Haruskah Kita Menikah?

Haruskah Kita Menikah?
Kabar Sedih Di Pagi Hari


__ADS_3

Azan Subuh berkumandang, aku dan Cici melaksanakan salat. Di saat sujud, aku tak tahan lagi untuk tidak menumpahkan air mata. Hingga sekarang belum ada kabar dari kak Rani, aku tak tahu bagaimana keadaannya. Aku benar-benar khawatir. Juan pun seperti ikut menghilang, ia belum juga memberikan kabar hingga sekarang. Kalau terjadi sesuatu pada mereka, rasanya aku lah yang paling bersalah. Entah bagaimana aku harus mempertanggungjawabkan semuanya pada kak Rani.


Usai salat, kami berdua duduk bersebelahan. Saat sedang termenung, tiba-tiba telepon dari Juan masuk.


[Halo, Juan. Bagaimana? Apa kamu sudah ketemu kak Rani? Kak Rani baik-baik saja, kan? Kenapa kak Rani tidak pulang semalam? Apa yang terjadi, Juan?] aku mengajukan banyak pertanyaan padanya.


[Yu, saya akan segera pulang. Kamu dan Cici siap-siap ya, saya akan membawa kalian bertemu kak Rani.] kata Juan dari ujung telepon. Suaranya yang lemah membuatku semakin tidak tenang. Jangan-jangan memang benar telah terjadi sesuatu pada kak Rani. Kalau tidak, tak mungkin Juan akan membawa kami menemui kak Rani, harusnya kalau baik-baik saja, kak Rani pulang saja.


Kami berdua tetap menunggu hingga akhirnya Juan datang. Wajahnya menyiratkan kelelahan. Sebab semalam tidak tidur.


"Bagaimana?" tanyaku


"Sudah siap? Kita berangkat sekarang." ajak Juan. Bertiga kami menuju tempat yang belum aku ketahui. Kami naik mobilnya Juan. Sepanjang perjalanan aku dan Cici tak banyak bicara. Kami hanya berbicara sekedarnya.


Mobil berhenti di depan kantor polisi. Aku langsung deg-degan. Takut dengan apa yang aku pikirkan. Saat ku tanyakan pada Juan, ia hanya diam.


"Bagaimana ini?" aku kembali bertanya.


"Dengar Yu, ini semua tidak ada hubungannya dengan kamu. Jadi semalam, saat akan keluar, tiba-tiba kak Rani disergap oleh seseorang. Ia adalah mantan pelanggan kak Rani,ia terinfeksi HIV karena berhubungan dengan kak Rani. Lelaki itu marah, ia dendam pada kak Rani dan sudah lama mengintainya. Untungnya kak Rani bisa melarikan diri. Ia minta perlindungan ke kantor polisi. Di sana ia sempat kembali bersitegang dengan laki-laki itu, untungnya ada polisi yang menengahinya. Meski begitu, kak Rani ditahan karena sudah menyebarkan virus secara sadar." kata Juan.


"Ya Allah kak Rani," aku menutup mulut dengan kedua tangan. Tak bisa membayangkan bagaimana akhirnya nanti.


"Sekarang kita masuk, ya." Ajak Juan.

__ADS_1


Bertiga kami masuk ke kantor polisi. Tidak sulit untuk menemui kak Rani karena Juan mengenal beberapa petinggi polisi yang berdinas di sini. Kami dipertemukan di sebuah ruangan yang cukup nyaman. Begitu kak Rani datang, Cici langsung menyongsong ibunya, ia menangis di pangkuan ibunya.


"Ibuuu, kenapa pergi? Kenapa nggak ngasih tahu Cici kalau ibu pergi? Kenapa nggak ajak Cici? Ibuuu, Cici kangen." kata Cici. Gadis kecil itu juga mempertanyakan kondisi ibunya yang luka lebam di bagian wajah. Juan sudah mengatakan kalau itu akibat perbuatan lelaki yang menyerangnya.


"Ibu minta maaf ya, tapi Cici nggak boleh nangis lagi " kak Rani yang biasanya terlihat cuek pada putrinya kini terlihat jiwa keibuannya. Ia pun sebenarnya berat berpisah dengan putrinya.


