
Suara pintu dibuka membuatku terbangun setelah sempat terlelap sejenak. Secara spontan aku bangkit dari sofa dan langsung menghadap pintu, seseorang yang membuka pintu kaget melihatku yang masih terjaga.
Pukul dua dini hari, sudah benar-benar malam untuk jam pulang. Dari mana saja ia selarut ini. Apa yang sedang dikerjakannya?
"Kamu belum tidur?" tanyanya, dengan wajah kuyu, mungkin teramat lelah.
"Iya, saya sengaja nunggu mas karena ...." aku bicara sambil berjalan ke arahnya, saat berdiri beberapa meter darinya, tiba-tiba hidungku mencium bau yang pernah ku cium sebelumnya. Bau yang membuat perutku mendadak mual, selain tak menyukai aromanya juga kenangan dari bau tersebut, rasanya seluruh isi perut ingin keluar makanya aku buru-buru lari ke kamar mandi.
Huek. Setelah selesai aku langsung mencuci wajah. Air dingin yang mengenai kulit membuatku merasa lebih segar.
Aroma itu, aku tak akan pernah lupa. Aroma yang sama saat penjahat itu merenggut paksa kehormatanku. Gara-gara itu semuanya jadi kacau. Aku menjadi berjarak dengan mimpiku sebagai dokter.
Aroma itu bau alkohol. Jadi, apakah mas Bagas minum minuman keras?
Aku langsung menggelengkan kepala keras-keras untuk mengusir pikiran yang tidak-tidak. Mana mungkin ia minum. Mas Bagas itu lelaki yang salih. Selama ini ia terkenal sebagai pemuda baik-baik dengan segala kisah kebaikannya. Menikahiku juga bagian dari kebaikannya tersebut. Itulah yang membuatku menyukainya di awal pertama berkenalan.
Sejak sekolah menengah ia selalu aktif sebagai pengurus remaja masjid sekolah. Guru agama di sekolah juga sering memujinya. Meski kala itu usia kami masih remaja dan rentan dengan yang namanya virus merah jambu, tapi ia bisa menjaga dirinya agar tak tersentuh sama sekali. Padahal tak sedikit siswi-siswi yang cantik mengajukan diri sebagai kekasihnya. Tetapi ia tak tergoda sama sekali. Ia juga yang mengajakku untuk berkomitmen menikah setelah mendapatkan pekerjaan tanpa pacaran. Jadi tak mungkin rasanya ia mabuk.
"Yu, kamu nggak apa-apa?" pintu kamar mandi diketuk.
"Oh ya. Nggak apa-apa mas. Sebentar aku keluar." Kataku dari balik pintu kamar mandi. Setelah membasuh wajah aku segera keluar kamar mandi.
"Kenapa belum tidur? Apa terjadi sesuatu?"
"Itu ... saya ingin bicara. Tapi sebelumnya boleh saya bertanya?"
"Apa?" Ia tampak malas-malasan, mungkin sudah lelah seharian di luar rumah.
__ADS_1
"Mas Bagas habis minum alkohol?" aku bertanya hati-hati, takut menyinggungnya.
"Alkohol? Kenapa kamu tahu?"
"Jadi benar mas mabuk?" aku tak percaya seorang Bagas Arianto melakukannya.
"Dari mana kamu tahu aroma alkohol? Kamu ...." Ia menatap ku dengan tatapan menyelidik.
"Penjahat itu, dia juga meminumnya saat kejadian itu."
"Penjahat? Maksudnya?" ia berfikir sejenak. "Oh, jadi kamu masih mengingat aroma alkohol yang diminumnya. Apalagi yang kamu ingat darinya, hah? Kamu masih ingat kejadian itu, masih menyimpan kenangan bersamanya? Benar-benar ya kamu!"
Tiba-tiba mas Bagas bicara dengan nada tinggi. Membuatku terkejut, sebab ini pertama kalinya ia bersikap seperti itu.
"Ayo jawab!" ia kembali membentak.
