Haruskah Kita Menikah?

Haruskah Kita Menikah?
Mengapa Datang Sekarang?


__ADS_3

Entah sudah berapa orang yang datang ingin membesuk namun tak ada seorangpun yang ku temui karena aku tak punya keberanian bertemu dengan orang-orang yang aku kenal sekalipun itu ketiga sahabatku. Hari ini saja, mereka kembali datang untuk kesekian kalinya namun tetap saja aku menolak. Rasanya, sendiri lebih baik untuk saat ini. Aku masih sangat malu dengan kejadian yang menimpaku, apalagi sekarang ditambah ada calon bayi yang berada di perutku. Noda yang ada pada diri ini membuatku merasa tak pantas bertemu dengan siapapun. Bahkan sekedar berbincang. Aku ini sudah kotor, penuh dengan noda!


Sebenarnya aku sudah sangat rindu bertemu dengan mereka. Tiga sahabat dan teman-teman sekelas. Apalagi sekarang mereka tengah bersiap untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Mungkin sekarang adalah waktu yang sangat tepat untuk berkumpul karena katanya, kalau sudah kuliah, kita akan sibuk dengan urusan kampus dan lupa teman-teman SMA akan terlupakan seiring dengan berjalannya waktu, tergantikan dengan teman-teman baru. Apalagi kalau merantau.


Kemarin adalah hari kelulusan. Teman-teman pasti bahagia. Bisa ku bayangkan bagaimana hebohnya mereka semua saat Bu Hilsa memberitahu bahwa semuanya lulus. Kini, aku membayangkan senyum di wajah mereka hingga tanpa sadar akupun ikut tersenyum.


"Yu," mbak Tika membuyarkan lamunanku.


"Mbak, ngagetin aja." Kataku.


"Kamu lagi melamun ya? Mikirin apa? Kok senyum-senyum begitu?"


"Iiih kepo."


"Nggak, mbak penasaran saja. Apa yang bisa membuat adik kesayangan mbak ini tersenyum lagi setelah lebih dari sebulan senyumnya hilang."


"Enggak mbak,"


"Iihhh nggak asik, masa main rahasia-rahasia segala."


"Ayu lagi ngebayangin kumpul sama teman-teman Ayu. Seperti biasa, semuanya heboh dengan cerita masing-masing."


"O, kamu kangen mereka? Terus, kenapa nggak mau menemui mereka? Atau, perlu mbak hubungi Bianca supaya mengajak teman-teman kamu ke sini?"

__ADS_1


"Nggak nggak nggak. Jangan mbak. Ayu nggak mau ketemu mereka. Ayu malu."


"Yu, nggak usah malu, kamu nggak melakukan kesalahan. Pelakunya saja santai, harusnya korbannya tabah, hadapi semuanya dengan gagah berani!" Mbak Tika memelukku erat seolah tengah memberikan semangat padaku. "Oh iya, mbak sampai lupa. Di depan ada tamu ingin ketemu kamu."


"Siapa mbak?'


"Lihat saja sendiri,"


"Mbak, Ayu kan sudah bilang, Ayu nggak mau ketemu siapapun dulu. Ayu malu, mbak. Ayu itu nggak sama seperti Ayu yang dulu. Sekarang ini Ayu adalah seseorang yang bernoda, Ayu ...."


"Yu, jangan merasa rendah diri seperti itu. Tidak ada yang berpikir begitu. Kami semua selalu menganggap kalau kamu tetap Ayu yang dahulu. Jadi kamu harus segera bangkit dan buktikan kalau kamu bisa melewati semua ini."


Aku diam, entahlah, rasanya tak mungkin menjadi Ayu yang dahulu lagi. Apalagi setelah ada bayi dalam perutku.


"Sudah, jangan sedih apalagi berkecil hati. Di luar sudah ada seseorang yang menanti kamu."


"Yang datang bukan teman kamu, kok."


"Lalu siapa, kak?"


"Lihat saja sendiri."


Karena mbak Tika terus memaksa, akhirnya aku memaksakan diri untuk bangkit dari tempat tidur. Usai mengenakan kerudung, aku segera mengikuti mbak Tika menuju ruang tamu kami yang sangat sederhana.

