Haruskah Kita Menikah?

Haruskah Kita Menikah?
Pindah 2


__ADS_3

Aku dan Cici bersiap-siap pergi. Tak ada barang-barang yang bisa kami bawa karena semuanya sudah hancur. Pakaian sebagian di robek, sebagian lagi diambil. Bahkan dompet yang semula aku simpan juga diambil. Untungnya surat-surat milikku tidak ikut dihancurkan juga.


"Tak ada yang bisa dibawa," aku mengeluh, sembari memperlihatkan pakaian yang sudah robek. Hanya tersisa pakaian yang melekat di badan, juga Hp yang semenjak awal aku pegang. "Punya Cici juga rusak semua!"


"Nggak apa-apa, Yu. Nanti kita beli." kata Juan. "Yang penting kamu dan Cici tidak apa-apa."


Kami bertiga keluar dari rumah itu, aku sempat takut bertemu dengan mereka yang ikut mengamuk rumah kak Rani, tapi untungnya Juan bisa meyakinkan bahwa selama ada dia InshaAllah semuanya akan baik-baik saja. Juan memang cukup disegani di sini.


Sampai di mobil barulah aku bisa bernafas lega. Kami meninggalkan perkampungan kumuh itu, melaju menuju rumah Juan yang berada di kawasan Jakarta Selatan. Sepanjang jalan Cici terus berada dalam dekapanku. Ia tak ingin lepas sedikitpun.


"Cici takut?" Tanyaku.


"Mmmm," jawab Cici.


"Kalau Cici takut, banyak doa sama.Allah." saling asyiknya berbincang dengan Cici, kami baru sadar kalau sudah sampai di rumahnya Juan. Sebuah rumah yang cukup besar, terdiri dari dua lantai dengan cat berwarna putih dipadu warna gold. Rumah itu dikelilingi tembok cukup tinggi sehingga terpisah dari tetangga kiri dan kanan. Sayangnya tak banyak tanaman yang ditanam di halaman yang menurut ku cukup kuas itu


"Kita sudah sampai. Silahkan turun." Juan sudah membukakan pintu belakang. Kami berdua turun, setelah itu Juan kembali menutup pintunya. "Ayo masuk." Juan mengajak kami masuk. Ia mengetuk pintu beberapa kali, kemudian keluarlah seorang perempuan paruh baya, ia adalah bibi Zelma, masih terhitung saudara jauh dengan Juan.. perempuan yang sudah merawat Juan semenjak ia baru lahir.


"Kalian sudah datang!" Bibi Zelma rupanya sudah tahu akan kedatangan kami. Ia bahkan sudah menyiapkan makanan untuk kami.


"Ayo-ayo, kita makan dulu ya." Bibi Zelma begitu ramah. Aku yang batu mengenalnya saja sudah merasakan nyaman. Ia seperti saudara sendiri. "Makan yang banyak ya Yu, bibi lihat kamu kurus sekali " Kata bibi Zelma.


"Ayu memang dari dulu kurus, bi. Makannya juga sedikit. Makan mie di kantin saja dia cuma habis separuh." Kata Juan.

__ADS_1


Aku terdiam. Berhenti menyuap makanan ke dalam mulut usai mendengarkan penuturan Juan barusan. Dari mana ia tahu aku susah makan? Juga mie yang tak pernah habis. Apakah benar yang dikatakan Arum bahwa selama ini ia memang sangat memperhatikan aku. Apakah benar ia mencintaiku? Sebesar itulah cintanya?


Tiba-tiba pipiku rasanya panas mengingat kata-kata Arum dahulu saat membujukku agar mau berbaikan dengan Juan. Entah kenapa, rasa benci yang dahulunya begitu besar kini sudah hilang tanpa jejak. Bahkan ketika aku mencari ke seluruh bagian hati. Rasa benci itu berganti dengan perasaan yang belum bisa aku terjemahkan.


"Kenapa ini? Apakah segini saja rasa benci itu? Apa aku begitu murah? Bahkan kini aku pun merasakan sangat mencintai anak yang ada dalam kandunganku, Yang sebelumnya sangat aku benci." aku semakin salah tingkah saat Juan mengambilkan sepotong hati ayam untukku.