Bagaimana mungkin aku menyimpan kenangan buruk itu. Aku mengingat aroma itu karena memang masih ada trauma yang belum bisa aku hilangkan.
Kini mas Bagas mengguncang-guncang badanku tetapi tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut ini meski aku merasa tak nyaman dengan apa yang ia lakukan.
"Pak ... mbak Ayu!" tiba-tiba Bi Supi keluar dari kamarnya. Sepertinya ia terbangun karena teriakan mas Bagas. "Pak, sudah pak. Kasihan mbak Ayu." BI Supi menarik tanganku dan memberi jarak dengan mas Bagas. "Maaf pak, saya izin membawa mbak Ayu ke kamar." dengan sopan ia membawaku kembali ke kamar, menuntunku yang masih syok menuju tempat tidur. "Mbak nggak apa-apa? Perutnya sakit, nggak?"
Perut? Ya, aku merasa tak nyaman dengan perut ini, entah efek dari goncangan atau karena suasana hatiku yang memburuk. Aku pernah mendengar kalau orang hamil harus bahagia selalu sebab suasana hatinya mempengaruhi bayi dalam kandungannya.
"Iya, agak sakit." kataku.
"Kalau begitu berbaringlah, mbak Ayu harus istirahat. Bibi bantu pijit kakinya ya supaya nyaman. Atau mbak Ayu mau ke rumah sakit?"
__ADS_1
"Enggak usah Bi, saya istirahat saja." dibantu Bi Supi aku segera berbaring. Meski sudah dini hari, aku yang tadi sempat mengantuk kini kehilangan rasa kantuk. Aku masih terbayang-bayang dengan kejadian tadi, kenapa mas Bagas bisa bersikap seperti itu.
***
Entah sudah jam berapa ini, tapi lagi-lagi aku terbangun oleh secercah sinar matahari yang menyelinap masuk lewat tirai yang sedikit tersingkap. Menyadari matahari sudah terbit aku bersegera menuju kamar mandi untuk wudhu lalu salat.
Selesai salat, aku masih duduk di atas sajadah. Bingung apakah harus keluar kamar atau tidak. Sebenarnya kalau tidak lapar aku ingin berdiam diri di kamar saja sebab sekarang ini rasanya belum siap bertemu dengan mas Bagas. Aku takut kejadian dini hari terulang lagi. Ia marah dan membentak ku. Tetapi perut yang keroncongan memaksaku untuk berpikir ulang, sepertinya aku harus memberanikan diri.
Mas Bagas sekarang adalah suamiku. Kalau ada maslaha tak seharusnya aku melarikan diri. Harusnya dibicarakan baik-baik meski ia emosi dan ada kemungkinan akan kembali membentak.
Krek. Pintu kamar dibuka. Untuk persekian detik jantungku berdetak kencang, takut jika itu adalah mas Bagas. Tetapi rupanya yang masuk adalah Bi Supi, ia juga membawa serta satu nampan berisi segelas susu hangat dan sepiring nasi goreng dengan aroma menggiurkan.
"Bibi, bikin deg-degan saja!" Aku berpindah ke kasur.
"Mbak Ayu kaget ya? pasti mengira kalau saya adalah pak Bagas?" tebak bi Supi.
"Hukum. Tapi ngomong-ngomong mas Bagas dimana?"
"Ada di meja makan, sedang sarapan. Tadi pak Bagas berpesan, usai sarapan mau mengajak mbak Ayu keluar."
"Kemana?"
"Saya kurang tahu, mbak. Bapak nggak ngasih tahu. Cuma pesan itu saja."
"Duh, kemana ya? Tapi ... bagaimana dengan wajah mas Bagas. Maksud saya, apa masih kelihatan marah?"
"Nah kalau itu juga nggak tahu, mbak. Ekspresi wajahnya sama saja seperti biasa saya ketemu. Dingin, nggak banyak bicara. Bahkan saya tawari sesuatu saja hanya ditanggapi seadanya. Makanya saya bingung juga, mbak."
__ADS_1
"Duh!" aku langsung gugup, takut ia masih marah.