__ADS_1


Memasuki ruang tamu, aku yang semula malas-malasan kaget mendapati tamu yang kini duduk di kursi yang menghadap ke arahku. Untuk sesaat kami saling beradu pandang, lalu kemudian sama-sama menundukkan kepala.


Jantungku langsung berdetak kencang, rasanya badan panas dingin. Dia, kenapa ada dia di sini? Ahhh, harusnya aku bertanya dulu pada mbak Tika, siapa yang datang menemui.


Lelaki itu adalah mas Bagas. Ia kakak kelasku di SMA, kami sama-sama pernah menjadi pengurus rohis. Ia setahun di atasku. Setelah lulus SMA, ia lebih dulu kuliah di UI, fakultas hukum. Sebenarnya bukan tanpa sebab ia memilih melanjutkan pendidikan ke sana, tapi karena sudah bertanya kepadaku lebih dulu. Ya, meski kami tak banyak bicara, hanya berkomunikasi untuk hal-hal penting saja sebab kami sangat menjaga pergaulan, tapi kami sama-sama sepakat akan melanjutkan pendidikan di ibu kota.


Mas Bagas dan aku memang tak pernah mendeklarasikan diri sebagai sepasang kekasih, tetapi dalam diam kami sama-sama berharap agar berjodoh. Semua itu bermula dari candaan orang tua mas Bagas dengan ayah yang mengatakan ingin menjadikan aku sebagai menantu mereka. Candaan itu bagi kami adalah sebuah pengikat. Tanpa sepengetahuan orang tua kami sama-sama sepakat kelak, setelah kami lulus kuliah dan bekerja maka kami akan menikah. Hingga saat itu datang, kami akan sama-sama saling menjaga diri.


Mengingat semua itu badanku langsung lemas. Hatiku tak bisa tegar meski hanya pura-pura sebab semua harapan itu kini telah sirna. Aku tak akan pernah lagi bisa bersama dengannya sebab aku sudah ternoda. Ini benar-benar tidak adil.


"Mbak, Ayu mau masuk ke dalam." kataku. Rasanya tak sanggup untuk bicara dengannya. Rasanya mustahil ia tak mengetahui musibah yang menimpaku sebab beberapa hari setelah kejadian itu, kedua orang tuanya pernah datang membesuk, untuk menguatkan hati ayah yang benar-benar hancur saat itu.


"Yu!" ia memanggilku sambil bangku dari duduk. "Boleh bicara sebentar?" tanyanya dengan suara pelan.


"Nggak, aku nggak mau!" Kataku. Apalagi yang bisa diharapkan dari seorang perempuan yang sudah ternoda? Aku bukanlah aku yang dulu. Aku yang sekarang penuh dengan noda yang memalukan.


"Yu," mbak Tika segera memegang lenganku sebelum aku pergi. "Bicaralah dulu dengan Bagas. Dia sudah datang jauh-jauh dari Jakarta hanya untuk bertemu kamu."


Sebenarnya ingin sekali bertemu dan berbincang dengan mas Bagas. Nyaris setahun aku tak pernah melihatnya, rasanya rindu ini begitu besar. Aku hanya bisa menyebutkan namanya dalam doaku tanpa bisa berani bercerita pada siapapun tentang rindu yang aku simpan ini. Tapi sekarang ia ada di sini, sayangnya, ia datang di waktu tak tepat. Ia sudah terlambat, sangat terlambat.


"Beri saya kesempatan untuk bicara sebentar, Yu. Setelah itu terserah kamu, kalau tidak mau ketemu lagi, saya tak akan memaksa." katanya.


"Yu, bicaralah. Mbak tahu kamu sangat ingin bertemu dengan Bagas, kan? Kamu tak usah malu, Bagas sudah tahu semuanya. Untuk itulah ia sengaja pulang agar bisa bertemu dengan kamu." Kata mbak Tika.

__ADS_1


"Ba ... baiklah kalau memang mau bicara. Tapi mbak Tika temani Ayu." Pintaku pada mbak Tika yang dijawab dengan anggukan.


Mbak Tika membimbing tanganku menuju kursi. Kini, kami duduk berhadapan. Hanya berjarak beberapa meter. Meski begitu aku tak berani untuk mengangkat wajah sebab aku takut begitu melihatnya hatiku akan semakin hancur sebab tahu tak akan mungkin lagi untuk bersatu dengannya dalam kondisi seperti ini.


__ADS_2