"Ini kesukaan kamu, jadi makanlah yang banyak." Kata Juan. "Bi, kalau bisa tiap hari harus ada hati ayam ya. Cukup digoreng saja tanpa sambel, Ayu sudah sangat suka." kata Juan lagi.


Bagaimana ia tahu juga soal itu? Aku masih tak bisa berkata-kata. Hanya bertambah grogi. Aku bingung dengan diriku sendiri.


***


Aku dan Cici tinggal di rumah Juan. Kamu ditemani oleh Bibi Zelma. Sementara Juan ia akan menyewa kosan untuk sementara waktu.


Karena pakaian kami tidak ada, makanya, usai makan ia membawa kami ke mall terdekat untuk membeli pakaian dan kebutuhan kami lainnya. Aku dan Cici hanya bisa diam memperhatikan mall yang begitu besar. Ini pertama kali aku ke mall, begitu juga dengan Cici yang meski sejak lahir tinggal di Jakarta, tapi ibunya tak pernah membawanya ke sinj. Kami tak tahu harus memilih pakaian yang mana, padahal sudah memasuki beberapa outlet.


"Sudah cukup," kataku. Saat tangan kami sudah berisi tas belanjaan di kiri dan kanan. Ini sudah lebih dari cukup. Aku takut merepotkan Juan lagi, ia juga pasti harus mengeluarkan banyak uang untuk membelanjakan kamu.


Langkah kaki Juan terhenti di depan bagian perlengkapan bayi. Kami berdua saling tatap. Tiba-tiba ia berkata padaku. "Mau beli sekalian untuk bayi?" Tanyanya. "Lucu-lucu lho." ia menunjukkan pakaian tidur bayi berwarna merah muda.


"Enggak usah dulu. Lagian masih lama lahirnya. Saya juga belum pernah memeriksakan, jadi belum tahu apakah bayinya laki-laki atau perempuan." Kataku.


"Kamu mau ke dokter?" Juan kembali hati-hati menawarkan. "Tapi kalau kamu tidak mau juga tidak apa-apa. Hanya untuk memastikan bahwa bayinya baik-baik saja."

__ADS_1


"Nggak berani sendiri." kataku


"Saya temani. Bagiamana?"


"Baiklah."


"Oke, kalau begitu besok pagi ya. Nanti saya cari informasi dokter kandungan yang terbaik." Kata Juan.


Kami bertiga kembali ke rumah Juan. Setelah sampai, ia pamit ke kosan. Sementara itu kami menetap di rumah Juan.


***


Seperti janji Juan, pagi ini aku dan dia berangkat menuju rumah sakit. Juan sudah membuat janji dengan dokter kandungan. Ia memilihkan yang terbaik.


"Bu Ayu dan pak Juan? Ini kehamilan pertama? ...." perawat mulai mengajukan beberapa pertanyaan yang menurutku cukup privasi. Aku tidak terlalu nyaman menjawabnya sebab ada Juan di sampingku. Dari body language sudah terlihat, tapi Juan sepertinya cuek. Ia tetap bertahan bahkan ikut bertanya seperti perawat. "Tidak usah malu-malu, Bu. Sama suami sendiri." Kata perawat lagi


"Hukk." Aku langsung rerbatuk, sementara Juan hanya tersenyum tipis. Sebenarnya wajar kalau perawat tersebut mengatakan seperti itu karena memang yang datang ke sini sebagian besar adalah pasangan suami istri. Hanya saja aku menjadi tidak enak hati sebab kami bukanlah pasangan suami istri. Usai mengisi data tentang kehamilanku, kami berdua dimintai untuk menunggu bersama pasien yang lain. "Maaf," kataku.


"Kenapa?"


"Karena tadi perawatnya mengatakan kita suami istri.


"Oh,"

__ADS_1


Hanya oh? Aku geram sekali dengan reaksi Juan barusan. Apa dia tidak merasa canggung sepertiku? Atau merasa salah tingkah. Kenapa ia terlihat santai saja seperti itu semua hal yang biasa. Ahhh, apakah aku yang terlalu berharap banyak padanya.


Buru-buru aku menata hati kembali, mengingatkan diri sendiri untuk tidak berharap banyak. Lagi pula Juan pasti sudah lelah terus mengharap aku.


__ADS_2