Haruskah Kita Menikah?

Haruskah Kita Menikah?
Lelaki Idaman


__ADS_3

Aku dan Cici tengah berjemur di bawah matahari pagi sembari bercerita. Aku menanyakan Cici tentang sekolah. Saat ini usianya sudah lima tahun, sudah bisa masuk TK. Kata gadis kecil itu, sebenarnya ia ingin sekolah, ingin punya banyak teman karena selama ini selalu sendiri. Tapi ia takut kalau sekolah nanti malah memberatkan ibunya. Cici kasihan melihat ibunya yang harus bekerja di malam hari, padahal menurut gadis kecil itu, keluar malam hari itu sangatlah menakutkan. Cici benar-benar dewasa meski usianya masih muda.


"Cici tidak perlu khawatir, kan kak Juan sudah bilang, ia yang akan membayar uang sekolah Cici. Jadi Cici mau ya?" tanyaku.


"Ibu bakalan marah, nggak?"


"InshaAllah nggak akan marah. Kak Juan akan bicara pada ibu. Bagaimana? Cici mau kan belajar dan punya banyak teman?"


"Tapi nanti siapa yang akan mengantar dan menemani Cici di sekolah. Cici kan nggak punya ayah, nanti pasti nggak akan ada yang mau berteman dengan Cici." Kata anak itu lagi.


"Kak Ayu yang akan menemani Cici. Lagipula siapa bilang nggak akan ada yang mau berteman dengan Cici. Kan kita belum tahu. Teman-teman lain pasti senang bisa kenalan karena Cici anak yang baik. Semua pasti akan sangat menyayangi Cici, yang nggak mau berteman dengan Cici yang akan rugi. Cici kan anak cantik saliha ibu Rani yang baik hati. Jadi Cici mau, ya?"


"Mau kak."


"Baiklah, akan kakak sampaikan pada kak Juan, ya." Sambil berjemur aku mengirimi Juan pesan.


[Saya sudah menyampaikan pada Cici dan ia mau didaftarkan sekolah.] kataku.


Semalam Juan yang memintaku membujuk Cici agar mau sekolah. Juan tidak ingin adik tirinya itu tertinggal dalam hal pendidikan. Mumpung ia mampu makanya ia berinisiatif menyekolahkan Cici. Awalnya Juan sudah pernah menawarkan langsung pada Cici, tapi ditolak. Makanya ia meminta bantuanku.


Tak lama Juan membalas. [Sepertinya kita tak bisa mendaftarkan Cici tahun ini, kalaupun harus masuk sekolah tidak di Jakarta.]


[Kenapa? Apa terjadi sesuatu?]

__ADS_1


[Pengacara yang saya tunjuk mengurus kasus kak Rani mengatakan kalau lawan kak Rani saat ini tengah mengincar orang-orang yang berhubungan dengan kak Rani, yaitu Cici. Ia sepertinya masih dendam karena terinfeksi virus HIV. Ia bahkan nekat akan menghabisi keluarga dekat kak Rani. Karena itu saya membuat keputusan untuk sementara waktu akan menyembunyikan Cici dulu hingga keadaan aman.]


Aku membenarkan keputusan Juan. Meski sekolah penting tapi menjaga keamanan Cici jauh lebih penting lagi. Sebenarnya kami paham kenapa laki-laki itu begitu marah. Ia jadi terjangkit virus dan juga menulari istrinya. Terlepas ia memang melakukan kesalahan dengan berzina.


"Bagaimana kak?" Tanya Cici


"Kata kak Juan nanti Cici akan sekolah setelah urusan ibu selesai ya. Sekarang Cici belajarnya sama kak Ayu dulu. Bagaimana? Cici mau nggak? Gini-gini kak Ayu juara kelas lho. Jadi bisalah jadi gurunya Cici."


"Iya Cici mau, kak!"


Sedang asyik berjemur sambil ngobrol, tiba-tiba sebuah mobil kecil masuk ke halaman rumah. Cici mengira itu adalah Juan, tapi ternyata dugaannya salah, yang keluar dari mobil itu seorang perempuan muda yang cantik. Ia mengenakan gamis berwarna merah muda, wajahnya terlihat ayu dengan sapuan makeup tipis warna senada sehingga membuat wajahnya segar.


