Hipotesis Cinta

Hipotesis Cinta
Eps 10


__ADS_3

Keesokan harinya di kampus, Keysya memulai pembicaraan. “Materi yang susah untuk kalian bertiga saja, kalian kan pintar. Aku dan Ainur ambil materi yang simplenya.”


“Okay, kalau begitu kamu bahas variabel dependen dan variabel independen. Ainur bahas types of experimental designs. Kalau kamu mau bahas materi yang mana?”


“Terserah,” ucap Ilham dengan menahan tawanya.


“Kok terserah sih Ham? Kamu maunya materi yang panjang atau yang pendek saja seperti Keysya dan Ainur?


“Materi yang banyak, tinggi, dan disenangi mahasiswi genit.”


Balasan Ilham terdengar agak aneh dan menohok.


“Maksud kamu materi yang panjang kan? Okay, kalau begitu kamu bahas kode etik dalam penelitian experimental. Ismi bahas rancangan sebelum melakukan eksperimen. Aku bahas karakteristik experimental design. Deal kan guys?” tanya Aisyah dengan nada santai.


Meski sangat benci pada Ilham dan Keysya, ia tetap bersikap profesional di hadapan teman kelompoknya.


“Yup, deal. Sudah fixed kan? Aku lapar,” ujar Ilham.


“Iya, sudah.”


Mendengar balasan Aisyah, Ilham langsung pulang tanpa berkata apa-apa lagi. Ia pulang bersama dengan Keysya dan Ainur.


Kini hanya Aisyah dan Ismi di taman kampus. “Ilham kenapa ya Is? Kayak ngeledekin gitu?”


“Sebelum kamu datang tadi, Ilham cerita. Katanya kamu ke nikahan kakak sepupunya with pak Dhiaz. Dia juga bilang kamu sugar babynya pak Dhiaz.”


“Astaghfirullah, aku kan asistennya pak Dhiaz dan dia tahu itu. Kenapa harus pakai acara fitnah segala sih?”


“Hey, kamu tuh asisten dosen Ai bukan asisten pribadi. Nikahan loh ini, masa’ iya ke acara nikahan kamu juga diajak. Padahal tidak ada kaitannya sama sekali dengan aktivitas kampus. Wajarlah kalau Ilham berpikir yang tidak-tidak ke kamu dan pak Dhiaz.”


“Duhhh, so what should I do Is?” Aisyah benar-benar khawatir kalau sampai Ilham menceritakan kejadian kemarin ke mahasiswa yang lain.

__ADS_1


“Kamu harus jaga jarak dari pak Dhiaz.”


Aisyah bermonolog dalam hati. “Bagaimana mau jaga jarak, pak Dhiaz tiap saat menelepon.”


“Okay, I’ll try. Ma kasih ya sarannya,” lanjutnya.


Mereka berdua akhirnya memutuskan untuk pulang juga. Mereka mulai melangkah ke jalan trans, untuk menunggui angkot lewat. Tak lama menunggu, sudah ada angkot.


Sesampainya di rumah, Aisyah mengadukan satire Ilham di kampus tadi ke pak Dhiaz via pesan WhatsApp.


Setelah lama menunggu, tak urung jua ada balasan dari pak Dhiaz. Aisyah jadi kecewa, ia sampai melabeli pak Dhiaz sebagai sosok yang tidak bertanggung jawab.


Tapi keesokan harinya di dalam kelas, hipotesisnya pada pak Dhiaz berubah seketika.


“I have seen schedule penelitian yang kalian kirim di grup Matkul Research. I am really disappointed melihat tugas kalian sama persis dengan punya Aisyah. Agar tidak terulang, I have decided untuk mengganti rulesnya. Mulai sekarang tugas tidak dikirim lagi di grup, tapi ke ketua tingkat. Nanti biar dia yang kasih ke aku. Now, silakan duduk berdasarkan kelompok masing-masing. Hari ini kita mulai diskusi, untuk grup pertama silakan memaparkan materinya.”


Penampilan dari kelompok satu dimulai dari Keysya, ia menjelaskan tentang variabel dependen dan variabel independen.


Dilanjutkan oleh Ismi, membahas materi rancangan sebelum melakukan eksperimen.


