
Beberapa kali aku mencoba untuk berbicara jujur pada ayah, mas Yuda dan mbak Tika. Namun usahaku belum juga berhasil sebab nyaliku selalu ciut setiap akan mengatakan sejujurnya. Apalagi mas Bagas sempat kembali datang ke rumah dan menawarkan untuk rujuk, ia mengaku menyesal tak bisa mempertahankan kala itu dan ingin kembali membangun rumah tangga denganku.
Keluargaku yang tak tahu apa yang sudah terjadi antara kami tentu saja menyambut baik lamaran mas Bagas tersebut. Terlihat jelas kekecewaan ayah saat aku menolaknya.
"Nak, sebaiknya pertimbangkan baik-baik. Apa tidak sayang menolak lamaran Bagas. Bagaimanapun kalian sudah saling kenal sebelumnya. Kalian juga sudah pernah menjalin pernikahan. Ayah memahami mengapa kalian berpisah, karena saat itu semua terjadi begitu cepat dan usia kalian yang masih sangat muda. Bagas masih kuliah, sedangkan kamu baru lulus SMA. Sekarang kan kalian sudah sama-sama sukses. Kamu sudah jadi dokter, dia jadi pengacara. Orang tua Bagas juga sudah merestui. Apalagi yang menyebabkan kamu menolaknya? Yang lalu-lalu, lupakan saja. Mulai lembaran baru yang lebih baik. Ya." pinta ayah.
Andai semudah itu. Tapi aku tak bisa mengatakan semuanya, aku tak tega membuat ayah kecewa padahal harapan ayah begitu besar pada mas Bagas.
"Lalu dengan siapa kamu, Yu? Ayah khawatir, kalau usia ayah tidak panjang, sementara kamu belum menikah lagi, padahal kamu jauh dari keluarga." kata ayah.
"Sebenarnya sudah ada yang melamar Ayu, yah," kataku, Dengan suara pelan.
"Benarkah? Siapa? Kenapa tidak bilang dari awal? Coba kamu katakan atau suruh orangnya kemari. Ayah ingin bertemu, ingin bicara dengannya."
"Tapi ...."
__ADS_1
"Sudah, nggak pakai tapi-tapi, suruh dia ke sini sekarang." Ayah tak memberiku kesempatan untuk bicara, beliau memaksaku untuk menyuruh pemuda yang ku maksud bertemu dengan ayah. Aku bingung harus menanggapi, makanya aku hanya menurut, mengirimkan pesan pada Juan ajar ia segera datang ke sini sembari berdoa tak ada kehebohan.
***
"Apa-apaan ini?" wajah ayah memerah, suaranya berat.
Tampak betul ayah tengah menahan amarah. Duduk dengan tatapan sinis pada Juan yang tak diizinkan duduk, makanya terpaksa berdiri di dekat pintu. Sementara mas Yuda entah sudah berapa kali hendak menyerang Juan, rupanya saudara laki-lakiku tersebut masih sangat marah pada Juan, makanya ia hendak melampiaskan emosinya. Tapi untungnya ada mbak Yuni dan suaminya mbak Tika yang berusaha menahan hingga mas Yuda tak bisa menyentuh Juan.
"Apa-apaan ini, Ayu Andara Nesa? Kenapa kamu diam saja, jawab pertanyaan ayah. Kenapa kamu mendatangkan laki-laki itu ke rumah kita?" Bentak ayah dengan nada tinggi. Ayah mana yang tak marah ketika putri yang teramat disayanginya memilih lelaki yang sudah menghancurkan hidupnya, padahal ayahnya sudah berusaha untuk mendapatkan keadilan dengan menuntut laki-laki itu, ayahnya juga sudah berusaha membela mati-matian, tapi inilah balasannya. Lelaki itu yang tak pernah marah sebelumnya pada putri bungsunya, kali ini meradang.
"Maafin Ayu, yah. Tapi Juan adakah laki-laki yang Ayu pilih." jawabku.
