
Keesokan harinya, di bawah sinar mentari yang begitu terik. Aisyah berdiri di tepi jalan raya. Menanti angkutan umum lewat, karena ia akan ke kampus.
Tiba-tiba, sebuah mobil berhenti tepat di hadapannya. “Masuk!” ucap si pengemudi yang ternyata adalah pak Dhiaz.
Aisyah menggigit kuku jari telunjuknya. Haruskah ia naik? Ke kampus berdua dengan pak Dhiaz?
“Jangan kelamaan berpikir! Jam segini sopir angkot pada ngaso. Kamu bisa terlambat masuk kelas kalau menunggu mereka.”
Memang sedari tadi Aisyah menunggu angkot lewat. Tapi tak satu pun dijumpainya. Sementara lima belas menit lagi kelasnya dimulai. Aisyah kini membuka pintu mobil pak Dhiaz. Ia duduk di jok tengah.
“Ada kegiatan apa besok?” tanya pak Dhiaz tanpa memalingkan pandangannya.
“Emmm, ada apa yah sir? Sudah ada tugas untukku?”
“Iya, ada tugas. Tapi tidak ada kaitannya dengan kampus. Temani aku ke suatu tempat sekitar jam sembilan pagi. Bisa kan?”
“I am so sorry sir, I can’t. Besok aku harus bantu mama jualan di rumah.”
Sebenarnya tanpa bantuan Aisyah pun, dagangan ibunya akan baik-baik saja. Karena sudah ada Wahdah yang bisa membantu ibunya. Itu hanyalah caranya untuk menghindari ajakan pak Dhiaz.
“Begini saja, jualan ibumu kuborong. Supaya besok kamu tidak usah menjual. So, you can accompany me.”
“Emmm, I forgot something sir. Besok aku harus temani Wahdah ke pasar. Sepatu sekolahnya sudah rusak sekali, tidak bisa dipakai lagi. Kalau ke pasarnya setelah jam sembilan ke atas, penjualnya sudah pada bubar.”
“Kalau pasarnya tutup, kan masih banyak toko yang lain. Kamu tenang saja, nanti aku antar ke toko sepatu terbaik di kota ini. Sekalian aku yang bayarkan.”
“Aduh, mau alasan apa lagi ya? Pak Dhiaz selalu saja punya solusi,” batin Aisyah.
“Sudah sampai, hubungi aku sepulang kuliah nanti ya. Masih ada hal penting yang harus kita lakukan.”
“Iya, terima kasih atas tumpangannya sir.” Senyum kecut menghiasi wajah Aisyah.
“Sama-sama,” ucap pak Dhiaz lalu berjalan ke ruangannya.
Hal penting yang harus dilakukan sepulang kuliah? Ucapan pak Dhiaz itu terngiang-ngiang di pikiran Aisyah. Membuatnya jadi sulit konsentrasi saat belajar.
Entah hal konyol apa lagi yang akan pak Dhiaz perintahkan padanya. Semoga saja itu tidak sekonyol permintaan tadi.
Baru saja mau menghubungi pak Dhiaz, Aisyah sudah ditelepon duluan. “Aku sudah ada di parkiran. Kalau sudah selesai langsung ke sini saja,” ucapnya tanpa basa-basi.
“Iya sir, aku ke situ sekarang.”
Berurusan dengan pak Dhiaz ternyata sangat melelahkan. Rasanya ia diteror setiap saat.
Dengan muka lesu, Aisyah memasuki mobil pak Dhiaz. Entah kemana lagi pak Dhiaz akan membawanya. Kemana pun itu, saat ini Aisyah mengikut saja.
Aisyah tercengang, menyadari pak Dhiaz memarkirkan mobil di sebuah toko pakaian. Mereka lalu masuk ke dalamnya.
“Ambilkan gamis yang paling mahal mbak!” ucap pak Dhiaz pada penjaga butik.
__ADS_1
“Ini yang paling mahal, cantik sekali. Sangat cocok untuk istri bapak.”
“Kasih selusin, yang paling mahal ya. Bentuknya tolong jangan begini semua.”
Penjaga butik itu langsung mengindahkan ucapan pak Dhiaz. Tak lama, ia kembali dengan membawa sebelas gamis berbeda bentuk.
Penjaga toko tadi langsung meminta kasir untuk menghitungnya.
“Sayang istri ya pak. Rasulullah juga suka memberikan hadiah ke istrinya,” ucap kasir yang sedari tadi juga memperhatikan pak Dhiaz dan Aisyah.
Setelah itu, sang kasir menyebutkan total harga yang harus dibayar pak Dhiaz. Segera pak Dhiaz membayarnya.
“Terima kasih sudah berkunjung di butik kami. Semoga rezeki bapak dan ibu selalu bertambah. Rumah tangganya senantiasa sakinah, mawaddah, dan warahmah. Aamiin.”
“Sama-sama mbak.” Dengan langkah cepat, pak Dhiaz dan Aisyah melangkah keluar dari butik itu.
Pak Dhiaz kembali melajukan mobil. Kali ini, ia berhenti di depan toko sepatu. “Kenapa tidak keluar?” tanya pak Dhiaz pada Aisyah.
“Beli sepatu sendiri saja sir, nanti kita dikira suami istri lagi. Maluuuuu.”
