
Arum tak bisa menjawab pertanyaanku. Mulutnya seolah terkunci. Ia hanya memegang sebelah tanganku dengan ekspresi kalut.
"Sudah, lepaskan saya. Biar saya pulang sendiri saja. Lagipula siapa yang sudi dibonceng oleh pengkhianat!" kataku, tegas. Sambil menghentakkan tangan aku melepaskan diri dari pegangan mereka berdua. Namun, baru beberapa langkah, rasanya tubuhku teramat lemas, tiba-tiba aku tak sadarkan diri.
***
Bau obat. Begitu kedua mata ini terbuka, tampaklah wajah Arum dan lelaki itu. Ya, Juan. Ia berada di sampingku dengan wajah khawatir.
"Kamu sudah bangun?" Tanyanya, ketika hendak menyentuhku, tangan itu langsung kutepis.
"Dimana ini?" tanyaku, dengan sinis.
"Yu ... kamu," Arum tampak ragu.
"Ini dimana?" tanyaku lagi. Kali ini dengan nada lebih tinggi meski sebenarnya lelah juga harus bicara. Tubuhku rasanya masih terlalu lemah, juga rasa aneh yang tiba-tiba muncul, semacam muak. Ya, aku merasa ingin muntah. "Aku mau mun ...." belum sempat aku mengatakan, tiba-tiba saja aku langsung muntah dan dengan sigap Juan menampung dengan kedua tangannya.
Meski tak ada yang keluar, hanya sedikit air, tapi rasanya tak enak juga jika harus dimuntahkan ke tangannya. Sayangnya, karena sudah terlanjur membenci, aku tak bisa mengatakan maaf sebab sudah muntah di tangannya.
"Kamu nggak apa-apa?" tanyanya.
"Iiihh, jangan pegang-pegang!" Kataku, sembari menepis tangannya yang hendak menyentuhku lagi. Kenapa sih dia tak bisa juga mengerti kalau aku sangat membencinya. "Bagaimana mungkin aku tidak apa-apa. Kamu lihat kan kalau aku sedang tidak sehat, buktinya aku pingsan dan juga muntah!" kataku.
"Yu," panggil Arum. Ia tampak pucat.
"Kenapa?" Aku masih bicara dengan nada sinis sebab masih marah padanya. Siapa yang tak sakit hati jika tiba-tiba saudara sendiri malah mendukung orang yang paling kita benci. "Ini di rumah sakit, kan?" aku memastikan bahwa ini adalah UGD rumah sakit. "Kenapa bawa aku ke rumah sakit sih Rum? Aku nggak apa-apa, hanya pusing. Sekarang aku mau pulang!"
__ADS_1
"Yu ...." Arum kembali memanggil.
"Kenapa sih?" aku sudah hilang sabar, jengkel juga dipanggil tapi didiamkan. Entah apa yang ingin dikatakannya.
"Yu," panggil Arum lagi, tapi kali ini ia menangis.
"Kenapa sih? Kalau mau ngomong ya ngomong, jangan membuat aku bingung!" Kataku.
"Kamu hamil," katanya, dengan suara pelan nyaris tak terdengar. Namun di telingaku seperti petir menyambar.
Hamil? Aku hamil? Apa maksudnya? Ini lelucon saja, kan? Ini tidak mungkin. Aku langsung tertawa, menyangkal apa yang dikatakan Arum. Aku tak mungkin hamil, aku belum menikah, usiaku baru akan memasuki delapan belas tahun empat bulan mendatang. Aku juga baru akan lulus SMA, baru diterima di perguruan tinggi negeri, lalu bagaimana mungkin ia mengatakan aku hamil.
"Jangan bercanda kamu!" kataku, semakin geram dengan informasi Arum barusan.
"Bohong!" aku membentaknya. "Tega kamu, Rum. Kenapa kamu bicara seperti itu. Apa dia yang menyuruh?" aku menunjuk wajah Juan yang menunduk. "Laki-laki ini memang jahat. Apa sih maunya kamu? Kenapa kamu menghancurkan hidupku? Apa salahku? Kenal juga tidak, tapi kenapa aku yang kamu perlakukan seperti ini?" kini aku memarahi Juan. "Aaaaaaaa!" aku berteriak keras, rasanya kepalaku ingin pecah.
