Haruskah Kita Menikah?

Haruskah Kita Menikah?
Kamu Bukan Temanku!


__ADS_3

"Apakah kita perlu membicarakan ini dengan Juan?" Aku mengajukan usul. tiba-tiba ide itu muncul dibenak ku. Tentu saja membuat Aurel tidak nyaman. Ia pasti sudah tahu bagaimana tanggapan Juan nantinya atas idenya tersebut. "Saya dan Juan memang sebelumnya tidak baik-baik saja. Tapi itu kemarin-kemarin, sebelum saya mengenalnya lebih dekat. Sekarang saya perlahan sudah bisa memaafkannya." kataku lagi.


"Oh, begitu." Aurel memaksakan senyum meski terlihat senyumnya menyiratkan kegusaran. "Sudahlah, nanti saja kita bicarakan, toh bayinya juga masih belum lahir. Aku ke sini hanya ingin mengenal kamu lebih dekat. Bagaimana kalau kita berteman, Yu?" tawar Aurel.


"Aku tidak mau berteman denganmu!" Aku menolak tawaran Aurel secara jujur dan tentu saja membuat Aurel kaget.


"Oh begitu?" ia memaksa senyum meski senyumnya terlihat aneh. "Baiklah, sepertinya aku harus pamit dulu karena masih banyak yang harus aku kerjakan..senang berkenalan denganmu, Yu, meski kamu menolak tawaran pertemanan yang aku ajukan!" Kata Aurel. "Oh ya, aku hanya mengingatkan kamu sekaligus penasaran, Yu, kalau Juan adalah laki-laki yang sudah memper---- kamu, bukannya kamu sangat membencinya, tapi kenapa sekarang malah tinggal di sisinya?"


Aku terdiam. Apa yang dikatakannya memang benar. Sebelumnya aku membenci Juan, tapi sekarang, aku bahkan mulai menyukainya. Mungkin ini yang dinamakan cinta datang karena kebersamaan antara kami yang terlalu sering. "Lalu apakah itu salah?" aku bertanya pada diri sendiri.


"Yu, yang namanya penjahat tetap saja penjahat. Orang yang sudah menghancurkan hidup kamu maka akan meninggalkan trauma di hati kamu. Aku sebenarnya kasihan sama kamu, aku tahu kamu terpaksa menerima bantuan dari Juan karena kamu sebatang kara di kota ini. Iya, kan?" ia seolah mengingatkan aku bahwa tak mungkin pelaku kekerasan seksual bisa bersama dengan korbannya. Aku sudah memiliki trauma yang membuatku jika memaksakan diri tetap bersamanya maka yang ada aku sendiri yang akan tersiksa. Tapi benarkah demikian?


Apa yang dikatakan Aurel benar-bemar membuatku bimbang. Saat ini aku sudah merasa nyaman dengan Juan, tapi Aurel mengatakan itu hanya tipuan saja sebab kondisiku terjepit dan Juan satu-satunya yang menolongku. Tapi tetap saja, trauma yang ia buat sebelumnya akan menyiksaku ketika aku terus memutuskan bersamanya.


Pelaku dan korban tak akan mungkin bisa bwrsa! Aurel kembali menekankan itu. Sehingga terus terngiang-ngiang di ingatanku meski ia sudah pergi.


***


Kejadian itu kembali muncul di mimpiku. Ketika Juan menarik paksa ke mobil, lalu membawaku pergi ke tempat yang asing untukku. Di sana ia melakukan perbuatan bejat itu. Tak seperti mimpi sebab aroma alkohol itu benar-benar yerboum nyata. Aku sampai berteriak-teriak histeris. Tak hanya membangunkan Cici, tapi juga bibi Zelma yang tidur di kamar sebelah.


"Ada apa, Yu? Kamu mimpi buruk, ya?" bibi Zelma memberiku segelas air putih. "Ya Allah, kamu juga demam?" Bibi Zelma memegang keningku. "Kita ke rumah sakit, ya. Khawatirnya terjadi sesuatu dengan kandunganmu. Kamu bisa siap-siap sendiri? Bibi mau telepon Juan dulu."


"Enggak. Jangan bi," aku memegangi tangan bibi Zelma agar tak pergi. "aku nggak apa-apa, aku nggak mau ke rumah sakit." kataku. Saat ini aku tak ingin bertemu dengan Juan. Apa yang dikatakan Aurel masih terngiang dengan jelas di benakku. Perasaan nyaman yang semula terasa kini mulai berselang dengan rasa takut seperti kala ia melakukan perbuatan bejat itu.