“Bagaimana caranya? I do not know size kaki adek kamu berapa. Daripada menunda sampai besok, lebih baik kita belikan sekarang.”
Sepatu Wahdah sebenarnya masih sangat bagus. Tapi tidak mungkin Aisyah mengatakan yang sebenarnya ke pak Dhiaz. “I also do not know size kakinya Wahdah berapa.”
“Kalau begitu besok saja kita belinya. Sekalian bawa adek kamu, biar gampang memilihnya.”
Aisyah jadi merasa bersalah ke pak Dhiaz. Ia berharap, besok pak Dhiaz sudah lupa perkara sepatu untuk Wahdah itu.
“Astaghfirullah, I forgot it sir.”
“Tunggu apa lagi? Kamu kan sudah ingat,” ujar pak Dhiaz pada Aisyah yang tidak segera mengoperasikan gawainya.
Sebenarnya Aisyah bermaksud untuk melakukannya di rumah saja. Tapi pak Dhiaz sudah menuntut. Jadi dia segera mengaktifkan data selulernya.
Langsung saja ia berselancar di aplikasi ungu itu. Ia kemudian memeriksa notif di aktivitas. Nama ig pak Dhiaz sedang mengikutinya tertera di situ.
Saat Aisyah ingin follback pak Dhiaz, ia dibuat terkejut oleh foto profil pak Dhiaz. Pikirannya jadi lari kemana-mana karenanya.
Aisyah termangu, mendapati profil instagram pak Dhiaz adalah fotonya yang tadi.
“Kenapa pakai fotoku sir?” tanya Aisyah gugup. Jangan sampai pak Dhiaz tersinggung karena pertanyaannya.
“Sengaja, biar keluargaku percaya kalau kita benar-benar sedang menjalin hubungan. Kenapa tanyakan itu, kamu tidak suka?”
“Suka kok sir,” jawab Aisyah dengan senyum kecut di parasnya.
“Bagus lah kalau kamu suka. Tapi meskipun kamu tidak suka, aku tetap akan melakukannya.”
Aisyah mendongkol dalam hati. “Ternyata benar kata orang. Pak Dhiaz memang dosen killer,” batinnya.
__ADS_1
Aisyah kembali speechless, saat memperhatikan Instagram pak Dhiaz ternyata centang biru. Padahal postingannya sedikit sekali. Yang difollow juga hanya segelintir orang.
Hal itu menyadarkan Aisyah, bahwa lelaki yang selama ini biasa-biasa saja di matanya ternyata idola banyak orang.
Pak Dhiaz lalu mengantar Aisyah pulang. Tak lupa, rute ke rumah Aisyah juga ia hafalkan. Supaya besok tidak tersesat saat menjemput asistennya itu.
Sebenarnya pak Dhiaz sudah hafal lorong
masuk ke rumah Aisyah. Tapi saat memasuki lorong itu, ternyata ada banyak kompleks di dalam.
Sesekali ia bertanya pada Aisyah, dengan pandangan yang tetap fokus ke depan. Mereka kini tiba di depan rumah Aisyah.
Sebuah rumah sederhana, berukuran sedang. Di depan rumah itu terdapat warung yang juga sederhana.
“Ambil bajunya,” perintah pak Dhiaz pada Aisyah yang bersiap untuk keluar dari mobil.
Aisyah mengambil satu helai baju. “Semuanya,” pinta pak Dhiaz.
“Hah? Semuanya? Apa tidak kebanyakan sir?”
“No. Baju-baju ini kamu pakai saat menemani aku ke acara lainnya.”
Muka Aisyah seketika cemberut mendengar balasan pak Dhiaz.
Aisyah lalu mengambil semua baju yang dibelikan pak Dhiaz tadi.
“Ini jadi asisten dosen atau asisten pribadi sih? Masa iya ke acara akikahan saja aku harus ikut. Masih mending kalau acara-acara selanjutnya itu acara kampus.” Aisyah membatin kesal sekali.
Setelah mengucapkan terima kasih, pak Dhiaz kembali ke rumah. Sementara Aisyah, ia memasuki rumah dengan menenteng banyak baju.
“Tumben anak gadis mama pulang lambat,” tegur bu Arni pada putri keduanya itu.
“Maaf ma, habis bantu dosen belanja. Jadi pulang agak lambat.”
“Itu kamu bawa apa sih?” tunjuk bu Arni pada tas besar yang baru saja diletakkan Aisyah di atas meja.
“Gamis, dikasih pak Dhiaz.” Aisyah duduk sejenak, sebelum ke kamar mandi.
“Dosen yang angkat kamu jadi asisten itu kan?”
Bu Arni meletakkan novel Karena Terlambat Menikah yang baru saja dibacanya. Kemudian mendekati Aisyah.
“Iya ma.” Aisyah mengipas-ngipaskan tangannya saking panasnya.
“Cuman jadi asisten dosen kan? Mama tidak mau ya kamu jadi sugar baby.” Tatapan bu Arni begitu mengintimidasi putrinya.
“Bukan lah ma. Tidak mungkin anak mama yang cantik ini berbuat seperti itu.”
“Janji ya sayang, kamu tidak akan pernah berbuat yang macam-macam di luar.”
__ADS_1
“In Syaa Allah ma.” Aisyah memeluk ibunya yang semakin tua itu. Mereka kini saling berpelukan.