
Sejak kembali dari rumah Eyang, aku hanya menghabiskan waktu di kamar. Keluar hanya untuk urusan kamar mandi dan berwudhu.
Rasanya benar-benar kehilangan semangat hidup. Mungkin sudah seperti mayat hidup, hanya berbaring dengan pikiran kosong di tempat. Malam tak bisa tidur karena mimpi buruk itu terus menghantuiku, apalagi sekarang di dalam perut ini sudah ada makhluk kecil yang tengah tumbuh. Siang pun begitu, berat untuk terlelap meski sebenarnya tubuh ini membutuhkan istirahat.
Tok. tok. tok. pinta diketuk.
"Yu, sudah bangun?" mbak Yuni masuk membawa nampan berisi nasi goreng dan susu hangat. "Ini, makan dan minum susunya ya."
Begitu nampan di letakkan di atas meja, aromanya langsung memuat perutku keroncongan. Aku ingin muntah, untungnya mbak Yuni dengan sigap mengangkat kembali nampan tersebut. Ia mengembalikannya ke dapur, lalu kembali datang menemuiku. "Kalau nggak mau makan nasi goreng, kamu maunya makan apa? Mungkin ada yang diinginkan?" tanya mbak Yuni.
"Enggak ada, mbak." kataku, sambil menggelengkan kepala karena memang nafsu makan ku hilang.
"Coba dipikirkan lagi. Mungkin ada yang kamu perlakukan inginkan?"
Tak ada. Makanya aku menggeleng lemah karena rasanya kembali mual meski baru sekedar mendengar mbak Yuni menyebut beberapa jenis makanan yang biasanya aku suka.
"Tapi kamu harus tetap makan, Yu. Kasihan bayi yang ada di perut ka ...."
Aku menatap mbak Yuni hingga ia terdiam.
"Yu, maafin mbak. Mungkin ini akan membuat kamu tidak nyaman, tapi ...."
"Mbak, maaf, tapi Ayu nggak mau membahas apapun."
"Tapi Yu, apa kamu nggak kasihan sama anak kamu sendiri, dia kan ...."
"Mbak, tolong!"
__ADS_1
"Yu,"
"Please, Aku pengen sendiri!" aku sampai menautkan kedua tangan. Aku mengerti mbak Yuni membujuk makan karena ia peduli, tapi saat ini emosiku sedang tidak stabil sehingga tidak bisa menerima kebaikan yang ia berikan, malah merasa terganggu dengan tawaran-tawaran itu.
"Yu, kasihan dia, bayi itu nggak salah apa-apa." mbak Yuni mencoba menyentuh perutku, tapi tentunya langsung ku tepis.
"Bayi ... Bayi ... Bayi. Nggak, nggak ada bayi di sini. Aku nggak mau bayi apapun. Aku itu masih ingin sekolah, mbak!" emosi itu sudah tak bisa ku tahan sehingga bicara dengan suara keras tanpa peduli bahwa ia kakak ipar ku.
"Tapi Yu,"
"Pergi, tinggalkan aku sendiri!" masih dengan suara tinggi diiringi air mata yang membanjiri pipi.
"Yu, kenapa?" Mbak Tika masuk bersama dengan ayah dan mas Yuda. "Ayu kenapa mbak, kok nangis?" Tanya mbak Tika pada mbak Yuni, sebab aku sudah terlanjur menangis.
"Itu ...." mbak Yuni gugup.
"Ayu nggak mau punya bayi, mbak!" aku mengadu seperti anak kecil pada kakakku.
"Bayi?" mbak Tika mengerutkan keningnya.
"Kamu bicara apa sama Ayu?" tanya mas Yuda lagi
"Aku cuma nyuruh Ayu makan, dari kemarin ia nggak makan apapun. Tadi juga saat aku tawarkan nasi goreng dan susu dia menolak. Makanya aku tanya, dia ingin makan apa. Aku kasihan kalau terjadi sesuatu pada bayinya karena," belum selesai mbak Yuni bicara, aku langsung memotong.
"Nggak ada bayi, mbak. Enggak ada!" Kataku dengan tegas. "Mas, tolong bawa mbak Yuni dari sini, Ayu nggak mau bicara sama mbak Yuni. Ayu nggak suka!" Kataku pada mas Yuda.
