkurang, apalagi mas Bagas juga punya jadwal yang padat. Ayu pengen sebelum lahiran antara kami berdua chemistry sudah terbangun.]
Syukurnya mbak Tika menerima alasanku. Ia bahkan mendukung agar kami punya waktu berdua lebih banyak lagi sebelum aku melahirkan. Kini setidaknya aku bisa mebernafas lega sebelum nanti aku bisa menceritakan semuanya pada ayah l, mbak Tika dan mas Yuda.
"Aku harus bisa menggapai mimpi yang pernah kami buat untuk mengobati kekecewaan ayah nantinya. Aku harus berjuang keras agar bisa menjadi mahasiswi kedokteran!" Tekadku sudah bulat, aku akan memperjuangkannya.
***
Seperti yang dikatakan oleh kak Rani, memang sulit mendapatkan pekerjaan dalam kondisi hamil. Tetapi aku tak menyerah begitu saja, aku harus memiliki banyak uang untuk mendaftar kuliah tahun depan, makanya sekarang aku menerima tawaran kerja sebagai buruh kasar di sebuah restoran besar. Sebuah pekerjaan yang tentunya hanya mengandalkan tenaga sebab di sini ijazahku benar-benar tidak laku.
"Kami tidak mentolerir kamu sedang hamil atau tidak sebab sejak awal sudah kami katakan kalau ini pekerjaan fisik, kamu harus profesional. Kalau tidak bisa maka silahkan mengundurkan diri. Masih banyak yang ngantri untuk menggantikan posisi kamu!" Tegas Cici Cici pemilik resto ini.
Meski sebenarnya berat, tapi ini adalah tantangan yang harus aku jalankan. Lagipula aku harus bertahan dan kuat agar aku bisa bertahan di ibu kota ini.
"Ayah, mas Yuda, mbak Tika. Maafin Ayu karena sudah berbohong. Sekarang Ayu tak punya pilihan lain selain berusaha sendiri. Ayu belum bisa menceritakan semuanya karena ayu tak ingin menambah beban kalian." Kembali bulir air mata keluar. Aku benar-benar merasa sesak. Ku kira pernikahan aku dan mas Bagas adalah akhir dari penderitaanku, tapi ternyata ia malah membawau dalam masalah yang lebih berat. Dahulu masih ada ayah, mas Yuda dan mbak Tika tempat aku bersandar, sekarang aku harus mengandalkan diri sendiri.
"Heh, buruan nyucinya. Jangan melamun. Kamu kira bisa snatai-santai kerja di sini. Kalau kebanyakan ngelamun keburu habis piring bersihnya!" kepala dapur membentak hingga membuatku kaget. Ia kembali memberikan tumpukan piring kotor lebih banyak lagi. Melihatnya aku hanya bisa menghela nafas panjang.
__ADS_1
"Jangan menyerah Ayu, jangan menyerah. Kamu harus kuat demi jas putih yang kamu dan keluargamu impikan!" kataku, menyemangati diri sendiri.