“Yang paling menarik di karakteristik ini adalah poin ketiga, manipulating treatment conditions. Manipulasi memang sengaja dilakukan dalam penelitian eksperimen. Tujuannya adalah untuk menciptakan kondisi ke partisipan supaya perilakunya berubah sesuai dengan harapan peneliti. Contoh, kalau peneliti meminta partisipan menjelaskan sesuatu secara langsung gagal membuat siswa bicara. Maka peneliti harus memanipulasi dengan menggunakan metode lain agar tujuannya tercapai. Seperti memperlihatkan gambar, maka dengan begitu partisipan akan terbantu untuk bicara.”


Ucapan Aisyah berhasil menusuk kalbu kedua sahabatnya itu. Sakit yang mereka berdua rasakan tidaklah setimpal dengan yang Aisyah rasa.


Dibohongi oleh sahabat sendiri itu . . . rasanya seperti menikmati permen nano nano yang kombinasi rasa manisnya sudah dihilangkan.


Materi kembali dilanjutkan oleh Ainur, ia membahas types of experimental designs. Dan yang terakhir Ilham. Ia menjelaskan tentang kode etik dalam penelitian. Hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh peneliti.


Diskusi antar kelompok pun berlangsung. Saling melempar pertanyaan, jawaban, juga sanggahan.


Berakhir dengan nilai memuaskan yang pak Dhiaz kasih ke anggota kelompok Aisyah. Karena mereka berhasil menjawab pertanyaan bahkan sanggahan dari kelompok lain.

__ADS_1


“Jadi benar ya kata Ilham. Jangan pernah melanggar kode etik, terutama di bagian empiris. Tidak hanya dalam meneliti, bahkan empiris ini juga harusnya diterapkan ya dalam kehidupan sehari-hari. Membuat interpretasi itu berdasarkan fakta. Jangan coba-coba menginterpretasikan sesuatu yang masih tabu.”


Tatapan penuh makna pak Dhiaz berikan pada Ilham. Seolah memintanya untuk tidak membeberkan momen saat ia ke acara nikahan bersama Aisyah.


Ucapan dan tatapan pak Dhiaz membuat Ilham semakin kesal saja pada Aisyah. Ia murka karena pasti Aisyahlah yang membeberkan tentang yang terjadi di nikahan Dirga.


Tidak mungkin Ismi yang melakukannya, karena ia bukan siapa-siapanya pak Dhiaz.


Selesainya kelas itu, pak Dhiaz langsung ke ruangannya. Aisyah juga langsung pulang. Tapi Ilham mengejarnya.


“Maksud kamu apa cerita ke pak Dhiaz?” tanya Ilham yang tengah tersulut emosi.


Aisyah tidak menghiraukannya, ia terus berjalan. Tapi Ilham juga tak patah aral, ia menarik tangan Aisyah dengan kasar.


“Kamu dengar kan aku bicara?” bentaknya.


“Lepaskan dulu tanganmu!” bentak Aisyah balik.


Ilham melepaskan genggamannya. “Jelaskan sekarang juga maksud kamu apa cerita semuanya ke pak Dhiaz?”


“Karena kamu memfitnah kami Ham. Padahal kamu sudah tahu fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan. Tapi kamu masih tega memfitnah orang lain. Bahkan dosenmu sendiri.”


“Kamu benar Aisyah, fitnah lebih kejam dari pembunuhan. Kalau begitu, kamu kubunuh saja. Seperti katamu, pembunuhan tidak lebih kejam dari fitnah.”


“Astaghfirullah, kamu benar-benar psikopat Ham.”


“Sok alim,” balas Ilham dengan mendaratkan telapak tangan kanannya ke pipi kanan Aisyah.


Beruntung pak Dhiaz yang sedari tadi membuntuti mereka dengan sigap menahan tangan Ilham. Karena tindakannya, pipi Aisyah selamat dari tamparan Ilham.


“Lelaki sejati tidak akan bertindak seperti kamu. Hanya lelaki lemah yang berani bertindak kasar pada wanita,” ledek pak Dhiaz.

__ADS_1


Teramat malu, Ilham segera berpaling dari hadapan pak Dhiaz.


Kasih dukungannya ya kakak, biar author lebih semangat nulis. Semoga terhibur...


__ADS_2