"Yu, tenang dulu," mbak Tika memelukku.
__ADS_1
"Aku nggak bermaksud apa-apa mas, aku hanya ingin membantu Ayu dan bayinya. Aku nggak mau mereka kenapa-kenapa. Kalaupun Ayu tak menginginkan bayi itu nggak apa-apa, aku siap merawatnya. Barangkali bayi itu adalah jawaban dari Allah untuk doa-doa kita." Mbak Yuni meneteskan air mata.
"Yun," mas Yuda bingung. Satu sisi ia tak tega padaku, di sisi lain ia juga iba pada istrinya. Mas Yuda tahu maksud baik istrinya.
"Apa salahnya kalau kita menjaga bayi itu. Ia nggak salah apa-apa. Ayahnya lah yang bersalah. Jadi jangan ikut menghukum bayi itu." tambah mbak Yuni.
"Sudahlah, kita bicarakan nanti." Mas Yuda membimbing tangan mbak Yuni keluar kamar diikuti oleh ayah. Meninggalkan aku berdua dengan mbak Tika.
"Ayu nggak mau anak ini," kataku, masih histeris seperti anak kecil meski sekarang bicaranya tak lagi berteriak.
"Lalu?" tanya mbak Tika.
"Mbak,"
"Yu, Allah memilih kamu untuk menjadi ibunya, pasti ada hikmahnya. Jangan diingkari itu. Jangan ikut-ikutan membuat dosa dengan mengingkari keberadaannya. Coba kamu bayangkan, bagaimana rasanya jadi dia, tapi tidak diharapkan kehadirannya. Jika ayahnya saja yang menolak, mungkin ia bisa tahan, tapi kalau ibunya ikut melakukan hal yang sama, apa ia tak akan sedih?"
"Tapi ... Ayu belum siap. Lagipula bagaimana dengan," aku tak sanggup melanjutkan. Lagi-lagi hanya bisa merutuki, kenapa harus aku? Karena kejadian itu aku malah jadi orang yang tak punya hati.
"Sudah. Kamu tenangkan diri dulu. Mbak Yuni nggak bermaksud apa-apa, ia hanya ingin membantu kamu agar kamu tidak sakit. Lain kali bicaralah dengan tenang. Kita di sini sama-sama terpukul, Yu. Tapi kita juga harus belajar ikhlas. Kalau semua kita rutuki, yang ada malah rugi. Pahala nggak dapat, tersiksa iya."
Andai semudah itu, akupun ingin tenang menghadapi semuanya. Tapi ....
Aku menggigit keras bibirku hingga terasa asin. Saat ini apalagi yang harus aku lakukan? Bagaimana caranya agar ikhlas sementara semuanya sudah berantakan.
Aku sadar belum menjadi manusia yang benar-benar baik, tapi selama ini, aku selalu berusaha untuk menjadi anak baik. Tak pernah sekalipun aku membantah ayah, sebisa mungkin aku selalu berupaya untuk berbakti kepada lelaki yang membesarkan aku setelah kepergian ibu. Kepada orang lain pun aku berusaha untuk selalu baik. Rasa-rasanya belum ada yang tersakiti oleh sikap maupun perkataan ku. Tapi kenapa Allah mengujiku sedemikian rupa yang aku sendiri tak yakin bisa menanggungnya.
Meski hidupku tak sempurna, tapi dengan apa yang aku sudah dapatkan sebelumnya sudah lebih dari cukup. Selalu menjadi juara kelas semenjak bangku Sekolah dasar hingga berhasil mendapatkan beasiswa di fakultas kedokteran universitas ternama di Jakarta.
__ADS_1
Tapi sayangnya, semua mimpi itu harus berakhir. Kini, aku dibangunkan paksa dengan kondisi yang amat memilukan. Aku yang selalu menjaga diri kini harus kehilangan mahkota yang amat berharga di usia muda ditambah ada seorang bayi yang hidup di rahimku. Semuda ini aku akan menjadi seorang ibu. Tiba-tiba sebuah senyuman tersungging di bibirku. Ibu? Menjadi ibu dari anak seorang lelaki yang sudah menghancurkan hidupku. Ini benar-benar mimpi buruk yang ku harap aku bisa segera terbangun darinya.