"Yu, tenanglah dulu. Apa yang aku katakan tadi memang benar, kamu tengah hamil, dokter yang mengatakan tadi. Makanya kamu mual dan lemas itu efek dari kehamilan kamu." jelas Arum.
"Aaaaaaaaa," aku kembali berteriak, kali ini cukup keras hingga perawat masuk ke tempatku.
"Ada apa ya?" Tanya seorang perawat yang datang duluan.
"Bu ... katakan, tolong katakan kalau saya tidak hamil. Apa yang dikatakannya tidak benar, kan?" Tanyaku, dengan berlinang air mata.
Dua orang perawat yang datang itu tak menjawab pertanyaanku. Mereka pun ikut mengunci mulutnya hingga membuatku semakin histeris. Aku tak tahu harus melakukan apa, tak pernah terpikirkan sebelumnya akan hamil di usia muda dan di luar nikah.
__ADS_1
"Pergi ... pergi kamu. Sekarang kamu puas kan sudah menghancurkan hidupku? Aku sudah tak punya harapan lagi. Kenapa tidak sekalian kamu bunuh saja saya, hah!" Kini giliran ku yang menarik bajunya, berharap ia menghabisi nyawaku saja. Aku sudah tidak sanggup lagi menanggung ini semua.
"Ayu?" Tiba-tiba muncul Ayah, mas Yuda dan mbak Tika. Rupanya Arum yang menghubungi nya.
Melihat wajah mereka bertiga membuatku semakin rapuh. Aku tak bisa membayangkan bagaimana hancurnya mereka jika tahu apa yang terjadi padaku. Putrinya jadi korban perko**** saja sudah membuat Ayah hancur-hancuran. Sekarang ditambah aku hamil.
"Yu, kamu nggak apa-apa?" Mbak Tika menghampiriku pertama kali.
"Kamu?" ayah dan mas Yuda langsung marah melihat sosok Juan. "Sedang apa kamu di sini? Apa belum puas kamu menyakiti putri saya? Sekarang apalagi yang ingin kamu lakukan padanya?" Ayah dan Juan nyaris ribut, tapi terhenti ketika Arum tiba-tiba mengatakan bahwa aku hamil. Semua orang langsung terdiam.
"Hamil?" ayah langsung terduduk lemas, begitu juga dengan mas Yuda. Sementara mbak Tika langsung memelukku erat. Kami berdua saling menangis. "Ya Allah, dosa yang mana yang membuat kami harus menanggung ini semua? Kami memang banyak dosa, tapi rasanya tak sanggup menanggung beban seberat ini." bapak menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Memang kamu penjahat!" Mas Yuda langsung meninju Juan hingga ia tersungkur menghantam kasur yang lain. Kehebohan langsung terjadi. Pak satpam cepat-cepat datang untuk melerai. Juan di bawa pergi, meninggalkan kami sekeluarga ditambah Arum di sini.
"Sebaiknya kita pulang saja dulu," kata mas Yuda. "Aku akan membayar biaya administrasi dulu." mas Juan kelaur sebentar, menyelesaikan administrasi, lalu kembali lagi.
Kami pulang naik tiga motor. Ayah dibonceng mbak Tika, aku dibonceng mas Yuda, sementara Arum naik motor sendiri. Ia mengikuti dari belakang.
Aku harus bagaimana? Apakah ini artinya hidupku benar-benar sudah tamat? Hati dan pikiranku benar-benar resah, bingung membayangkan semua ini. Aku benar-benar tak siap menghadapi ini semua.
***
Sampai di rumah, mbak Yuni menyambut kepulangan kami. Ayah, mas Yuda dan mbak Tika akan mengintrogasi Arum, sementara aku disuruh beristirahat karena aku masih lemah dan wajahku sangat pucat. Ia langsung membimbing menuju kamar, membuatkan segelas teh hangat yang aromanya langsung membuat perutku mual, padahal teh adalah minuman favoritku. Untung saja mbak Yuni sigap, ia sudah menyediakan kantong plastik untuk menadah muntahku.
"Sudah? Kalau begitu istirahat dulu ya." sebelum keluar dari kamar, mbak Yuni membalur perut dan kakiku dengan minyak kayu putih. Ia juga memijit kakiku, laku menyiapkan beberapa kantong untuk persiapan nantinya. "Kamu tidur saja dulu, Yu. Kalau ada apa-apa panggil mbak ya." katanya.
__ADS_1