
Aku belum juga bisa memejamkan mata usai mencuri dengar pembicaraan ayah bersama Arum. Ia memang diintrogasi habis-habisan oleh ayah dan kedua kakakku sebab Arum yang sudah membuatku bertemu kembali dengan Juan, padahal ayah sudah mengungsikan aku ke rumah Eyang.
Rupanya orang tua Juan adalah dalang dari semuanya. Mereka yang meneror keluargaku, mengancam ayahnya Arum, mempengaruhi keluarga mas Tio tentunya dengan ancaman juga dan membuat mas Yuda kehilangan pekerjaan. Benar-benar dasyat efek dari keegoisan mereka. Meski Juan tak tahu menahu bahkan menentang keras sikap orang tuanya, tetap saja, dimataku ialah yang paling bersalah. Andai ia tak melakukan semuanya pastilah orang tuanya juga tak akan melakukan apapun pada keluarga kami.
Ada sebuah alasan yang membuatku ingin meneriakinya. Ia melakukan kejahatan itu karena mencintaiku. Cinta? Rasanya aku ingin tertawa sambil memakinya. Cinta seperti apa itu, bukannya memberikan yang baik malah menghancurkan orang yang katanya dicintainya? Lagi-lagi aku menyesali, kalau memang benar ia mencintaiku, kenapa harus aku? Kenapa bukan perempuan lain. Bukankah di luaran sana banyak gadis-gadis cantik, berpendidikan tinggi dan dari keluarga terhormat.
Juan, ia adalah putra tunggal dari pengusaha sukses sekaligus salah seorang penguasa di kota ini. Ia adalah kakak kelasku di SMA. sekarang ia sudah lulus SMA. aku baru tahu kalau ia pun kuliah di kampus yang sama dengan yang aku incar selama ini. Hanya beda fakultasnya saja.
Saat kejadian itu terjadi, Juan sedang libur semester. Kata Arum, ia baru bertengkar dengan orang tuanya. Saat pikirannya kalut, ia minum alkohol, lalu ke sekolah untuk menemuiku. Rupanya Juan sudah mengikuti aku semenjak kami keluar dari gerbang sekolah. Juan terus menunggu sampai aku dan ketiga sahabatku Selesai makan-makan dan foto-foto. Begitu aku pulang sendiri, barulah ia melancarkan aksinya.
Pada Arum, Juan mengakui tak bermaksud melakukan semua itu. Ia hanya ingin berada dekat denganku sebentar saja untuk melepaskan semua beban di hatinya. Tapi setan sudah memasuki pikirannya hingga ia nekat melakukan perbuatan itu. Begitulah ceritanya pada Arum yang diceritakan kembali pada anggota keluargaku. Sayangnya aku tak percaya. Mungkin itu hanya caranya agar dimaafkan dan perkaranya dianggap selesai.
"Belum tidur, Yu?" mbak Tika masuk ke kamar. Ia memaksakan senyum. "Masih sakit?" Tanyanya, sembari duduk di tepi tempat tidur untuk merapikan selimutku.
"Mbak," kataku.
"Hmm,"
"Maafin Ayu ya."
"Lho, untuk apa? Kamu kan Ndak nakal."
__ADS_1
"Mbak!" aku menghambur dalam pelukan mbak Tikaa. Aku tahu, saat ini perasaannya pasti tidak sedang baik-baik saja. Ia pasti patah hati usai diputuskan secara sepihak oleh keluarga mas Tio. Perempuan mana yang hatinya tak hancur ketika impiannya untuk menikah yang tinggal selangkah lagi digagalkan. "Kalau mau nangis Yo nangis saja tho." Kataku.
"Lha, mbak itu Ndak cengeng kayak kamu, jadi kenapa harus nangis?"
"Mbak itu pura-pura tegar paling. Ayu sudah tahu semuanya dari Arum. Ayu juga sudah ketemu sama mas Tio dan keluarganya. Mereka nggak boleh melakukan semua itu pada mbak."
"Untuk apa kamu ke sana? Pasti kamu dimarahi bapaknya, ya?"
"Sedikit."
"Ya wes, besok-besok jangan gegabah. Kalau mau melakukan sesuatu itu ngomong dulu."
"Ndak apa Yu. Ini juga bukan salah kamu. Namanya nggak jodoh, jadi harus bersabar. Kita nggak bisa mendapatkan semua yang kita mau. Allah tahu mana yang terbaik untuk hamba-Nya."