"Mas, sebelumnya mohon maaf, izinkan saya ...." Belum selesai Juan bicara, mas Yuda sudah memotong.
"Siapa yang mengizinkan kamu bicara? Siapa juga yang ingin mendengarkan kamu? Dengar ya penjahat, kamu tidak diinginkan di rumah ini. Lagipula kamu terlarang di sini, jadi untuk apa nekat?" emosi mas Yuda masih tinggi, ia seperti hendak menelan Juan mentah-mentah.
__ADS_1
Aku jadi menyesal sudah membuat Juan datang ke sini. Ia tampak tidak nyaman, tapi masih berusaha bertahan meski sudah beberapa kali diusir. Bahkan Juan tak bergeming saat sebuah pukulan dari mas Yuda melayang di wajahnya yang tampan. Aku hanya bisa berteriak histeris, sementara yang lain tak peduli.
"Ayah ... mas Yuda, mohon dengarkan, Ayu mencintai Juan. Jadi tolong terima keputusan Ayu ini. tolonglah. Kalau memang tidak suka dan marah, silakan lampiaskan pada Ayu saja. Ayu siap menerimanya, tapi jangan menyakiti Juan. Ia sama sekali tak ...." Plak sebuah tamparan melayang di pipiku. Tamparan yang tak hanya membuatku terkejut, tapi juga semua yang berada di sini. Mbak Tika, ialah pelakunya. Tangannya telah mendarat di pipiku. Memang tak terlalu keras, namun sukses membuat air mataku mengalir dengan derasnya karena ini untuk pertama kalinya ia melakukannya.
Selama ini mbak Tika selalu baik padaku. Ia tak pernah kasar, jangankan main tangan, memarahi saja ia tak mampu. Ia selalu menyayangiku, begitu juga dengan ayah dan mas Yuda. Tapi sekarang semuanya terbalik, semua seolah ingin menghakimi aku, mereka menyidangku untuk sebuah keputusan yang dianggap salah.
Sebenarnya aku bisa memaklumi kenapa mereka begitu, itu karena rasa sayang yang begitu besar. Tak ada ayah dan kakak yang merelakan putrinya bersama dengan pelaku pemer----, apalagi ia pernah hampir ingin mengakhiri hidupnya karena sangat putus asa.
Tetapi aku pun tak bisa mengingkari perasaan sendiri. Tuhan yang sudah membolak-balikkan hati ini, menetapkan rasa yang dulu dipenuhi kebencian berganti menjadi rasa cinta.
Lalu aku harus bagaimana?
Aku hanya bisa menunduk, menahan sakit, bukan karena pukulan karena mbak Tika melakukannya tak terlalu keras, tapi karena aku menyadari sudah membuat luka yang lebih dalam di hati mereka.
"Jadi, katakan sekali lagi Ayu Andara Nesa, apakah benar kamu menyukai laki-laki bajing--- itu?" tanya mbak Tika, dengan suara bergetar.
__ADS_1
"Ya mbak, Ayu mencintainya. Ayu memilihnya tanpa paksaan siapapun" Jawabku.
Plak, sekali lagi mbak Tika mendaratkan tamparannya, ia begitu marah, bahkan saking emosinya ia sampai menitikkan air mata. "Tega sekali kamu, Yu. Kamu semua berjuang mencari keadilan untuk kamu. Aku harus menerima hinaan orang-orang hanya demi membela kamu. Ayah dan mas Yuda juga begitu. Tapi ini balasanmu. Sungguh aku tak menyangka kamu sudah berubah, benar-benar berubah, kamu bukan lagi adikku yang manis seperti dulu. Tapi kamu hanya perempuan yang tidak tahu malu, yang tak punya kehormatan sama sekali sehingga memilih hidup bersama laki-laki seperti itu. Apa sudah tak ada laki-laki lain hingga kamu menjatuhkan pilihan kamu padanya? Kenapa begitu Ayu, kenapa?" suara mbak Tika bergetar, ia begitu emosi. Aku hanya bisa menyimak sambil menangis.