"Ini pasti Ayu?" kata perempuan itu padaku, sambil mengulurkan tangannya. "Saya Aurel, temannya Juan." ia memperkenalkan diri. Meski mbak Aurel cukup ramah, namun aku masih merasa tidak nyaman dengan kehadirannya.


"Ya, saya tahu, semalam Juan sudah mengatakannya. Saya hanya ingin bertemu kamu, Yu. Juan bilang kamu sekarang tinggal di sini. Makanya saya ke sini untuk berkenalan dan memberikan ini." Mbak Aurel memberikan bungkusan yang dibawanya untukku. Sebuah bungkusan yang cukup besar, dari dalamnya tercium aroma yang wangi. Khas kue mahal, seperti yang pernah diberi oleh Juan dulu saat berkunjung ke rumah kak Rani.


"Apa ini?"


"Makanan. Dicoba ya."


"Oh ya, terimakasih mbak."


Teman seperti apa mbak Aurel ini? Sepertinya ia dekat dengan Juan hingga Juan juga menceritakan tentangku padanya. Aku belum pernah mendengar tentangnya sebelumnya. Sayangnya aku tak bisa bertanya banyak tentangnya karena khawatir ia salah paham. Mau bertanya pada Juan juga rasanya tidak enak sebab khawatir juga dengan prasangkanya. Lagi pula siapa aku, kenapa juga harus memikirkan semua itu. Aku benar-benar bingung dengan diriku sendiri.

__ADS_1


"Juan itu laki-laki yang baik, ia idaman banyak perempuan. Bukan begitu, Yu?" tiba-tiba mbak Aurel berkata begitu.


"Ahhh, tidak semua menyukainya kok mbak." aku menjawab asal-asalan.


"Hehehehe, masa? Tapi kata Juan memang begitu, kamu tidak menyukainya. Meski saat ini kamu tengah mengandung anaknya."


"Ya," aku meneysak sudah mengatakan ini, tapi karena gengsi terpaksa bicara seperti itu.


"Yu, kamu ingin tahu tidak aku ini siapanya Juan?"


Pertanyaan yang diajukan mbak Aurel sebenarnya yang ada di hatiku. Tapi aku segan untuk menanyakannya padanya. Makanya aku hanya menjawab asal-asalan. "Temannya, kan?"


"Mmmm, bisa dikatakan begitu. Bisa juga tidak. Sebenarnya aku adalah perempuan yang dijodohkan dengan Juan. Kedua orang tua kami sama-sama sepakat. Aku sendiri menerima perjodohan itu, namun tidak dengan Juan. Alasannya karena ia akan memiliki anak dengan kamu, Yu. Aku sebenarnya marah, kenapa Juan melakukannya padahal kami akan menikah. Hanya saja aku tak bisa memaksakan kehendak. Semula aku ingin melepaskan Juan, mencari yang lain, yang bisa mencintaiku juga. Tapi Juan bercerita padaku bahwa kamu tak menyukainya, bahkan kamu membenci Juan. Namun kamu belum bisa lepas karena ada anak antara kalian." kata mbak Aurel.. "Yu, Juan juga bercerita padaku bahwa kamu pernah berusaha untuk menggugurkan kanduangmu. Dari situ aku bisa menyimpulkan bagaimana besarnya kebencian kamu padanya."


"Ya, saya sangat membenci Juan sebab ia menghacurkan masa depan saya!" Kataku. "Tapi sekarang aku mencintainya." kataku lagi di dalam hati, tanpa bisa ku ungkapkan.


"Yu, maafin Juan. Aku enggak akan memaksa kamu memberinya maaf secepat itu sebab aku tahu luka yang dibuatnya sangatlah dalam. Tapi aku yakin Juan tak bermaksud menghancurkan hidupku karena ia bukan lelaki bajing---. Juan sebenarnya sangat baik. Kalau kamu mau, aku bersedia menebus kesalahannya dengan menggantikan posisi kamu."


"Maksudnya?"


"Berikan bayi itu padaku, aku yang akan merawatnya. Aku janji ia tak akan mengganggumu lagi. Bagaimana?"


Aku tersenyum sinis. Semula ku kira ia baik, tapi kenapa ia tega berpikir untuk memisahkan aku dengan anakku. Apa karena ia punya segalanya makanya bisa memisahkan aku dengan anakku nantinya?

__ADS_1


__ADS_2