"Mbak ... jangan menyerah, ya." pintaku.
"Yu, nggak usah dibahas lagi ya. Anggap saja lamaran itu enggak pernah ada." meski mbak Tika berusaha tersenyum, tapi air mukanya menunjukkan sedih.
"Tapi mbak, mas Tio masih berjuang supaya kalian bisa bersatu. Jadi mbak jangan menyerah juga ya. Terus berjuang. Ayu juga akan melakukan apapun supaya semuanya kembali membaik seperti dulu."
"Yu ... semuanya sudah berakhir. Mbak nggak mau kamu bahas itu lagi ya "
__ADS_1
"Tapi kenapa? Mas Tio kan sudah bilang mau berusaha untuk meluluhkan hati ayahnya."
"Kalaupun hati ayahnya bisa luluh, mbak tetap nggak akan mau kembali bersamanya."
"Mbak, kok gitu? Mas Tio nggak salah apa-apa. Ini semua murni karena keluarga Juan. Tolong mbak, bersabar sebentar saja. Ayu yakin mereka bisa mengerti nantinya. Bukankah mbak yang bilang kalau mas Tio dan keluarganya itu orang baik?"
"Yu ... apa kamu bisa menerima ayah dan ibu mertua yang sudah menghina ayah dan juga saudarimu? Mereka tega mengata-ngatai ayah dan kamu dengan cacian yang sangat menyakiti hati. Oke, mas Tio memang nggak ingin rencana pernikahan ini Batak, tapi ia tega diam saja saat ayahnya memakai ayah kita tanpa berkata apapun juga. Ia hanya berharap agar mbak memaklumi dan bisa memaafkan. Mbak sudah terlanjur terluka, Yu. Dia sudah membuat hati lelaki yang jadi cinta pertama mbak hancur, lalu bagaimana bisa mbak melihat mereka kembali dengan pandangan yang baik? Sebuah piring yang sudah dipecahkan, sekalipun dilem kembali, bekas pecahannya tak akan pernah bisa hokangy. Begitu kan kata orang-orang? Begitu juga dengan hati mbak!"
"Mbak!" Aku makin menjadi-jadi menangis dalam pelukan mbak Tika. Karena sudah gak punya ibu sejak kecil, mbak Tika lah tempatku untuk menumpahkan kesedihan. "Ayu sudah menjadi masalah untuk mbak, ayah dan mas Yuda. Gara-gara Ayu kalian semua jadi dapat masalah. Ayu benar-benar nggak berguna. Rasanya Ayu ingin mati saja. Ayu nggak pantas jadi bagian dari keluarga ini. Ayu ...."
"Astagfirullah Yu, kamu bicara apa sih dik? Mbak nggak mau lagi mendengar kata-kata seperti itu dari mulut kamu. Kita itu orang yang punya agama. Seberat apapun ujian yang Allah beri, pasti sudah sesuai kadarnya. Jangan sembarang ngomong, nggak baik terus mengeluh. Mbak, ayah dan mas Yuda juga sudah berusaha ikhlas menerima semuanya. Sekarang yang penting kita sama-sama berusaha mendapatkan keadilan itu. Kalau kamu berpikir seperti itu, sama saja menambah masalah baru dan itu lebih berat untuk kami. Kamu lihat ayah, betapa ayah berusaha untuk kuat. Kamu juga harus kuat."
"Tapi mbak ... Ayu benar-benar menyesal, Ayu ...."
"Sudah, nggak usah pikirkan mbak lagi. Kamu juga nggak salah, Yu. Ini musibah. Tak ada yang menginginkan semuanya terjadi."
"Seumur hidup Ayu bakal merasa bersalah. Ini semua gara-gara Ayu. Kenapa harus terjadi pada kita. Kenapa?"
"Enggak Yu, kamu adik mbak yang baik. Ini adalah bagian dari takdir Allah yang harus kita jalani dengan ikhlas. Jangan merutuki apa yang sudah Allah gariskan. Harusnya kita sabar. Ikhlas Yu, ikhlas."
Juan, ini semua gara-gara kamu. Aku terus merutuki lelaki itu, yang dengan tega sudah menghancurkan masa depanku, lalu membuat luka hati orang-orang yang aku sayangi. Minta maaf saja tak akan cukup, kebencian ku padanya sudah benar-benar besar.
__ADS_1