"Tapi kamu demam tinggi, kalau dibiarkan khawatir berbahaya pada bayimu, nak." bujuk bibi Zelma.

__ADS_1


"Nanti saya bisa beli obat di warung, bi,"


"Jangan Yu, namanya ibu hamil nggak boleh minum obat sembarangan. Udah deh, pokoknya sekarang kamu tunggu di sini, bibi telepon Juan dulu ya."


"Nggak ni, enggak. Jangan." aku memohon pada bibi Zelma sambil meyakinkannya bahwa kondisiku baik-baik saja. Aku tak butuh berobat ke rumah sakit karena sekarang yang ku inginkan adalah istirahat. Bibi Zelma sebenarnya khawatir, tapi karena aku bersikeras ditambah bisa meyakinkannya dengan berpura-pura sudah lebih baikan makanya akhirnya ia pergi.


"Tapi ingat Yu, kalau ada apa-apa segera kabari Bibi." perintah bibi Zelma.


Aku tak mau lagi ketemu dengan Juan. Aku harus pergi dari sini agar ia tak bisa menemukanku. Tapi harus kemana? Jakarta masih sangat asing untukku.


Dalam kondisi seperti ini, aku merindukan ayah, mas Yuda dan mbak Yuni. Kalau saja kejadian naas itu tidak menimpaku, mungkin jalan hidupku tidak akan seperti ini. Aku masih bisa berada di dekat mereka, jika ada masalah mereka akan membantuku mencari jalan keluarnya.


***


Pukul delapan pagi. Aku terbangun dengan tubuh menggigil. Teringat belum salat Subuh. Susah payah aku bangkit, tapi sulit karena kehilangan tenaga. Bahkan sekedar menyibak selimut saja susah. Ingin minta tolong tapi tidak kuat. Suaraku seperti tercekat. Namun aku tak ingin menyerah begitu saja, susah payah aku berusaha bangkit hingga akhirnya badanku terjatuh dari tempat tidur.


***


"Dimana ini?" tanyaku, saat kedua mataku terbuka. Ada Juan. Aku langsung memalingkan wajah.


"Yu, kamu sudah bangun?" Juan menyapaku. "Ada yang sakit?"


"Pergilah."


"Kenapa? Kamu mau istirahat?"

__ADS_1


"Ya."


"Baiklah. Saya akan menunggu di sana." ia menunjuk kursi yang berada di kamar ini.


"Jangan. Pergilah."


"Kenapa?"


"Karena saya nggak mau ada kamu di sini!"


"Yu,"


"Pergi "


"Yu,"


Tiba-tiba terdengar suara Isak tangis. Juan menangis. Ia menundukkan kepalanya. Tapi kenapa ia menangis? "Kenapa?"


"Maaf ... maafin saya, Yu. Sudah gagal menjaga kamu dan anak kita."


"Kenapa? Apa yang terjadi?"


"Karena demam kamu terlalu tinggi, sehingga membuat kamu keguguran."


"Ya Allah ...." aku pun ikut menangis. Rasanya sedih sekali. Anak ini, anak yang pernah Allah titipkan selama lima bulan di rahimku. Selama ini ia tak pernah mendapatkan perhatian dariku. Aku bahkan sempat membenci kehadirannya dan berharap ia pergi dari hidupku. Tapi saat Allah mengambilnya kembali, hatiku benar-benar hancur. "Saya yang salah, saya!" Aku berteriak histeris. Aku benar-benar menyesali sikapku selama ini padanya. Anak ini tak berdosa, ia juga tak berharap hadir dengan situasi seperti ini. Tapi nasi telah bubur yang ada kini hanyalah penyesalan.

__ADS_1


Aku dan Juan sama-sama menangis. Tanpa kami sadari, sebenarnya kami sama-sama menyayangi bayi ini. Kami dalam diam sebenarnya sama-sama berharap bisa melihatnya terlahir ke dunia dan bisa membesarkannya dengan penuh kasih sayang. Namun kini ia telah pergi. Meski perawat mencoba menenangkan kami dengan mengatakan kelak akan mendapatkan ganti tapi tetap saja hatiku tidak tenang. Anak ini tak akan sama dengan anakku selanjutnya. Apalagi aku dan Juan tidak terikat pernikahan.


__ADS_2