Kami berbincang sebentar karena meski mendapat hak istimewa, tapi tetap saja jam kunjungan di batasi. Apalagi ini masih terlalu pagi.


"Yu, boleh aku minta tolong?" kata kak Rani.


"Apa, kak?" tanyaku.


"Tolong jaga Cici sebentar. Sampai aku bisa menghubungi keluarga di kampung." pinta kak Rani.


"Kakak tenang saja, saya akan menjaga Cici sebaik mungkin. Kakak yang sbada, ya. Maafin saya karena membuat kakak seperti ini." kataku.


***


Aku, Cici dan Juan sudah sampai di rumah kak Rani kembali. Cici sudah masuk duluan. Ia masih tampak sedih. Tak banyak bicara, meski tadi Juan mengajak kami sarapan bersama, ia hanya makan sedikit. Alasannya karena ia hanya ingin ibunya. Sebenarnya sikap yang wajar. Anak seusianya pasti lebih nyaman berada di sisi ibunya meski ibunya adakah seorang perempuan yang dipandang sebelah mata oleh orang-orang.


"Yu, apa tidak sebaiknya kamu dan Cici tinggal di tempatku, dulu?" tanya Juan, ia tampak hati-hati, mungkin takut aku malah berpikir yang tidak-tidak. "Saya hanya khawatir terjadi sesuatu pada kamu dan Cici. Seperti yang dikatakan kak Rani."


"InshaAllah nggak apa-apa. Aku dan Cici akan baik-baik saja." Kataku.

__ADS_1


"Kalau begitu, jaga diri baik-baik. Sebaiknya jangan keluar-kwluar dulu ya. Kalau ada apa-apa jangan lupa hubungi saya!" Pesan Juan. Lalu ia pamit pergi masih dengan rasa khawatir.


***


Sudah pukul sembilan pagi. Entah sudah berapa banyak panggilan tak terjawab dari Bu Clara, pemilik restoran tempat aku bekerja. Sebenarnya aku sudah meminta izin karena saat ini belum memungkinkan untuk keluar rumah, apalagi sampai meninggalkan Cici sendiri. Tapi Bu Clara tak peduli. Ia malah mengancam akan memecat kalau aku gak datang.


Kadang, rasa kemanusiaan dikalahkan oleh uang. Bagi beberapa orang, uang adalah segala-galanya. Ia tak peduli dengan kondisi orang lain. Yang terpenting baginya adalah tercapainya apa yang ia inginkan.


"Cici, ayo istirahat dulu." aku mengajak Cici yang tengah duduk termenung di dekatku. Ia terlihat mengantuk. Sama sepertiku, sebab semalam kami tidak tidur.


"Kak, ibu kapan pulang?" tanya Cici.


"Nanti Ci. Cici sabar dan doain ibu ya. Sekarang kita istirahat dulu. Kak Juan akan berusaha agar ibu bisa segera pulang."


Cici menurut. Ia tidur di sebelahku..awalnya aku tak berniat tidur, tapi karena semalam tidak tidur akhirnya saat menemani Cici, aku malah ikut tertidur.


***


Bug bug bug bug. Suara pintu depan di gedor. Aku dan Cici yang sempat terlelap usai kelelahan langsung terjaga. Karena kaget, Cici yang masih berbaring langsung meloncat padaku.


"Kak, siapa itu kak?" tanya Cici


"Kakak nggak tahu. Cici di sini dulu, biar kakak lihat ya " Kataku.

__ADS_1


Pelan-pelan aku mengendap keluar dengan perasaan takut. Dari balik jendela kayu aku melihat ada banyak orang berkumpul di depan pintu rumah kak Rani. Mereka menggedor-gedor sambil menyebut nama Cici agar kelayr dari rumah.


"Mau apa lagi mereka?" Aku benar-benar ketakutan. Takut terjadi sesuatu, makanya ku putuskan kembali ke kamar, mengunci pintu rapat-rapat lalu menghubungi Juan agar segera datang.


__ADS_2